Regulasi LCEV Diharapkan Dorong Kemajuan Industri Otomotif

Regulasi kendaraan rendah emisi (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) yang saat ini masih disiapkan oleh pemerintah diharapkan tidak sekadar membuat harga mobil jenis tersebut menjadi lebih terjangkau, melainkan ikut mendorong memajukan industri otomotif Tanah Air.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan tengah merampungkan regulasi LCEV untuk menetapkan sejumlah fasilitas, salah satunya adalah pemberian insentif fiskal.

"Intinya kami mendukung kebijakan pemerintah yang tujuannya membuat emisi menjadi lebih baik," kata Vice President Toyota Astra Motor, Henry Tanoto, seusai meresmikan Toyota Eco Gallery di SMA N 9 Surabaya, sebagaimana disalin dari laman Antara di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pemerintah Indonesia menargetkan bisa memproduksi 20 persen kendaraan listrik dari total produksi nasional pada 2025. Namun peralihan menuju mobil listrik itu tentu akan berdampak ke banyak sektor, antara lain industri otomotif dalam negeri dan rantai pasokan di dalamnya karena banyak perbedaan antara parts mobil listrik dengan mesin konvensional .

Henry Tanoto menjelaskan terdapat dua hal penting yang harus dilakukan menuju penerapan LCEV di Indonesia. Pertama adalah dilakukan secara bertahap mulai dari kendaraan hibdrida sebagai jembatan menuju era mobil listrik, dan yang kedua adalah harus memperhatikan industri otomotif dalam negeri. "Juga harus mendorong perubahan ke industri. Jangan sampai perubahan ini hanya untuk, misalnya impor," kata Henry Tanoto.

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) berharap kebijakan LCEV yang sedang disusun pemerintah mampu menciptakan harga mobil jenis tersebut agar lebih terjangkau di Indonesia. "Itu mobil mahal, kalau tidak ada subsidi tentunya harganya juga tidak akan kebeli," kata Direktur Pemasaran dan Penjualan MMKSI, Irwan Kuncoro, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, Irwan menyampaikan bahwa kebijakan yang mengatur tentang ketersediaan infrastruktur pengisian baterai untuk mobil listrik juga dibutuhkan. PT Nissan Motor Indonesia pun sudah memperkenalkan teknologi e-Note pada Nissan Note yang diharapkan bisa menjembatani peralihan mobil bermesin konvensional ke era mobil listrik. Mobil tersebut menggunakan mesin bensin kecil yang berperan sebagai genset yang mengisi daya pada baterai mobil sehingga tak membutuhkan pengisian daya di jalan.

Sebelumnya, pada awal pekan ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan tengah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dalam kaitan pemberian fasilitas insentif pada regulasi yang diperkirakan akan rampung pada akhir tahun ini.

Dengan adanya fasilitas insentif itu, maka kendaraan LCEV diharapkan memiliki harga yang kompetitif agar lebih diminati konsumen.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Sebut Industri Kreatif Bisa Jadi Kekuatan Baru

NERACA Jakarta –  Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan kerajinan tradisional daerah telah diwariskan oleh para sesepuh Indonesia yang telah menghasilkan…

Pengembangan Industri Asuransi Perlu Modal Kuat

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan upaya pengembangan industri asuransi di Indonesia agar sehat…

KPPU Dorong Pelaku Usaha Ciptakan Iklim Kondusif

KPPU Dorong Pelaku Usaha Ciptakan Iklim Kondusif  NERACA Solo - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendorong pelaku usaha menciptakan iklim…

BERITA LAINNYA DI OTOMOTIF

Komponen Baterai Produksi Tesla akan Disuplai dari Australia

Perusahaan Australia, Kidman Resources, mengumumkan pada hari ini akan menjadi pemasok komponen lithium untuk baterai mobil listrik Tesla. Kesepakatan itu…

Toyota, Hyundai, Ford Pimpin Kenaikan Penjualan Mobil di Eropa

Penjualan mobil di Eropa naik 9,6 persen pada April berkat kinerja positif Toyota, Hyundai dan Ford, serta didorong peningkatan jumlah…

Vietnam Habiskan Rp164,4 Triliun Untuk Impor Mobil

Vietnam telah mengimpor 528.200 mobil berstatus utuh (completely built-up/CBU) senilai 11,7 miliar dolar AS (sekira Rp164.4 triliun) selama 2011-2017. Departemen…