Indonesia-Jepang Bidik Industri Potensial Jangka Panjang - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian Indonesia dan Japan International Cooperation Agency (JICA) tengah melakukan kerja sama dalam pengembangan industri potensial pada jangka menengah dan panjang, seperti sektor alat transportasi, elektronika, serta makanan dan minuman. Sejumlah langkah telah dipersiapkan oleh kedua negara.

Langkah sinergi ini diwujudkan melalui kegiatan penelitian terhadap sejumlah manufaktur Indonesia, yang dilakukan oleh Nomura Research Institute dengan judul "Promotion for Globally Competitive Study" untuk periode April 2017-Maret 2018.

"Kami ingin mendapatkan masukan terkait kolaborasi teknis di ketiga sektor industri tersebut supaya bisa naik level," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Senior Vice President of JICA Shinya Ejima serta jajaran deputi dan direktur lembaga pemerintah Jepang ini, pekan lalu, sebagaimana disalin dari siaran resmi.

Menperin menjelaskan, dalam survei yang sedang berjalan ini, pihaknya ingin mengetahui tentang alur rantai pasok industri di dalam negeri saat ini sehingga akan fokus menentukan kebijakan pengembangan untuk sektor pendukungnya. Misalnya di industri otomotif, yang membutuhkan masukan terkait riset dan teknologi terbaru.

“Kami juga akan melakukan survei ke beberapa sentra industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif seperti di Tegal dan Ceper, Jawa Tengah untuk melihat jalannya supply chain di sana,” ujarnya. Apalagi, JICA telah mendorong IKM Jepang agar berinvestasi di Indonesia supaya bisa bermitra dengan pelaku usaha lokal.

Sementara itu, di industri makanan dan minuman, Kemenperin ingin mengembangkan daya saing sektor ini di antaranya melalui pembangunan pusat inovasi, peningkatan aspek keamanan pangan, hingga pengemasan produk. “Kami akan mendukung proses pascapanen, packaging, dan membuat standar untuk ekspor. Kami rasa hal ini dapat memperluas pasar, termasuk membangun innovation center,” tuturnya.

Menperin juga mengungkapkan, komoditas lokal yang tengah diminati Jepang antara lain kakao, kopi, dan udang. Untuk meningkakan nilai tambahnya, Indonesia telah ikut serta dalam Protokol Madrid, yang diharapkan bisa mempermudah dalam mendaftarkan merek secara internasional di banyak negara. “Selain itu, sudah ada identifikasi geografis yang bisa untuk promosi produk, seperti Kopi Toraja dan Kopi Gayo. Added value ini yang terus dipromosikan oleh Kemenperin,” terangnya.

Sedangkan, di industri elektronika, Kemenperin tengah mendorong agar sektor ini dapat mendukung industri alat transportasi di masa depan, khususnya untuk kereta api, pesawat terbang, dan mobil listrik. “Untuk industri elektronika, kami akan memacu perluasan pasarnya dan bisa men-support ke sektor strategis lainnya,” ucap Airlangga.

Selain kerja sama dalam kegiatan penelitian tersebut, sebelumnya Kemenperin dan JICA telah berkolaborasi dalam tiga proyek utama. Pertama, kerja sama peningkatan kapasitas produk LED. Kerja sama ini rencananya berlangsung selama tiga tahun dalam bentuk pembangunan kapasitas dan bantuan peralatan uji.

Adapun tujuannya, mengkaji kesesuaian SNI lampu LED dengan pasar di Indonesia, meningkatkan kerja sama antara industri dalam negeri dan industri Jepang, dan memperketat pengawasan peredaran LED non-SNI.

Kedua, proyek penguatan kemampuan industri pengerjaan logam pendukung alat konstruksi di Indonesia. Kegiatannya, antara lain membuat prototipe komponen alat berat yang masih diimpor, serta pembinaan industri melalui supervisi dan pelatihan. Sedangkan, proyek ketiga, peningkatan kapasitas pengolahan makanan berbasis singkong. Proyek ini dilaksanakan di Timor Leste.

Senior Vice President of JICA Shinya Ejima menuturkan, sektor industri manufaktur di Indonesia harus terus ditingkatkan ke level yang lebih tinggi lagi melalui kecanggihan dalam teknologi maupun riset sehingga punya daya saing yang lebih baik di pasar global. "Melalui survei ini, kami berdialog dengan pelaku industri terkait dan hasilnya akan difinalisasi pada tahun depan," kata Ejima.

Dalam kesempatan yang berbeda, pada acara Indonesia Investment & Business Forum (IIBF) di Nagoya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, dalam rangka memasuki 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang perlu dirayakan dengan kegiatan kerja sama ekonomi yang positif terutama di sektor industri.

“Nagoya merupakan investor terbesar dari Jepang di Indonesia, kira-kira sudah ada 100 perusahaan di dalam negeri. Apalagi kota ini adalah pusat manufaktur di Jepang. Untuk itu, kami ingin menjalin kerja sama investasi yang panjang dengan para investor Nagoya,” tutur Menperin.

BERITA TERKAIT

Pasca Libur Panjang, 92% Lebih PNS Kemenkop dan UKM Masuk Kerja

Pasca Libur Panjang, 92% Lebih PNS Kemenkop dan UKM Masuk Kerja NERACA Jakarta - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi…

Pemegang Saham Serap Rights Issue MDKA - Bidik Dana di Pasar Rp 1,33 Triliun

NERACA Jakarta - Aksi korporasi yang dilakukan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berupa penerbitan saham baru (rights issue) dengan…

Trimuda Tetapkan Harga Rp 150 Persaham - Bidik Dana IPO Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan yang bergerak di bidang kargo dan logistik PT Trimuda Nuansa Citra berencana untuk menjual saham ke…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…