“Minyak” Mulai Ganggu Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta---Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hendaknya lebih mengutamakan kepentingan rakyat. Karena itu harusnya penggunaan anggaran difokuskan untuk menggerakan perekonomian dan pertumbuhan. "Prioritas pemerintah untuk penggunaan anggaran adalah bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi, “ kata Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendanaan dan Belanja Negara Kementerian Keuangan, Rofyanto Kurniawan di Jakarta,

Menurut Rofyanto, kebijakan pembatasan BBM bersubdisi juga tak lepas dari keinginan untuk mengurangi kemiskinan dan beban APBN yang berat. “Mengatasi masalah kemiskinan dan menjaga defisit anggaran dengan fokus tetap pada pembatasan pemakaian BBM," tambahnya

Lebih jauh Rofyanto mengaku pemerintah sebenarnya memiliki dana yang cukup untuk mengatasi kenaikan harga minyak hingga nilai 120 dolar AS per barel. “Pemerintah memiliki ketahanan anggaran yang cukup untuk meredam kenaikan harga minyak mentah karena perhitungan kami adalah setiap kenaikan 1 dolar AS maka memerlukan biaya Rp0,8 triliun," ujarnya

Asumsi harga minyak mentah yang ditetapkan pemerintah pada APBN 2012 adalah sebesar 90 dolar AS per barel, artinya menurut Rofyanto bila harga minyak mentah dunia mencapai 110 dolar AS per barel maka dibutuhkan Rp16 triliun dan bila harga naik hingga 120 dolar AS per barel dibutuhkan Rp30 triliun. “Pemerintah masih punya dana untuk menjaga APBN , tinggal apakah sekarang kita mau membiarkan anggaran membengkak karena pemberian subsidi untuk minyak?" ungkap Rofyanto.

Ditempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengklaim optimistis angka inflasi di Januari ini tidak setinggi bulan-bulan Januari lima tahun terakhir. BI optimistis inflasi di bulan pertama di 2012 ini akan bergerak di angka 0,6%-0,7%. "Inflasi Januari baisanya agak tinggi tetapi secara rata-rata lima tahun terakhir sekira 0,9%. Namun kelihatannya tahun ini enggak akan setinggi itu. (Prediksi BI) 0,6%-0,7% inflasi bulanan atau sebesar 3,5% (year on year)," ujarnya

Darmin yakin, bahwa cuaca sedikit buruk dan memicu kenaikan beberapa harga bahan makanan pokok, seperti beras. Kenaikannya tidak terlalu esktrem. "Kelihatannya musim panen kan sudah mulai dekat. Bahan pangan ada kenaikan sedikit tetapi tidak banyak," lanjut dia.

Adapun terkait dengan rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM subsidi maupun menaikkan harga BBM subsidi. Darmin masih optimistis bahwa inflasi akan bergerak di angka 5,2%-5,3%. Namun, Bank Sentral belum menghitung dengan jelas berapa inflasi akan kembali terkerek naik jika pemerintah juga menaikkan harga BBM subsidi. "(Kalau ada) pembatasan BBM subsidi kita melihat inflasi tahun ini 5,2%-5,3%. Mengenai kenaikan harga (BBM subsidi berdampak ke inflasi) itu tergantung naiknya berapa," tandas mantan dirjen pajak. **cahyo

BERITA TERKAIT

Punya 737 Gerai, SiCepat Ekspres Targetkan Kirim 1Juta Paket Perhari

    NERACA   Jakarta – PT SiCepat Ekspres Indonesia telah ingin terus menambah kapasitas gerai yang diakhir tahun 2019…

2020, PLN Fokus Listriki 78.000 Rumah di Papua

      NERACA   Jakarta – Jadi tugas besar bagi PT PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua untuk…

Kendalikan Impor, Pemerintah Dorong Pemanfaatan PLB E-Commerce

  NERACA   Jakarta - Untuk dapat mengendalikan maraknya peredaran produk-produk impor yang membanjiri Indonesia, pemerintah mendorong pengusaha importir dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Piko Hidro Disiapkan untuk Bantu Terangi Papua

      NERACA   Jakarta - Dibandingkan 32 provinsi lain yang ada di Indonesia, rasio elektrifikasi di Papua dan…

Tarif LRT akan Dibanderol Rp12 ribu

    NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengemukakan bahwa perkiraan tarif tiket kereta layang ringan…

Program PKH Dinilai Ubah Perilaku Hidup

    NERACA   Jakarta - Program Keluarga Harapan (PKH) berdasarkan survei independen MicroSave Colsulting Indonesia berdampak signifikan mengubah perilaku…