Strategi dan Implementasi Serba Terukur

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Ada awal ada akhir; ada rencana ada kinerja; ada strategi ada eksekusi, beginilah kira-kira konsep manajemen berproses sebagai sebuah sistem. Pemahaman ini memberikan pembelajaran bahwa apa yang kita kerjakan, tidak ada yang bersifat never ending. Semua dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, kita harus bersepakat dengan beberapa ungkapan yang disampaikan sebagai pembuka tulisan ini.

Dalam manajemen, kita dituntut dan dituntun untuk bekerja secara sistemik dan serba terukur sejak awal pekerjaan dimulai hingga pada saat pekerjaan itu harus segera diakhiri. Dan semuanya harus secara kasat mata terlihat hasilnya, baik secara kuantitas maupun secara kualitas, selain juga tentu bermanfaat bagi kepentingan apapun.

Berpikir secara manajemen bukan hal baru, tapi dalam praktik manajemen tidak semuanya dapat disiplin, taat asas bekerja mengikuti prinsip-prinsip manajemen yang baik akibat dari lingkungan manajemen itu sendiri acapkali mengajarkan untuk bekerja secara tidak "disiplin" dan taat asas mengikuti kaidah-kaidah manajemen yang baik.

Acapkali pula kita terjebak pada stigma pikiran kekinian, misalnya out of the box, breaktrough dan sebagainya, sehingga menjadi gagal paham yang seakan kita dituntut dan dituntun untuk bekerja dengan cara menerabas norma dan aturan. Out of the box, breaktrough memang perlu untuk dilakukan karena lingkungan manajemen telah berevolusi mengalami perubahan. Namun apa yang kita lakukan tersebut tetap saja harus dilakukan dalam koridor manajemen agar kinerja manajemen menjadi semakin baik dan berkualitas output dan outcome-nya.

Terkait dengan itu, maka satu hal perlu disampaikan bahwa dengan demikian kita tidak dapat berpikir dadakan atau ujuk-ujuk ketika kita melaksanakan rencana pembangunan. Dalam satu rangkaian proses, sebuah rencana agar dapat dilaksanakan untuk dapat menghasilkan kinerja diperlukan strategi tertentu.

Dalam Sistem Perencanaan Nasional, Strategi didefinisikan sebagai langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Untuk menjadi kinerja, strategi harus dieksekusi dalam bentuk kebijakan dan program aksi yang targeted dan serba terukur.

Dalam konteks pembangunan industri nasional, Pemerintah telah menetapkan 11 strategi untuk mewujudkan visi dan misi menjadi negara industri maju pada tahun 2035. Berpegang pada 11 strategi tersebut, maka berarti bahwa kesebelasnya harus menghasilkan kinerja tertentu yang targeted dan terukur karena berkaitan dengan persoalan akuntabilitas publik. Sehingga diperlukan berbagai bentuk kebijakan dan tindakan yang bersifat eksekusi supaya kita bisa terbebas dari jebakan lingkaran setan dalam hal terkait dengan sistem perencanaan.

Tindakan eksekusi membutuhkan pengorganisasian yang efektif dan efisien. Pengorganisasian bukan soal kotak-kotak Tusi yang rigid dan sarat dengan arogansi kewenangan, tapi lebih tepat terkait dengan tindakan memobilisasi sumber daya di tingkat eksekusi.

BERITA TERKAIT

Manfaat Integrasi dan Pertukaran Data Perpajakan bagi DJP

Oleh: Aditya Wibisono, Kepala Seksi Kerja Sama dan Humas, Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Wajib Pajak Besar Saat ini Kanwil…

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Pradi Apresiasi Prestasi Kinerja ASN dan Warga Depok

Pradi Apresiasi Prestasi Kinerja ASN dan Warga Depok NERACA Depok - Pemerintah Kota Depok terus berupaya untuk meningkatkan apresiasi hasil…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…