Waspada Gunakan Fintech

Maraknya perkembangan teknologi finansial (Fintech) dan perubahan perilaku serta budaya masyarakat modern saat ini mulai mewarnai kehidupan di negeri ini. Pasalnya, sebagian masyarakat saat ini cenderung menginginkan segala sesuatunya serba cepat dan efisien. Ini tentu mendorong lahirnya inovasi baru dalam hal layanan keuangan secara digital (digital financial services-DFS ). Layanan keuangan secara digital di Indonesia makin berkembang yang dipicu semakin pesatnya kemajuan teknologi smartphone yang bisa dengan mudah digunakan untuk mengakses internet.

Berdasarkan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) terungkap, bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Potensi tersebut dilihat oleh pelaku usaha jasa keuangan (contohnya, seperti bank, perusahaan pembiayaan, asuransi, dan perusahaan efek) sebagai peluang usaha dengan memberikan solusi dan layanan keuangan yang lebih mudah digunakan, lebih mudah diakses, dan lebih efisien.

Beberapa contoh layanan keuangan secara digital yang tergolong sudah lazim dan telah berkembang di Indonesia adalah internet banking, digital payment, mobile banking, dan electronic wallet. Keempat layanan digital tersebut sangat populer di kalangan masyarakat.

Namun demikian, selain banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi penggunanya, masyarakat dan konsumen juga perlu memahami bahwa dalam menggunakan layanan keuangan secara digital terdapat potensi risiko, baik karena kesalahan atau keteledoran sendiri maupun diakibatkan oleh tindakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pertama, internet banking merupakan inovasi layanan keuangan karena konsumen bisa menggunakan layanan perbankan dengan mengunjungi situs internet dari bank tempat konsumen memiliki rekeningnya. Selanjutnya konsumen harus memasukkan username dan password yang telah didaftarkan sebelumnya dengan menggunakan komputer, laptop, smartphone, atau media elektronik lainnya, yang mendukung disertai dengan koneksi internet. Layanan yang biasanya ditawarkan cukup banyak meliputi informasi saldo, mutasi rekening, transfer, pembayaran suatu transaksi, pembelian voucher, pembukaan deposito, dan layanan lainnya.

Karena menggunakan koneksi internet, risiko yang sangat mungkin terjadi adalah terkait keamanan data. Ketika username dan password tersebut diketahui oleh orang lain, maka rekeningnya bisa disalahgunakan. Walaupun biasanya untuk menjaga keamanan penggunaan internet banking, bank akan memberikan token kepada konsumen, tapi konsumen juga perlu menghindari risiko tersebut.

Cara paling jitu menghindari risiko, adalah dengan tidak membagikan username dan password kepada siapa pun dan jangan menaruh informasi password di telepon genggam anda. Konsumen memiliki kebiasaan menyimpan password di telepon genggamnya karena ditakutkan akan lupa, tapi hal tersebut berisiko apabila telepon genggam itu hilang. Hal lainnya adalah jangan mengakses internet banking Anda melalui komputer di tempat umum, seperti di warnet atau sebagainya dengan memilih pilihan "remember password" dan jangan lupa untuk selalu me-log out setelah membuka akun.

Hal tersebut akan mempermudah pihak lain meretas akun anda. Pastikan pula website yang anda masuki adalah website resmi. Banyak terjadi kasus di mana konsumen justru memasukkan username dan password-nya di website palsu (mirror website) sehingga username dan password konsumen bisa diketahui pemilik mirror website tersebut dan dana konsumen berada dalam bahaya.

Kedua, digital payments. Untuk menambah kenyamanan konsumen, semakin banyak pelaku bisnis menerima pembayaran secara digital atau digital payments dalam aplikasi website-nya. Proses digital payment sederhana,yaitu pedagang (merchant) akan menerima pembayaran dengan menggunakan payment gateways (yang menghubungkan bank pedagang/merchant dengan bank konsumen) untuk memfasilitasi pembayaran.

Digital payment memerlukan manajemen sistem infrastruktur teknologi informasi yang sangat kuat agar bisa menunjang keseluruhan proses transaksi dengan baik dan aman. Artinya, sebelum konsumen memilih melakukan pembayaran menggunakan digital payment yang tersedia di web aplikasi pedagang online, pastikan dulu aplikasi tersebut telah memiliki sistem infrastruktur yang baik agar kartu kredit anda ataupun kartu debit anda tidak bisa dicuri datanya oleh pihak tidak bertanggung jawab.

BERITA TERKAIT

82% Masyarakat Masih Gunakan Uang Tunai

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Suhaedi mengatakan, sekitar 82 persen penduduk Indonesia…

Perbankan Di AS Merasa Terancam dengan Fintech

    NERACA   New York - Perbankan di AS menyatakan kekhawatirannya atas perusahaan ritel Wal-Mart Stores Inc (WMT.N) dan…

OJK Ingin Beri Kemudahan ke Industri Fintech

      NERACA   Jakarta - Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan akan memberikan "privilese"…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Gali Potensi Pertumbuhan

Indonesia saat ini membutuhkan investasi yang besar dari luar sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Apalagi, dengan realitas rendahnya kapasitas tabungan domestik…

Saatnya Ekonomi Digital Berkuasa

Banyak pihak merasa khawatir Indonesia akan menggadaikan kedaulatan digitalnya kepada pengusaha asing misalnya Alibaba, dan pemiliknya Jack Ma dari China…

Kebijakan di Era Disruptif

Dalam era disruptif saat ini yang menjadi pesaing bisnis bahkan yang berpotensi meruntuhkan sebuah perusahaan, bukan lagi perusahaan raksasa atau…