Petakan Inovasi Dunia Usaha

Global Innovation :

Sabtu, 28/01/2012

GE (General Electric) mengumumkan hasil “Global Innovation Barometer”, survei tahunan yang kedua, yang menunjukkan bahwa dunia usaha meyakini inovasi sebagai kunci kemakmuran, daya saing, dan penciptaan lapangan kerja. Survei ini juga menunjukkan bahwa situasi ekonomi dan politik yang tidak pasti dapat mengurangi kemampuan perusahaan untuk dapat menghasilkan inovasi yang berarti.

Perekonomian global yang terus dilingkupi ketidakpastian telah berdampak pada kemampuan perusahaan dalam berinovasi, dengan sembilan dari 10 eksekutif melaporkan semakin sukarnya mendapatkan pendanaan dari luar, maupun kecenderungan untuk menghindari risiko. 88 persen dari responden merasakan tantangan yang semakin berat dalam mengakses modal ventura, investor swasta maupun pendanaan dari pemerintah, sementara 77 persen melaporkan penurunan maupun evaluasi ulang dari kemauan perusahaan untuk mengambil risiko.

“Survei tahun ini membuktikan apa yang telah kami rasakan di pasar global, yakni ketidakpastian ekonomi saat ini merupakan tantangan bagi dunia usaha dalam berinovasi,” kata Beth Comstock, Senior Vice President dan Chief Marketing Officer dari GE. “Kami harap survey ini dapat membuka mata para pimpinan perusahaan agar melihat bagaimana strategi inovasi mereka menghadapi tantangan, dan bagaimana kita mendapatkan solusi. Inovasi adalah motor penggerak yang dapat memenuhi kebutuhan dunia yang terus tumbuh. Inovasi memungkinkan kita menggunakan sumber daya dengan lebih efisien, memroduksi dengan lebih sedikit material, dan menciptakan teknologi yang lebih baik untuk mendukung pasar-pasar dunia menumbuhkan perekonomiannya serta meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.”

GE memperluas studi global ini dengan mensurvei sekitar 3000 eksekutif bisnis senior di 22 negara, yang semuanya berhubungan langsung dengan strategi dan pengambilan keputusan di bidang inovasi di perusahaan masing-masing. Barometer ini dibiayai oleh GE dan dilaksanakan oleh firma independen di bidang riset dan konsultansi StrategyOne untuk mengidentifikasi elemen penggerak serta penghambat bagi inovasi, serta menganalisa persepsi seputar kesempatan berinovasi serta tantangan-tantangannya.

Inovasi dan Pertumbuhan, Dua Hal yang Saling Berkait

Para eksekutif yang disurvei menunjukkan bahwa inovasi makin erat kaitannya dengan daya saing. Dengan membandingkan hasil survey dengan data ekonomi, laporan ini juga menunjukkan bahwa negara-negara dimana kebijakan inovasi bisa dianggap lebih bersaing ternyata menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi di banding negara-negara dimana kerangka kebijakannya dianggap tidak kompetitif oleh para eksekutif tersebut.

92 persen eksekutif menyatakan bahwa inovasi adalah elemen penting untuk ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan 86 persen setuju bahwa inovasi adalah cara terbaik untuk menciptakan lapangan kerja bagi negara mereka.

Pasar dimana dunia usaha lebih puas dengan lingkungan politik dan sosial bagi inovasi menghasilkan pertumbuhan GDP lebih tinggi (5.19 persen rata-rata) dibanding pasar dimana dunia bisnisnya mencemaskan atau merasa terancam dengan kebijakan yang ada (2.32 persen rata-rata).

Eksekutif di Israel, Uni Emirat Arab, Swedia dan Singapura melaporkan tingkat kepuasan tertinggi dengan lingkungan inovasi di negaranya sementara Jepang, Rusia, Polandia dan Perancis melaporkan level kepuasan paling rendah.

Yang menarik adalah, meskipun Jepang menunjukkan pandangan negatif atas lingkungan kebijakan inovasinya, para pimpinan bisnis global mendudukannya pada peringkat negara paling inovatif di dunia, di bawah AS dan Jerman, dan di atas Cina.

Survei ini menunjukkan bahwa investasi internal perusahaan di bidang inovasi, dari anggaran litbang sampai pengembangan produk baru maupun model bisnis baru akan terancam ketika komunitas bisnis mempunyai persepsi negatif atau ketika kebijakan negara yang mendukung inovasi semakin berkurang.

71 persen eksekutif melaporkan bahwa kebijakan eksternal maupun prioritas anggaran pemerintah yang mendukung inovasi semakin berkurang. Mereka juga melaporkan pengurangan anggaran litbang di perusahaan masing-masing. Perusahaan-perusahaan di dunia melaporkan penurunan tingkat kepuasan (42 persen) atas efisiensi dan koordinasi dari dukungan pemerintah atas inovasi.

“Berinvestasi untuk inovasi adalah kunci penting daya saing di tingkat global, dan bentuknya bisa bermacam-macam – dari litbang/ R&D biasa sampai dengan produk dan pasar baru, maupun model bisnis baru,” kata Beth Comstock. “Pemotongan anggaran saat ini akan berakibat pada kemajuan ekonomi dan sosial di tahun-tahun berikutnya, dan dapat saja menghambat kemampuan perusahaan untuk bersaing. Pemerintah negara-negara dunia serta dunia usaha perlu turut serta mendukung ekosistem inovasi yang ringkih ini.”