Pepsodent Peduli Kesehatan Gigi Masyarakat

Sabtu, 28/01/2012

Neraca. PT Unilever Indonesia tetap berupaya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, mewujudkan rasa nyaman bagi para penggunan produknya, dan memberikan manfaat untuk masyakarat. Perusahaan yang memberi inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan tindakan positif meski kecil disetiap harinya, diharapkan akan membuat perubahan besar bagi dunia yang senantiasa mengembangkan cara baru dalam berbisnis untuk tumbuh sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Sebagai perusahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial, Unilever menjalankan program Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang luas. Salah satu program yang baru-baru ini terlaksana adalah Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2011, hal ini sejalan dengan misi sosial Pepsodent sebagai salah satu Brand terbesar yang dimiliki oleh PT Unilever Indonesia.

Pepsodent yang mengusung “Senyum Sehat Senyum Indonesia” merupakan salah satu kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan dari Unilever. Kegiatan yang berkesinambungan ini bertujuan untuk memperbaiki kesehatan gigi masyarakat Indonesia. Banyak dari masyarakat yang berpatisipasi dalam program BKGN 2011 ini.

Penyelenggaraan BKGN tahun ini tak lepas dari kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia yang masih cukup memprihatinkan. Menurut data Riskesdas 2007, sebanyak 43,4% masyarakat Indonesia berusia 12 tahun ke atas mempunyai karies aktif (karies yang belum tertangani) dan 67,2% memiliki pengalaman karies (terdapat lebih dari 1 buah gigi yang mengalami kerusakan). Selain itu, kegiatan BKGN ini kembali dilaksanakan karena melihat adanya peningkatan signifikan anggota masyarakat yang mengunjungi RSGM di FKG pada BKGN 2010, tercatat sebanyak 19,584 masyarakat Indonesia yang telah berpartisipasi.

Selain berpartisipasi, para masyarakat yang juga turut memeriksakan giginya akan menuliskan namanya pada bola putih yang akan dimasukkan ke dalam celengan gigi raksasa. Kemudian pada akhir periode akan dihitung bola yang terkumpul, satu bola mewakili sejumlah 5 set pasta gigi dan sikat gigi untuk diberikan kepada anak-anak yang kurang mampu.

Seiring dengan masih belum terpenuhinya data mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia, mendorong Pepsodent dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) untuk kembali memberikan dana penelitian sebesar 750 juta rupiah kepada 14 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di 10 kota di Indonesia.

Data terkini mengenai masalah gigi dan mulut sangatlah penting, karena data tersebut akan dipergunakan untuk menyusun rencana strategis sebagai acuan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat.

Penyerahan dana tersebut dilaksanakan di Jakarta beberapa minggu yang lalu, dan diserahkan secara langsung kepada para Dekan di 14 FKG dan PDGI oleh Sancoyo Antarikso. 14 FKG yang dibantu adalah Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, Universitas Hang Tuah Surabaya, Universitas Mahasaraswati, Universitas Baiturrahmah, Universitas Jember, Universitas Airlangga, dan Universitas Sam Ratulangi.

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penandatanganan kesepakatan antara PT Unilever Indonesia, PDGI dan AFDOKGI sebagai bentuk komitmen kerja sama berkelanjutan yang disaksikan oleh Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR PH yang diwakili oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan dr. Bambang Giyatno MPH.

Tidak jarang ditemukannya permasalahan penghambat penelitian karena permaslahan pendanaan, hal ini yang mendorong Unilever melalui salah satu Brandnya mengajak pihak swasta dan institusi pendidikan untuk dapat menghadirkan ajang penelitian yang lengkap. Civitas akademika diharapkan lebih mudah untuk memperoleh sampel dan mengembangkan penelitiannya.

Unilever juga optimis bahwa dukungan kali ini dapat digunakan untuk merintis penelitian berbasis masyarakat di berbagai daerah, khususnya pada masyarakat yang jauh dari jangkauan. Relevansi data penelitian terhadap potret profil permasalahan gigi dan faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat semakin tinggi, sehingga data yang diperoleh dapat membantu mengidentifikasikan alternatif pemecahan masalah yang sesuai bagi masyarakat setempat. Hal ini juga diharapkan agar menjadi sumbangsih sebagai data pelengkap untuk dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah.

Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2011 yang di selenggarakan ini telah berhasil melayani hampir 40.000 orang di 17 kota di Indonesia. Data yang diperoleh sementara dari penyelenggaraan BKGN di 14 Fakultas Kedokteran Gigi memperlihatkan gigi berlubang masih menjadi masalah utama yang ada pada masyarakat Indonesia.