Tradisi

Warga Kampung Waekolong, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur penuh gembira.Warga dan Umat Stasi Mesi, Paroki Santo Agustinus Mok dengan pakaian adat songke dan kebaya menunggu di pintu gerbang kampung itu untuk menyambut Imam Baru, Pater Gabriel Akhir, SVD, yang sudah menerima Rahmat Imamat di Ledalero.Uskup penahbisan adalah Uskup Keuskupan Sorong, Papua Barat, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr.

Kegembiraan dan kebahagiaan atas rahmat itu disambut dengan berbagai ritual adat dari Suku Saghe. Hal pertama yang dilakukan tua-tua adat Suku Saghe bersama warga Desa Ranakolong adalah menyambut Imam Baru di pintu gerbang kampung itu dengan ritual "Kepok" dengan tuak adat yang sudah simpan didalam "Tawu".

Sebelum dilangsungkan "Kepok Sundung" atau sapaan penyambutan, tua adat yang sudah ditunjuk, Bernadus Jabur bersama tua-tua adat lainnya menyapa Imam Baru dengan sapaan bahasa adat Mbaen yang langsung dituturkan di pintu gerbang kampung itu.Selanjutnya, dua anak gadis, Lilis dan Kristina Nggose mengalungkan kain selendang songke juga memakai topi adat kain songke.

Ritual adat di pintu gerbang selesai, seterusnya Imam Baru dan rombongan diarak dengan tarian Ana Jara oleh kaum perempuan dari Desa Ranakolong. Pagar betis dilakukan oleh siswa dan siswi SDI Mesi dan SMPN Mesi bersama dengan siswa dan siswi SMK Negeri Betong Torok.Sungguh meriah ritual penyambutan karena semua orang penuh gembira atas rahmat yang diterima Imam tersebut.

Kepok di Pintu Masuk Rumah

Sebelum Imam Baru itu masuk di rumah orangtuanya untuk dilangsungkan berbagai ritual adat, terlebih dahulu tua-tua adat menerimanya di pintu masuk dengan "Kepok Sundung" yakni sapaan adat dalam ritual penyambutan. Sebuah Tawu yang berisi moke lokal sudah disediakan tua adat lainnya sebagai tanda penghargaan dan penghormatan kepada Imam Baru tersebut.

Penyambutan di pintu masuk rumah keluarga merupakan sebuah ritual dari Suku Saghe untuk menghormati dan menghargai Imam Baru atas rahmat Imamat yang diterimanya. Ribuan warga dan umat Stasi Mesi memadati keliling rumah orangtua imam baru itu sebagai tanda kegembiraan dan kebahagiaan atas rahmat mulia tersebut.

Setelah ritual Kepok Sundung selesai dilaksanakan, selanjutkan tua-tua adat berbaur dengan kaum perempuan dari Suku Saghe melangsungkan danding dengan melingkar di halaman rumah orangtua imam baru tersebut.Nyanyian-nyanyian adat dilantunkan oleh tua-tua adat bersama dengan kaum perempuan yang turut bergembira atas rahmat itu.

Tarian danding merupakan tarian persaudaraan, persatuan dari budaya orang Manggarai Timur untuk mensyukuri karya Tuhan dalam diri Imam baru dari kampung itu. Kegembiraan dan kebahagiaan ditandai dengan menari danding di halaman rumah orangtuanya bersama dengan Imam Baru dan rombongan yang hadir.

Sambil melantunkan nyanyian-nyanyiaan adat dengan dialek Kolor atau Mbaeng, juga hentakkan kaki kanan dan kiri secara bergantian seirama dengan nyanyian-nyanyian tersebut.Setelah tarian danding selesai, Imam Baru bersama rombongan masuk di dalam rumah untuk melangsungkan ritual "Kapung".

BERITA TERKAIT

Negeri Cerita Membangun Tradisi Yang Mulai Punah - Peringati Hari Anak Nasional

Keluarga adalah segalanya bagi masyarakat Indonesia. Maka tepatlah bila ada pepatah kata bilang harta yang paling indah adalah keluarga. Kesibukan…

Melihat Tradisi Ramadan di Kota Kudus

Salah satu yang khas pada bulan Ramadhan di Kota Kudus, Jawa Tengah, adalah tradisi dhandhangan yang konon sudah berlangsung sejak…

Memulai Tradisi Kepatuhan Setelah Pengampunan Pajak

Oleh: Calvin Basuki Berakhirnya program pengampunan pajak setelah berlangsung 9 bulan, Juli 2016 hingga Maret 2017, diharapkan mampu memulai tradisi…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Menjelajahi Pulau Paling Ujung Selatan Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote" Masih lekat dalam ingatan sepenggal lirik dari lagu iklan mie instan…

Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Pemulihan Kota Ambon terus dilakukan pasca konflik silam. Kini Ambon terus berlari untuk menobatkan diri sebagai "Kota Musik" dunia."Ambon manise",…

Parade Budaya Bahari di Wakatobi

Siang itu panas terik sinar matahari terasa menyengat kulit. Jam di tangan menunjukkan pukul 14.00 WITA. Saya pun mempercepat langkah…