Sektor Manufaktur dan Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri

President Director Center for Banking Crisis

Kegagalan Indonesia menjadi negara maju karena sektor manufakturnya tidak berkembang dengan baik. Sektor manufaktur yang berkembang dengan baik memerlukan manajemen risiko yang diterapkan secara jitu. Keberhasilan Jepang, Taiwan dan Korea Selatan dalam menciptakan sektor manufaktur yang canggih tidak dapat dilepaskan dari penerapan manajemen risiko pada sektor tersebut dan juga sektor perbankan. Manajemen risiko yang diterapkan merupakan manajemen risiko yang melakukan koordinasi antara sistem perbankan dan sektor manufaktur itu sendiri. Jerman yang memiliki teknologi tinggi merupakan sokoguru dari sistem koordinasi ini.

Serangan (gangguan) terhadap koordinasi ini dapat dikategorikan dalam empat kategori utama : Pertama, Interruption dimana suatu aset dari suatu sistem diserang sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat dipakai oleh yang berwenang. Contohnya adalah perusakan/modifikasi terhadap piranti keras atau saluran jaringan. Kedua, Interception dimana suatu pihak yang tidak berwenang mendapatkan akses pada suatu aset. Pihak yang dimaksud bisa berupa lembaga, program, atau sistem yang lain. Contohnya adalah penyadapan terhadap data dalam suatu jaringan. Ketiga, Modification dimana suatu pihak yang tidak berwenang dapat melakukan perubahan terhadap suatu aset. Contohnya adalah perubahan nilai pada file data, modifikasi program sehingga berjalan dengan tidak semestinya, dan modifikasi pesan yang sedang ditransmisikan dalam jaringan. Keempat, Fabrication dimana suatu pihak yang tidak berwenang menyisipkan objek palsu ke dalam sistem. Contohnya adalah pengiriman pesan palsu kepada lembaga lain. Tugas utama koordinator adalah mengontrol strategi pembangunan industri dengan mempertimbangkan manajemen risiko.

Untuk itu koordinator harus menentukan topologi jaringan yang memiliki keunggulan sebagai berikut: Pertama, kerusakan pada satu saluran hanya akan memengaruhi jaringan pada saluran tersebut dan station yang terpaut. Kedua, tingkat keamanan harus tinggi. Ketiga, tahan terhadap lalu lintas jaringan yang sibuk. Keempat, penambahan dan pengurangan station dapat dilakukan dengan mudah. Kelima, akses Kontrol terpusat. Keenam, kemudahan deteksi dan isolasi kesalahan/kerusakan pengelolaan jaringan. Dengan keunggulan ini maka manajemen risiko sektor industri dapat terkoordinasi dengan manajemen resiko sektor perbankan secara simultan.

Dengan demikian harus dijamin metode ini menggunakan sebuah node jaringan yang akan mengirim data ke node tujuan pertama-tama akan memastikan bahwa jaringan sedang tidak dipakai untuk transfer dari dan oleh node lainnya. Jika pada tahap pengecekan ditemukan transmisi data lain dan terjadi tabrakan (collision), maka node tersebut diharuskan mengulang permohonan (request) pengiriman pada selang waktu berikutnya yang dilakukan secara acak (random), sehingga jaringan efektif bisa digunakan secara bergantian antara sektor industri dan perbankan.

Peran perbankan lainnya adalah menyediakan pembiayaan untuk koordinasi sektor ini. Di Jerman, Jepang dan Taiwan mereka menciptakan lembaga ini. Lembaga keuangan Uni Eropa untuk tujuan ini yang didirikan berdasarkan Traktat Roma (1957) untuk menyediakan pembiayaan bagi modal investasi selanjutnya guna pencapaian kebijakan Uni Eropa dalam pembangunan kawasan, jaringan transportasi "Trans Eropa", telekomunikasi dan energi, penelitian, pengembangan dan inovasi, peningkatan dan perlindungan lingkungan hidup, kesehatan dan pendidikan.

Bertolak belakang dengan nama yang digunakannya, BIE ini bukan merupakan bank investasi. Di luar Uni Eropa, BIE ini memberikan kontribusi bagi kebijakan kerjasama pembangunan Eropa sehubungan dengan syarat dan tata cara yang tertuang dalam berbagai perjanjian yang menghubungkan Uni Eropa dengan 130 negara di Pusat, Selatan, dan Timur Eropa, wilayah mediterania, Afrika, Asia, Amerika Latin, Karibia dan Pasifik. Gugus tugas dari lembaga pembiayaan ini adalah memberika kontribusi bagi integrasi, keseimbangan pembangunan dan ekonomi serta kesatuan sosial dari anggota Uni Eropa. Dan pada akhirnya akan terjadi pada pasar suatu peningkatan volume dana yang substansial pada kondisi yang menguntungkan ke arah proyek pembiayaan modal sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh Uni Eropa.

Di luar Uni Eropa BIE menjalankan komponen keuangan dari pelaksanaan perjanjian dari bantuan pembangunan Eropa dan kebijakan kerjasama Uni Eropa. Pemilik atau pemegang sahamnya adalah pemerintah negara, tetapi ada juga lembaga internasional dan organisasi lain yang menjadi pemegang saham. Beberapa lembaga keuangan internasional ternama dibentuk oleh beberapa negara. Sejumlah lembaga keuangan bilateral (dibuat oleh dua negara) secara teknis tergolong lembaga keuangan internasional.

Lembaga-lembaga keuangan internasional besar didirikan setelah Perang Dunia II untuk membantu rekonstruksi Eropa dan menetapkan mekanisme kerja sama internasional dalam pengelolaan sistem keuangan global. Untuk itu lembaga ini akan berjalan dengan model yang menggambarkan hubungan jangka pendek antara nilai tukar nominal suatu ekonomi, suku bunga, dan keluaran (sementara dalam model IS-LM yang dilihat hanya hubungan antara suku bunga dan keluaran).

Model Mundell–Fleming misalnya juga menunjukkan bahwa ekonomi tidak dapat mempertahankan nilai tukar tetap, pergerakan modal bebas, dan kebijakan moneter independen pada waktu yang sama. Model ini juga harus menjelaskan siklus permintaan dan penawaran di sebuah pasar yang para produsennya harus memutuskan jumlah barang yang diproduksi sebelum harganya diamati. Harga yang diharapkan produsen diduga didasarkan pada pengamatan harga-harga sebelumnya. Nicholas Kaldor menganalisis model ini pada tahun 1934 dan menciptakan istilah "teorema jaring laba-laba" (lihat Kaldor, 1938 dan Pashigian, 2008). Karena melibatkan beberapa kelembagaan dan model maka pendekatan lingkungan harus diutamakan.

Mengontrol kelembagaan membutuhkan sensor untuk mengukur orientasi kebijakan, aktuator untuk menerapkan torsi yang dibutuhkan untuk kembali mengorientasikan kelembagaan untuk kebijakan yang diinginkan, dan algoritma untuk perintah aktuator berdasarkan pengukuran sensor dari sikap saat ini dan spesifikasi kebijakan yang diinginkan. Bidang terintegrasi yang mempelajari kombinasi sensor, aktuator dan algoritma disebut "Guidance, Navigation and Control" yang dapat diaplikasikan dalam manajemen risiko yang mengkoordinasikan kebijakan industri dan perbankan!

BERITA TERKAIT

BEI dan OJK Perkuat Peran Sekuritas Non AB

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperkuat peran perusahaan sekuritas dengan status non-anggota bursa sehingga…

Strategi dan Implementasi Serba Terukur

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Ada awal ada akhir; ada rencana ada kinerja; ada strategi ada…

Ironis, Kelola Anggaran Daerah Belum Efektif dan Efisien - DANA TRANSFER DAERAH MENINGKAT

Jakarta – Sejak otonomi daerah digulirkan, kemandirian pemerintah daerah dalam mengelola anggaran daerah menjadi harapan besar bagi pemerintah pusat bisa…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewujudkan Bansos yang Berdaya dan Berguna

Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *) Dalam pidato Rancangan APBN (RAPBN) 2018, Presiden memaparkan perekonomian global…

Menengok Gerbang Perbatasan Indonesia Kini

  Oleh: Ardian Wiwaha, Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia Infrastruktur menjadi prioritas pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Tak hanya infrastruktur di kota…

Pentingnya Pendidikan Pancasila

Oleh: Angga Tri Wahyudi, Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Negeri Semarang Dewasa ini permasalahan yang pelik melanda Bangsa Indonesia tak ayal…