Siswa di Daerah Pun Kini Lebih Percaya Diri - Menaklukan Soal Matematika

Percaya atau tidak, terkadang sumpah serapah ada kalanya bisa menjadi kenyataan. Hal inilah yang menggambarkan pengalaman Adit, guru privat di Karisma Learning Center (Salman ITB) dan juga trainer Matematika Gasing, yang dahulu benci matematika, sekarang malah jadi guru Matematika. Dulunya sejak duduk di bangku SD, dirinya selalu mendapatkan nilai yang jelek untuk pelajaran Matematika. Hingga pada suatu hari, ditantang oleh gurunya untuk bisa dan mendapatkan nilai bagus.

Berkat tantangan itu, beliau mulai mencoba mempelajari lebih dalam lagi hingga akhirnya menemukan bahwa Matematika merupakan pelajaran yang menyenangkan dan tidak serumit seperti yang dibayangkan. Dengan sering bertanya, akhirnya Adit menilai bahwa Matematika tidak sekedar hafalan tetapi bagaimana bisa memahami. Dengan memahami, kita tidak perlu bersusah payah untuk menghafal antara rumus dan bentuk soal untuk bisa mengerjakan suatu soal. Setelah mampu menguasai Matematika, Adit pun mulai mendapatkan nilai yang bagus.

Berbekal pengalaman tersebut, dirinya ingin menelurkan dan berbagi ilmu belajar Matematika lebih menyenangkan. Apalagi sudah stigma bagi para siswa, belajar Matematika merupakan momok yang menakutkan dan sebisa mungkin dihindari. Akibat pendekatan dan cara metode yang salah dalam mempelajari Matematika, alhasil tingkat minat siswa belajar Matematika cukup rendah. Berdasarkan data trends international mathematics and science study (TIMSS), pembelajaran Matematika di Indonesia berada di peringkat bawah. Hal tersebut dikarenakan, metode pembelajaran kelas-kelas di Indonesia monoton dan membuat bosan.

Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UII, Prof Ahmad Fauzy pernah bilang, lemahnya penguatan Matematika pelajar Indonesia disebabkan sejumlah faktor. Dua diantaranya karena pengaturan kelas yang monoton, di mana murid hanya menghadap ke papan tulis dan pembelajaran kelas kurang dinamis. “Rutinitas seperti inilah, yang membuat siswa menjadi bosan belajar matematika," jelasnya.

Tak hanya itu, Ahmad mengungkapkan jika pembelajaran yang diajarkan kurang membuat siswa berpikir kreatif. Bahkan materi Matematika yang diajarkan jauh dari konteks dunia nyata. Sebagai ilmu pasti, matematika justru memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia, bukan hanya teori. Hal ini pula yang diakui Yohanes Surya, ilmuwan yang juga pimpinan Surya Institute soal perlunya reformasi pembelajaran Matematika di sekolah-sekolah. Pasalnya, Matematika yang diajarkan pada siswa abstrak sehingga anak kesulitan memahami konsep-konsep Matematika, serta tidak berkembang logikanya.

Metode pembelajaran Matematika yang tidak tepat itu justru mengakibatkan anak-anak lemah dalam menghitung. Padahal, kemampuan menghitung mulai dari penambahan, perkalian, pengurangan, serta pembagian dibutuhkan untuk penguasaan sains, seperti Fisika dan Kimia.”Cara belajar Matematika yang dikenalkan ke anak-anak tidak gampang dan menyenangkan. Anak selalu tegang jika belajar Matematika sehingga mereka sulit menyukai dan menguasai konsep dasar Matematika," kata Yohanes.

Berangkat dari hal tersebut, dirinyapun selalu aktif memperkenalkan metode belajar Matematika Gampang, Asik, dan menyenangkan (Gasing) yang berhasil diciptakannya untuk di sebar seluruh siswa di pedalaman. Yohanes Surya pun berhasil bereksprimen dengan Matematika Gasing pada anak-anak di Papua yang awalnya tidak bisa menghitung dan membaca. Mereka dikenalkan dengan pembelajaran yang berangkat dari hal-hal konkrit di sekitar, lalu abstrak (konsep Matematika).

Pelajaran terus diulang dengan cara menyenangkan. Seperti contoh, anak-anak tersebut dilatih menghitung di luar kepala atau mencongkak. Belajar juga dikemas dengan cara-cara menyenangkan mulai dari memanfaatkan jari, kartu, games, hingga memodifikasi lagu anak dan daerah yang familiar untuk memasukkan konsep-konsep Matematika.

Menurut Yohanes, menyebarluaskan Matematika Gasing juga perlu dilakukan kepada para guru dan orang tua siswa supaya bisa membantu anak-anaknya mengajarkan Matematika. “Virus untuk membuat Matematika menyenangkan harus cepat tersebar supaya kita mudah membereskan permasalahan di pelajaran sains juga," ujar Yohanes.

Tidak Ada Manusia Bodoh

Hal inilah yang menginspirasi bagi Yayasan Pendidikan Astra – Michael D.Ruslim (YPA-MDR) bekerjasama dengan Surya Institute melakukan pelatihan metode Matematika dan Fisika Gasing untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Siswa Menengah Pertama (SPMN) binaan pra sejahtera. Dalam program tersebut, masing-masing guru membawa satu murid yang memiliki kelemahan dalam bidang studi matematika dari sekolah tempatnya mengajar sebagai pendamping guru untuk melakukan pelatihan di ProgramGasing. “Saya meminta anak terbodoh dalam pelajaran Matematika yang diutus dalam pelatihan ini, dan saya mau membuktikan bahwa tidak ada manusia yang bodoh,”kata Yohanes.

Berkat kelihaian dan kesabarannya, Prof Yohanes berhasil menyulap guru dan siswa sekolah yang memiliki kemampuan berhitung sangat lemah menjadi pintar dalam waktu dua bulan. Diakuinya, tes awal peserta mendapat poin terendah 2 tetapi setelah mendapatkan pemahaman metode gasing, peningkatannya sampai 3 kali lipat. Metode tersebut hanya membutuhkan waktu maksimal 6 bulan belajar.”Saya pernah menerapkan ini pada anak Papua dan ada tambahan waktu 6 bulan lagi mereka sudah mampu menguasai Kimia dan Fisika, bahkan mereka sudah bisa mengerjakan soal jenjang SMP," cerita Prof Yohanes.

Sekarang mereka punya tingkat kepercayaan diri yang baik. Bersemangat mengerjakan semua jenis soal sampai harus berebut soal antara guru dan murid."Pertama datang, mereka hanya menunduk saja. Mengatakan dirinya hebat saja tidak berani, tapi sekarang anak-anak bangga dan saling menantangi untuk menaklukkan soal, " ucapnya.

Matematika Gasing yang diberikan dalam pelatihan tersebut, menerapkan tiga metode yakni konkrit (menampilkan alat peraga) kemudian abstrak (peserta diajak membayangkan sesuatu) dan mencongak (menghitung di luar kepala). Dalam pelatihan tersebut peserta diajarkan menghitung praktis tentang penjumlahan, pengalian, pembagian, bilangan ganjil dan genap serta bilangan desimal dan matrik. Banyak para peserta merasakan manfaat dari pelatihan metode Matematika Gasing, seperti di alami Rohmawati, perwakilan peserta Gasing guru SDN Tengklik, Kec. Gedangsari, Kab. Gunung Kidul.”Awalnya kami ragu dengan diri kami sendiri, apakah kami akan bisa menguasai Matematika hanya dengan waktu 2 bulan saja. Namun sebagai peserta yang sudah diberikan kesempatan yang luar biasa oleh Astra, kami sangat menekuni pelatihan Matematika Metode Gasing ini. Hasil yang kami dapatkan betul-betul luar biasa, tidak ada lagi kata susah dalam Matematika, sesuai dengan nama Gasing sendiri, Matematika itu ternyata Gampang, Asyik dan Menyenangkan,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Yetrin, guru di SDN Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dirinya menuturkan, mengajarkan anak-anak belajar matematika tidaklah mudah. Apalagi dirinya lulusan sastra bahasa Indonesia, butuh waktu lebih lama untuk menguasai materi pelajaran. Namun kini dia justru bangga bisa mengajari para siswa-siswiuntuk mempelajari matematika yang kerapdianggap sulit ini berkat metode Gasing.

Bersama Amalia, siswi SDN Buraen 1 yang memiliki kelemahan dalam berhitung, mereka menikmati betul pelatihan Matematika Gasing. Kini Amalia yang dikenal sulit dan susah menangkap pelajaran Matematika, serta menghafal perkalian sudah mampu melumat setiap persoalan Matematika dengan tepat. Kali pertama melakukan tes dari 40 soal, dia hanya bisa menjawab 16 soal. Namun, dengan mendapatkan metode Gasing selama dua bulan kini skor latihan matematika Amalia mencapai 90.

Setiap hari, Amalia bersama Yetrin juga 16 guru dan siswa/i lain dari Bogor, Gunung Kidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan, dan Kab. Kupang, mendapat pengajaran metode Gasing yang dimulai pukul 8 pagi sampai 4 sore. Setiap hari murid diminta untuk menyelesaikan satu buku yang berisi sekitar 800 soal matematika. Tapi sebelum itu, semua guru dan siswa/i harus bernyanyi dan menari lagu dari Cita Citata, Goyang Dumangyang liriknya diganti menjadi lebih menyenangkan.

Yetrin merasa terbantu dengan program seperti ini, sebab sekolah tempat dia mengajar terbilang cukup kurang mendapatkan perhatian oleh pemerintah setempat untuk meningkatkan kualitas pengajaran.“Setelah dua bulan mengikuti diklat metode gasing ini memang ternyata dulu yang kita rasa sulit sekarang lebih gampang dan asik,” ungkapnya.

Kesuksesan program Gasing yang diselenggarakan YPA MDR, mendapatkan respon positif dari pemerintah daerah dan juga tenaga pendidik yang terbantu dengan hadirnya pelatihan tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Marwan mengatakan, keberhasilan pendidikan Indonesia tidak terlepas dari peran guru sebagai ujung tombak peningkatan kualitas pembelajaran di Sekolah. Oleh karena itu, pihaknya sangat berterima kasih kepada Astra yang terus menerus membantu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, terlebih di sekolah binaan yang ada di daerah terpencil. “Kami berharap para peserta dapat menjalani program ini dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Pelatihan Matematika dan Fisika Gasing terhadap sekolah binaan, merupakan bentuk tanggung jawab sosial YPA MDR untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. “Usai sukses pada pelatihan matematika metode Gasing Batch 1 tingkat SDN Binaan 6 Maret hingga 5 Mei 2017 lalu, kita lanjut ke tingkat lebih tinggi untuk SMP binaan,”kata Sekretaris Pengurus YPA MDR, Kristanto.

Nantinya para guru akan menjadi master trainer di wilayahnya dan harapannya program ini dapat mendongkrak prestasi guru dan siswa, terutama dalam bidang ilmu pasti yakni matematika dan fisika untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama sehingga mereka mampu berinovasi dan bersaing di tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan di tingkat Nasional. YPA-MDR berperan aktif sebagai agent of change dan agent of development dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah dengan membantu pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, pengembangan kurikulum dan manajemen sekolah serta penyediaan sarana prasarana sekolah sesuai standar mutu pendidikan nasional.

Pola pembinaan YPA-MDR YPA-MDR meningkatan kualitas pendidikan di daerah prasejahtera melalui empat pilar pembinaan yaitu akademis, karakter, kecakapan hidup dan seni budaya sehingga menjadi sekolah swapraja menuju sekolah unggul.

BERITA TERKAIT

KPK Dorong Daerah Beri Tunjangan Tambahan Pegawai

KPK Dorong Daerah Beri Tunjangan Tambahan Pegawai NERACA Jambi - Kepala Satuan Tugas Koordinasi Supervisi dan Pencegahan Wilayah III Komisi…

Anabatic Incar Akuisisi Tiga Perusahaan - Siapkan Capex Lebih Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta - PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) menganggarakan belanja modal (capex) lebih dari Rp 100 miliar untuk ekspansi bisnis…

Presiden Direktur BATA Mengundurkan Diri

Presiden Direktur PT Sepatu Bata Tbk (BATA), Muhammad Imran Malik melayangkan surat pengunduran diri pada 15 November 2017 yang lalu.…

BERITA LAINNYA DI CSR

Rayakan Hari Jadi Ke-29 - Jasa Marga Beri Pengobatan Gratis Warga Bekasi

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dan seksi program kemitraan bina lingkungan, PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Jakarta-Cikampek menggelar…

Bantu Ekonomi Yang Tidak Mampu - Pertamina Bagi-Bagi Tas Siswa SLB di Papua

Memberikan akses pendidikan yang sama terhadap siswa pada umumnya, menjadi hal penting bagi dalam memberdayakan dan mewujudkan kemandirian para siswa…

Dalam Rangka HUT ke-60 - Astra Persembahkan Inspirasi Sehat di Makassar

Setelah hampir satu tahun penuh mengadakan kegiatan Inspirasi 60 Tahun Astra di berbagai kota di Indonesia, PT Astra International Tbk…