The Fed akan Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga

NERACA

Jakarta - Beberapa pejabat Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS memperkirakan bahwa bank sentral akan melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap, di tengah inflasi dan tingkat pengangguran rendah. "Saya pikir akan tepat untuk suku bunga naik secara bertahap selama beberapa tahun ke depan, karena posisi kebijakan kami masih sangat akomodatif daripada netral," kata Raphael Bostic, Presiden Federal Reserve Atlanta, seperti dilansir kantor berita Antara, kemarin.

Dia berpendapat bahwa lonjakan permintaan dapat mendorong ekonomi melampaui kapasitasnya yang berkelanjutan, karena ekonomi mendekati lapangan kerja penuh. "Ini akan menekan biaya tenaga kerja, ketika bisnis harus bersaing lebih agresif dengan semakin terbatasnya jumlah pekerja yang tersedia," kata pejabat The Fed yang akan memberikan suara pada komite pengaturan kebijakan Fed, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), tahun depan.

Dia memperkirakan ekonomi akan terus tumbuh "sedikit di atas dua persen" di masa mendatang, dan tingkat pengangguran akan tetap sekitar empat persen. Tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,1 persen pada Oktober, level terendah baru dalam 17 tahun terakhir, sementara indeks pengeluaran konsumsi pribadi, indikator inflasi yang disukai oleh the Fed, hanya naik 1,6 persen pada September, jauh dari target dua persen Fed.

Robert Kaplan, Presiden Federal Reserve Dallas, juga mengatakan pada Selasa (14/11) bahwa pasar tenaga kerja AS yang ketat meminta bank sentral untuk "dengan sabar, secara bertahap" memperketat kebijakan moneternya meskipun inflasi rendah terus berlanjut. Pejabat tersebut mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Financial Times bahwa dia "secara aktif mempertimbangkan" mendukung kenaikan suku bunga jangka pendek lainnya, dalam pertemuan bank sentral bulan depan.

Kaplan yang memberikan suara pada FOMC tahun ini memperingatkan, bahwa pasar kerja yang terlalu panas bisa menciptakan ketidakseimbangan dan ekses di pasar keuangan. Namun, ada pejabat Fed yang berpendapat bahwa bank sentral harus menjaga suku bunga pada level saat ini, mengingat rendahnya inflasi. "Tingkat kebijakan suku bunga saat ini tepat, mengingat data makroekonomi saat ini," kata Presiden Fed St. Louis James Bullard dalam sebuah forum pada Selasa (14/11).

Bullard mengulang kembali bahwa inflasi telah mengejutkan sisi negatif tahun ini dan bahwa "ekspektasi inflasi tetap di bawah tingkat yang secara historis sesuai dengan target inflasi FOMC." Dia mengesampingkan dampak pengetatan pasar tenaga kerja terhadap inflasi, dan mengatakan bahwa angka pengangguran yang rendah mungkin bukan sebuah indikator inflasi berarti lebih tinggi dari perkiraan. The Fed akan mengadakan pertemuan kebijakan pada 12-13 Desember. Para investor pasar sekarang secara luas memperkirakan bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan tersebut.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menjelaskan, kenaikan suku bunga The Fed sudah diperhitungkan oleh pelaku pasar, seperti sebagaimana dua kali kenaikan sebelumnya. Walhasil, dampaknya terhadap pelemahan nilai tukar negara emerging tidak besar. "Kalau toh ada pelemahan, maka BI akan tetap jaga agar pelemahan tersebut masih dalam batas sesuai dengan nilai fundamentalnya," kata Dody.

Dody mengatakan, risiko nilai tukar yang berasal dari tingginya utang luar negeri (ULN) swasta juga relatif terjaga. Sebab pengutang alias debitur korporasi non bank wajib telah memenuhi ketentuan rasio lindung nilai (hedging) selain memenuhi ketentuan rasio likuiditas dan minimal rating BB-. BI mencatat, posisi ULN swasta hingga akhir Agustus 2017 mencapai US$ 165,6 miliar, naik 0,1% year on year (YoY) dan naik tipis dari akhir bulan sebelumnya yang sebesar US$ 165,49 miliar. Secara keseluruhan, ULN Indonesia periode tersebut sebesar US$ 340,54 miliar, naik 4,71% yoy.

BERITA TERKAIT

BI Nilai Pelonggaran Bunga Masih Bisa Berlanjut

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia mengklaim pelonggaran suku bunga kredit perbankan masih dapat berlanjut di 2018, meskipun penurunan suku…

China Diprediksi Akan Lewati AS Sebagai Pasar Otomotif Terbesar

China diproyeksikan akan melewati Amerika Serikat (AS) sebagai pasar otomotif terbesar dunia pada 2022, menurut Chief Executive Officer Nissan Motor…

Mahasiswa Kritisi Rencana Kenaikan Tarif Listrik

    NERACA   Jakarta - Listrik salah satu energi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh wilayah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bikin Program Pendidikan, Bank Mandiri Gaet UGM

      NERACA   Jakarta - Bank Mandiri menjalin kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peningkatan kemampuan perbankan…

Genjot DPK, BTN Gelar Program “Super Untung Jaman Now”

      NERACA   Jakarta - Berhasil meraih pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 20,45% di atas rata-rata industri…

Waspada Bahaya “Jackpotting”

    NERACA   Jakarta - Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Center…