BI Rate Berpotensi Terdorong

Inflasi "Mengancam"

Jumat, 27/01/2012

NERACA

Jakata— Suku bunga acuan Bank Indonesia, alias BI Rate terancam ikut terdongkak naik. Karena ada potensi kenaikkan inflasi pada 2012. Potensi tekanan inflasi ini disebabkan kenaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL). "Inflasi kita pada 2011 hanya sebesar 3,79%. Namun, jika inflasi pada tahun ini mencapai 5%, BI tidak perlu menaikkan BI Rate. Karena masih bisa ditahan," kata Chief Economist PT CIMB Niaga Tbk (BNLI) Winang Budoyo di Jakarta, Kamis (26/1)

Lebih jauh kata Winang, potensi kenaikan inflasi tersebut diakibatkan oleh adanya kebijakan dari pemrintah dalam negeri, yaitu kenaikan TDL sebesar 10% dan rencana pembatasan BBM bersubsidi pada April 2012 mendatang.

Di sisi lain, selain potensi kenaikan inflasi, winang juga mengingatkan adanya potensi sudden reverseal yang dapat terjadi pada tahun ini dikarenakan masih terjadinya krisis perekonomian di kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS).

"Oleh karena itu kita perlu menjaga momentum investment grade yang baru kita dapat ini. Jangan sampai, krisis perekonomian global yang saat ini sedang terjadi dapat menimbulkan sudden reverseal sehingga dapat mengguncang perekonomoian kita," imbuhnya.

BI sendiri mematok suku bungannya sekitar 6% guna menjaga stabilitas keuangan di tengah guncangan akibat krisis utang yang menghantam di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Kemarin, Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono mengatakan untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan dibawah angka inflasi, diperlukan pendalaman sistem keuangan melalui pengembangan produk dan jasa.

Menurut Hartadi, pendalaman tersebut bisa menjadi jawaban agar tingkat bunga acuan bisa berada dibawah angka inflasi. "Policy rate bisa di bawah inflasi apabila produk dan services (layanan) sistem keuangan sudah semakin maju. Secara bertahap, bila produk-produk keuangan semakin berkembang, maka policy rate bisa diturunkan mendekati inflasi atau bahkan di bawah infasi, tanpa mengganggu mobilisasi dana oleh bank," ujanya

Hartadi menilai, pendalaman sistem finansial akan membuka pilihan produk tabungan dan investasi sehingga masyarakat tidak terganggu bila suku bunga deposito menjadi lebih rendah dari inflasi, sebagaimana suku bunga giro dan tabungan. "Ini karena ada pilihan lain di pasar keuangan seperti reksadana, saham, dan obligasi yang memberikan keuntungan lebih besar daripada deposito," jelasnya.

Lebih lanjut Hartadi menambahkan hingga saat ini tingkat suku bunga acuan alias penerapan policy rate di atas tingkat inflasi dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sehingga tidak tergerus oleh inflasi. Dengan demikian, nominal rate dikurangi inflasi harus dijaga tetap positif, sehingga membuat masyarakat tetap mau menabung karena nilai uangnya tetap terjaga. "Berbagai langkah sedang kita siapkan, secara umum adalah upaya pendalaman sektor keuangan sehingga secara bertahap masyarakat tidak tergantung pada deposito. Langkah detailnya belum bisa saya kemukakan sekarang," pungkasnya. **cahyo