Dampak Narkoba

Sabtu, 28/01/2012

Dewasa ini, banyak orang yang mengonsumsi obat-obatan yang sebenarnya hanya digunakan di rumah sakit, seperti narkotika yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pasien pada saat operasi.

Untuk pemakaian ini, narkotika harus digunakan sesuai dengan dosis yang tepat dan di bawah pengawasan dokter. Namun, karena efeknya yang dianggap dapat membuat jiwa lebih tenang dan nyaman, ada upaya sebagian orang untuk menyalahgunakannya, yaitu menenangkan jiwa yang sedang kacau sehingga beban tersebut terasa hilang atau hanya sekedar dijadikan objek untuk bersenang-senang.

Padahal pemakaian obat-obatan tersebut menambah masalah baru bagi dirinya, terutama kesehatannya. Masalah tersebut akan timbul apabila si pemakai telah merasa ketagihan, yaitu dengan rusaknya alat tubuh terutama sistem saraf yang mengakibatkan menurunnya aktivitas normal otak, timbulnya penghayalan pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.

Efek lain dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah hilangnya kendali otot gerak, kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makan, terjadi kerusakan hati dan lambung, kerusakan alat respirasi, gemetar terus-menerus, terjadi kram perut dan bahkan mengakibatkan kematian.

Penyalahgunaan dalam pemakaian narkoba ini tidak hanya memberikan efek yang buruk bagi pemakainya, bahkan dapat membawa kerugian bagi masyarakat, seperti yang terjadi pada kecelakaan maut di Gambir minggu lalu. Mobil jenis minibus yang dikemudikan Afriyani Susanti, 29, menabrak belasan pejalan kaki yang merenggut 9 nyawa dan mengakibatkan lima orang luka-luka.

Psikolog Tika Bisono mengatakan, dampak penggunaan obat-obatan terlarang ini pasti memengaruhi kerja syaraf di otak. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan pada tubuh manusia yang memang berpusat pada otak akan ikut bermasalah dan terganggu

Namun, kerusakan saraf tersebut, tambahnya, terjadi bertahap. Oleh karena itu, tergantung lama pemakaian dan tingkat kecanduan pada obat-obatan terlarang ini. Jika baru mencoba, maka efeknya belum merusak. Namun jika berubah menjadi kecanduan, maka efeknya semakin parah dan kesadarannya akan menurun.

Menanggapi reaksi dari Afriyani Susanti yang sempat marah-marah seusai menabrak dan sikapnya yang tetap tenang selama diinterogasi oleh pihak yang berwajib, Tika mengindikasikan bahwa pusat kesadaran pelaku sudah terganggu. Akibatnya si pelaku menjadi antisosial dan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.

Jadi, ada semacam koneksi yang terputus antara dirinya dan dunia riil. Oleh karena itu, dia memandang semua kejadian dari perspektif dirinya saja. Jadi jika salah satu bagian saraf rusak maka yang lain juga ikut rusak. Bahkan kalau semakin menurun, maka bisa menjadi schizoprenic.