Kerugian Banjir di Lebak Capai Rp 69 MIliar

Ribuan Ha Sawah Gagal Panen

Kamis, 26/01/2012

Lebak - Bupati Lebak H Mulyadi Jayabaya mengatakan, kerugian akibat banjir yang melanda sepekan lalu di daerah itu mencapai Rp69 miliar, termasuk ribuan areal persawahan yang terancam gagal panen.

"Kami berharap Pemerintah Pusat dan Provinsi Banten dapat membantu perbaikan sarana infrastruktur yang kini kondisinya rusak berat akibat diterjang banjir," kata Mulyadi Jayabaya di hadapan Meteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini di Rangkasbitung, Selasa.

Bupati mengatakan, kerusakan sarana infrastruktur akibat banjir menimpa di 23 kecamatan dan 77 desa dan 9.287 kepala keluarga.

Banjir juga merendamkan sebanyak 8.439 rumah dan sawah 3.383 hektare.

Bahkan, sawah seluas 1.233 hektare terancam puso dan gagal panen.

Selain itu juga kerusakan jembatan sebanyak 22 unit, 15 irigasi, 10 ruas jalan desa, 15 ruas jalan kabupaten dan 14 jembatan gantung.

Sarana pendidikan yang terendam 23 unit, 10 rusak berat, dan tiga pondok pesantren.

"Saya kira banjir 2012 ini merupakan siklus 10 tahunan karena cukup besar nilai kerugian akibat bencana itu," katanya.

Menurut dia, pemerintah daerah tidak akan mampu untuk melaksanakan perbaikan maupun pembangunan sarana infrastruktur akibat terbatasnya anggaran.

Karena itu, kata dia, pihaknya berharap pemerintah pusat dan provinsi bisa mengalokasikan dana untuk percepatan pembangunan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Kami merasa terbantu dengan adanya bantuan Menteri PDT sebesar Rp7,2 miliar dan PT Krakatau Steel yang membangun jembatan gantung senilai Rp1 miliar," ujarnya.

Sementara itu, masyarakat Desa Sangiangtanjung Kecamatan Kalanganyar Kabupaten Lebak mengaku merasa lega dengan dibangunnya jalan alternatif sepanjang 400 meter dengan pengaspalan.

"Kami merasa nyaman setelah tidak lagi melintasi jembatan gantung Ciwaru yang kondisinya rusak berat akibat banjir," kata Pulung, warga Desa Sangiangtanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak.

Gagal Panen

Sedikitnya 1.366 hektare sawah di Kabupaten Lebak, Banten, gagal panen karena batang padi membusuk akibat terendam banjir selama sepekan lalu.

"Dengan gagal panen ini tentu kami merasa terpukul karena berdampak terhadap produksi pangan," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Aan Kusdinar di Rangkasbitung, Rabu.

Ia mengatakan, areal persawahan yang gagal panen itu tersebar di sejumlah kecamatan, namun terparah di Kecamatan Wanasalam, yang termasuk andalan lumbung pangan Kabupaten Lebak.

Usia tanaman padi yang gagal panen antara 60 sampai 80 hari setelah tanam (HST).

Pemerintah Kabupaten Lebak telah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Banten untuk mendapat bantuan cadangan benih nasional.

"Kami berharap bantuan benih nasional bisa disalurkan secepatnya kepada petani dan mereka bisa tanan Februari 2012," katanya.

Menurut dia, jumlah areal persawahaan yang terendam seluas 3.383 hektare, namun 1.366 hektare dinyatakan gagal panen atau puso.

Kerugian sawah yang gagal panen itu, kata dia, diperkirakan miliar rupiah jika biaya produksi rata-rata Rp6,5 juta per hektare.

"Kami minta petani bersabar menghadapi musibah bencana ini dan kami akan berupaya untuk membantu petani," katanya.

Nurdin (55), seorang petani Desa Cisarap Kecamatan Wanasalam, mengatakan, sawahnya seluas satu hektare dinyatakan gagal panen setelah terkena bencana banjir.

"Semua batang padi mati dan membusuk akibat terendam banjir selama satu minggu," ujarnya.

Ternak Hanyut

Banjir yang melanda 23 kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, sepekan lalu menghanyutkan sebanyak 238 ekor ternak milik masyarakat karena kandangnya berdekatan dengan bantaran sungai.

"Kami berharap pemerintah daerah memberikan bantuan kepada pemilik ternak yang ternaknya hanyut diterjang banjir," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Muklis di Rangkasbitung, Rabu.

Ia mengatakan, dari 238 ekor ternak yang hanyut itu antara lain kerbau, sapi, kambing, dan unggas.

Semua ternak yang hanyut itu, katanya, lokasi kandangnya di bantaran sungai.

Ia mengatakan, ketika itu, pemilik kesulitan untuk menyelamatkan ternaknya karena luapan air sungai cukup deras.

"Saya yakin banjir yang menerjang sejumlah kecamatan cukup besar dan siklus 10 tahunan," katanya.

Ia mengatakan, bencana alam itu menimpa 23 kecamatan dan 77 desa serta 9.287 keluarga.

Banjir juga merendam 8.439 rumah dan 3.383 hektare sawah.

Bahkan, katanya, sawah seluas 1.233 hektare terancam puso.

Selain itu, katanya, bencana alam itu juga mengakibatkan kerusakan 22 jembatan, 15 saluran irigasi, 10 ruas jalan desa, 15 ruas jalan kabupaten, dan 14 jembatan gantung.

Sarana pendidikan yang terendam, katanya, sebanyak 23 unit, 10 di antaranya rusak berat, serta masing-masing tiga masjid dan pondok pesantren.

"Kami berharap pemerintah kembali membangun sarana infrastruktur itu sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat," ujarnya.