Indofair 2017 Dorong Kerja Sama IKM RI-Suriname - Pameran Terpadu

NERACA

Jakarta – Indonesia dan Suriname bersinergi dalam pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) melalui penyelenggaraan pameran terpadu Indofair 2017 yang digelar di Gedung Sana Budaya Complex, Paramaribo, Suriname. Selain sebagai sarana promosi produk-produk unggulan IKM, kegiatan ini juga berpeluang untuk memperluas pasar ekspor dan meningkatkan kerja sama ekonomi bilateral.

“Hubungan persahabatan antara Indonesia dan Suriname telah terjalin dengan kuat, mengingat latar belakang budaya yang sama, terutama dari Jawa. Hal ini perlu disyukuri karena masyarakat Jawa di Suriname masih berusaha untuk menjaga budayanya agar selalu dibawa sebagai warisan dan tradisi masyarakat setempat,” kata Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di sela menghadiri acara Indofair 2017, sebagaimana disalin dari siaran resmi, pekan lalu.

Menurut Gati, Indofair merupakan event tahunan yang digagas oleh KBRI Paramaribo dan Komunitas Masyarakat Jawa Suriname (Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie) sejak tahun 1996. Pameran ini juga telah menjadi tempat favorit kalangan masyarakat Suriname, khususnya keturunan Jawa untuk saling bertemu dan menikmati budaya Indonesia. “Tak hanya itu, masyarakat dari negara tetangga, French Guyana dan Guyana biasa menjadi pengunjung dalam pameran ini,” ujarnya.

Indofair 2017 akan diadakan selama lima hari, mulai tangal 1-5 November dengan diikuti sebanyak 65 stan, yang dibuka pada pukul 18.00-23.00 waktu Suriname. Pada Indofair tahun lalu, tercatat nilai dagang untuk setiap stan berkisar USD 700-1.500 per harinya.

Oleh karenanya, partisipasi para IKM di ajang ini dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baik di Indonesia maupun Suriname. Pada tahun 2015, ekspor terbesar Indonesia ke Suriname meliputi mesin, barang mekanik dan komponen lainnya yang mencapai USD1,9 juta dan diikuti oleh produk ikan dan krustasea USD1,2 juta.

Gati menyebutkan, tahun ini Indonesia mengirimkan beberapa perwakilan IKM lokal potensial untuk ikut serta, diantaranya CV. Yudhistira (menampilkan produk furnitur), CV. Fola Furniture (furnitur dan kerajinan tangan), Kayana Batik and Art (kerajinan dan batik), Nataya Batik (batik dan antik repro), Kelapa Budaya (kerajinan tangan kayu dan furnitur) serta beberapa produk makanan dan rempah-rempah untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia.

“Kami berharap partisipasi IKM dari Indonesia dapat memberikan nilai tambah di dalam acara ini. Demikian pula untuk IKM Indonesia, kegiatan ini bisa menjadi sarana untuk memperluas pasar dan produknya ke pasar internasional terutama Suriname,” paparnya.

Pada pembukaan Indofair 2017, turut mengundang Ibu Negara Suriname Ingrid Bouterse-Waldring, Menteri Perdagangan dan Industri Suriname Mohamed Faizel Noersalim, Menteri Tenaga Kerja Suriname Soewarto Moestadja, Duta Besar RI untuk Suriname Dominicus Supratikto serta Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam X.

Tak hanya menampilkan produk unggulan IKM Indonesia, kegiatan ini juga menyajikan pertunjukkan seni dan budaya serta kuliner khas Nusantara. Bahkan, diselenggarakan pula wokshop angklung dan tarian daerah. Pada tahun ini, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengirim delegasi untuk mempertunjukkan budaya yang bertajuk “Indonesian Night” yang tampil pada Selasa (2/11).

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian terus mendorong agar industri kecil dan menengah (IKM) nasional dapat memanfaatkan hasil penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan produk yang inovatif sesuai selera konsumen saat ini. Upaya ini diharapkan pula mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk IKM lokal dalam rangka memperluas pasar dan kompetitif di kancah global.

“Kemenperin memiliki beberapa Baristand dan Balai Besar di seluruh Indonesia, yang fokus mengembangkan potensi industri di wilayah tersebut. Lembaga litbang ini sangat diperlukan untuk menciptakan teknologi tepat guna, murah dan aplikatif bagi para IKM,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih pada Seminar Nasional Industri Kulit, Karet dan Plastik di Yogyakarta, Rabu (25/10).

Gati mencontohkan, Balai Besar Karet, Kulit, dan Plastik (BBKKP) Yogyakarta, telah menghasilkan beragam produk riset yang dapat diimplementasikan pada sektor IKM. Misalnya, karpet lantai mobil, ban vulkanisir, dan toe cap untuk sepatu pengaman. “Produk-produk ini semestinya bisa dikembangkan oleh IKM-IKM kita,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Hampir 50 Ribu Pelamar Kerja Mendaftar di BUMN

Hampir 50 Ribu Pelamar Kerja Mendaftar di BUMN NERACA Jakarta – Puluhan ribu atau tepatnya 49.629 pelamar kerja mendaftar di…

Kemenpar Dorong Industri Kreatif Lewat Kustomfest 2018

Hasil karya anak bangsa tersaji dalam Indonesian Kustom Kulture Festival (Kustomfest) 2018 resmi digelar Sabtu, (6/10). Sebanyak 155 motor dan…

Pameran Gaya Hidup Korea Bakal Digelar - Bidik Potensi Pasar Indonesia

NERACA Jakarta - Coex, perusahaan yang bergerak di bidang penyelengaraan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) akan menghadirkan pameran produk gaya…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

DPR Sebut Pasokan Kebutuhan Pokok Terjaga, Harga Stabil

NERACA Jakarta – Anggota DPR yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan harga kebutuhan pokok selama beberapa…

Niaga Internasional - Sektor Perikanan Dapat Ambil Peluang Perang Dagang AS-China

NERACA Jakarta – Pengamat perikanan Abdul Halim mengharapkan Indonesia dapat mengambil peluang dari sektor perikanan menyusul terimbasnya sektor perikanan China…

Harga Minyak Dunia Naik Karena Penurunan Ekspor Iran

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik sekitar satu persen pada akhir perdagangan kemarin di tengah semakin banyaknya bukti penurunan…