Wisata Ritual Gunung Bromo

Sabtu, 28/01/2012

Neraca.Salah satu agenda wisata di Gunung Bromo adalah upacara Yadnya Kasada atau Kasodo yang digelar setahun sekali oleh masyarakat Tengger. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo.

Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Lokasi tempat wisata Bromo berpusat di di timur kota Malang, Jawa Timur bernamaTaman Nasional Bromo Tengger Semeru.Ditempat inilahwisatawan lokal dan wisatawan mancanegara kerap datang menikmati keindahan panorama Gunung Bromo.

Gunung Bromo berada pada ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut yang terletak pada empat wilayah kabupaten yang berbeda di Propinsi Jawa Timur yakni Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Topografi Gunung Bromo antara lembah dan ngarai serta memiliki lautan pasir yang disebut kaldera dengan luas sekira 10 kilometer persegi. Suhu di wilayah Gunung Bromo mencapai 10 derajat bahkan sampai 0 derajat Celsius saat menjelang pagi. Kata Bromo sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuno (Sansekerta), Brahma. Brahma dalam agama Hindu adalah salah satu Dewa Utama.

Obyek menarik lainnya bagi wisatawan adalah kawah Gunung Bromo yang memiliki garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Kawah tersebut sebagai bentuk bahwa Gunung Bromo adalah gunung berapi yang masih aktif. Daerah bahaya kawah berada pada lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Untuk dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga. Dari puncak anak tangga itu pula, pemandangan lautan pasir dengan pura di tengah-tengahnya merupakan panorama alam yang eksotik dan langka.

Untuk aksi vulkanik dan pemandangan yang menakjubkan, Gunung Bromo di Jawa Timur tidak punya lawan sepadan. Gunung setinggi 2329 m di atas permukaan laut ini selalu mengeluarkan asap belerang dan kadang tertutup kabut tebal. Hal yang membedakan erupsi Gunung Bromo dengan erupsi Gunung Merapi adalah Gunung Bromo bersifat freatik yakni semburan uap air dan gas bercampur abu halus, sementara Gunung Merapi bersifat eksplosif (letusan).

Keindahan pemandangan yang sangat layak untuk diabadikan. Sejak ditutup akhir tahun lalu akibat meningkatnya status gunung Bromo, kini lokasi wisata tersebut kembali dibuka dan menawarkan sesuatu jenis wisata yang berbeda yaitu wisata erupsi lautan pasir gunung bromo, dengan pemandangan utama kepulan asap yang keluar dari kawah gunung tersebut.