Membagi Manfaat Kepada Orang Lain

Ari Wibowo, Psi. Technical Director PT Phenomena Pratama

Sabtu, 28/01/2012

Bergabung di perusahaan ini baru dia lakoni sejak Juni 2011. Sebelumnya dia berkarir di WWF Indonesia hingga tahun 2008. Ada keinginan pribadinya untuk mencoba membuka usaha konsultan independen. Itu yang dilakukannya selepas keluar dari badan internasional tersebut. Sejalan dengan berlalunya waktu, Ari Wibowo dapat penawaran dari teman-teman kuliahnya dulu untuk mengembangkan perusahaan dimana saat ini ia bergabung.

Bergabungnya alumnus Fakultas Psikologi UI ini, lebih kepada penambahan produk serta peningkatan kualitas maupun pelayanannya. Sebelumnya masih dalam bentuk organisasi biro, yang kemudian dikembangkan menjadi perusahaan terbuka. Job desk yang dia lakukan, bagaimana mengembangkan program-program yang akan ditawarkan ke klien.

“Jawabannya cukup kompleks, kalau kita ditanya mengenai ‘sakitnya’ masyarakat kita. Secara sekilas, yang paling berpengaruh adalah informasi. Saat ini, sulit sekali mengontrol informasi yang keluar ke masyarakat. Sebagai contoh, masa lalu stasiun televisi cuma TVRI. Sehingga bisa terkontrol dengan baik. Internetpun belum ada. Praktis komunikasi antara anak dan orang tua cukup intens. Berbeda dengan sekarang ini, semuanya berbeda. Sehingga jika kita tidak menyaring informasi secara bijaksana, maka akan rusak anak kita. Pembimbing sendiri saat dulu hanya orang tua maupun guru di sekolah, sekarang mereka menjadi nomor sekian, “ ungkap ayah dua anak ini saat ditanya tentang kondisi kejiwaan masyarakat Indonesia.

Untuk itu, penyuka permainan airsofter ini mempunyai filsafat hidup biarkan semua mengalir seperti air. Selain itu, apa yang dilakukan harus bermanfaat kepada orang lain. Juga persoalan yang ada di depan mata, dihadapi saja dan selesaikan sebaik-baiknya. Ibarat kata seperti air, selalu bergerak kemanapun ada jalan. Namun, jika dikumpulkan di satu tempat maka akan ada kekuatan yang mendobrak keluar dan dampaknya lebih parah.

“Segala sesuatu kendala, pasti akan ada jalan keluarnya. Sebagai contoh ketika memutuskan berhenti bekerja dari lembaga tersebut, itu merupakan hal terbesar yang pernah diambil. Bisa dibayangkan yang sebelumnya dalam kondisi mapan, harus mulai dari nol. Namun, saya berfikir kalau saya tetap disana maka tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap orang lain. Jika saya punya usaha, maka banyak orang yang akan merasakan manfaatnya. Minimal saya bisa membagi share keuntungan kepada orang lain, dan ada kepuasan batin didalamnya saat bisa mengajak orang lain, “ujarnya tersenyum sambil mengakhiri wawancara.