Bisnis Ritel Melambat, Warning Bagi Industri Perbankan

Oleh: Djony Edward

Persoalan melambatnya bisnis ritel tidak bisa dikatakan main-main, multiplier effect perlambatan bisnis ritel denyutnya sudah sampai ke sektor perbankan. Masih kah para otoritas mau menyebutnya hanya penurunan biasa?

Fenomena tutupnya sejumlah gerai bisnis ritel masih menyimpan rahasia. Seperti Lotus dan Debenhams, Ramayana, Matahari department store menutup beberapa gerai. Sebelumnya malah 7-Eleven telah menutup 166 gerainya di seluruh Indonesia pada 30 Juni 2017. Bahkan Indomart mengalami penurunan laba bersih 71,03% pada Juni 2017 menjadi Rp30,5 miliar. Sedangkan laba bersih Alfamart pada periode yang sama anjlok 16,38% menjadi Rp75,5 miliar.

Fenomena jatuhnya sejumlah bisnis peritel pakaian, termasuk peritel sembako, menggenapkan lesunya pembelian. Bahkan para pedagang di Tenabang dan Glodok, Mangga Besar, ikut mengeluh karena sepinya pembeli. Indofood dan Unilever juga melaporkan adanya penurunan penjualan sangat signifikan.

Belakangan diketahui kejatuhan bisnis ritel telah memberi sinyal yang buruk pula bagi industri perbankan. Perlambatan sektor perdagangan ritel ternyata telah berdampak langsung pada kenaikan kredit bermasalah bisnis ritel di perbankan pada 2017 dan diperkirakan berlanjut hingga 2018.

Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan sampai Agustus 2017, sektor perdagangan ritel eceran dan besar mencatat kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan—NPL) gross menjadi 4,42%. Kondisi ini lebih buruk dibandingkan kondisi NPL pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,33%.

Gambaran 2016 dan 2017 memang menunjukkan bahwa kredit bermasalah sektor ritel ini cukup tinggi, mendekati batas maksimum NPL yang diperkenankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 5%. Padahal pada 2015 NPL gross sektor ritel di perbankan masih di level 3,53%.

Tingginya NPL sektor ritel beriringan dengan pertumbuhan kredit di sektor ini sebesar 4.35% di level Rp844,02 triliun, lebih rendah dari rerata kredit industri yang pada Agustus 2017 tumbuh 8,26%. Padahal porsi kredit sektor perdagangan eceran dan besar mencapai 21% dari outstanding kredit.

Multiplier Effect

Secara umum sebenarnya bukan hanya industri ritel saja yang menurun, melainkan pertumbuhan kredit perbankan juga turun seiring dengan perlambatan ekonomi.

BI sendiri telah merevisi proyeksi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini menjadi 9%, lebih rendah dari prediksi awal sebesar 10% hingga 11%. Revisi dilakukan karena hingga semester pertama pertumbuhan kredit hanya menyentuh 3,1%.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengakui sepanjang Januari-Juli 2017, bank sentral cukup khawatir dengan pertumbuhan kredit yang relatif rendah. Menurut Agus, melambatnya penyaluran kredit oleh perbankan disebabkan meningkatnya NPL.

“Kredit bermasalah di awal tahun 2017 ada di 2,4%, naik ke 3%. Terus kita tahu bahwa relaksasi atau stimulus dari OJK tidak akan diteruskan, itu berpotensi kepada meningkatnya kredit bermasalah,” kata Agus di Kompleks Istana Kepresidenan beberapa waktu lalu.

Namun Agus memastikan kondisi tersebut tidaklah mengkawatirkan. Menurut dia, melambatnya pertumbuhan kredit bisa juga disebabkan dunia usaha yang masih ingin melihat bagaimana perkembangan harga komoditas.

Hanya saja terkait kenaikan NPL khusus industri ritel, dikhawatirkan dapat merambat ke NPL sektor lainnya yang terkait. Beberapa sektor yang berpotensi berimbas antara lain, sektor penyediaan akomodasi dan makanan minuman, hotel dan restoran. Selain itu kredit properti untuk kepemilikan ruko dan rukan, NPL sektor tersebut berpotensi naik pula.

Itu sebabnya, bank-bank yang memiliki kredit di sektor ritel harus berhati-hati karena rambatan kenaikan NPL seperti tak bisa dibendung. Hanya saja harus disadari perlambatan sektor ritel tersebut tidak serta merta membuat sektor perbankan anjlok, sebagaimana pernah terjadi pada penurunan sektor migas.

Kewaspadaan terhadap rambatan kenaikan NPL sektor ritel harus diperhatikan, karena sektor ritel tak sekadar melambat, tapi sudah tahap menutup toko. Untung saja pengalaman penurunan sektor migas dapat dijadikan pelajaran sebagaimana terjadi penurunan di sektor ritel.

Mestinya, perlambatan bisnis ritel yang berdampak pada kenaikan NPL sektor tersebut, tidak lebih menakutkan dibandingkan ketika terjadi kenaikan NPL sektor migas. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan agar perlambatannya tidak menjadi liar. (www.nusantara.news)

BERITA TERKAIT

Modal Asing Keluar, Utang Indonesia Melambat

    NERACA   Jakarta - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir Mei 2018 seiring arus dana…

Wika Bitumen Perkuat Bisnis Pengolahan Aspal - Gandeng Investor Asal Cina

NERACA Jakarta – Melengkapi bisnis di sektor konstruksi dan infrastruktur, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT…

Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi

NERACA Jakarta – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors' Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) menandatangani…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Masyarakat Antusias Ramaikan Pawai Obor Asian Games 2018

  Oleh : Rizki Aditya, Mahasiswa Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Pertandingan Asian Games menjadi acara yang dinantikan pada 18 Agustus…

Sang Menteri Terbaik Dunia dan Rezim Keuangan Global Ribawi

Oleh: Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya Pada Ahad, 11 Februari 2018, Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, memperoleh penghargaan…

Menakar Dampak Urbanisasi Terhadap Dinamika Perekonomian Nasional

Oleh: Muhammad Razi Rahman Sosiolog Spanyol dan anggota Institut Inovasi dan Teknologi Eropa, Manuel Castells, sudah sejak lama menyoroti bahwa…