70% Masyarakat Cari Informasi Keuangan Lewat Internet

NERACA

Jakarta - Google merilis hasil riset terbaru tentang industri keuangan Indonesia dan cara nasabah mencari dan memilih produk keuangan di tengah lanskap media yang terpecah-pecah seperti saat ini. Laporan “Think Finance” baru dari Google dan Kantar/TNS memberikan gambaran umum tentang proses kompleks yang dilalui nasabah sebelum akhirnya melakukan pembelian. Survei ini dilakukan melalui wawancara dengan 501 orang Indonesia pengguna internet yang mengambil pinjaman pribadi atau mendaftar kartu kredit dalam satu tahun ke belakang.

Nasabah Indonesia sudah semakin pintar. Dengan banyak sekali cara untuk mempelajari produk atau layanan, nasabah kini datang ke penyedia jasa keuangan dengan pandangan jelas tentang produk yang mereka inginkan. Beberapa temuan yang diungkapkan laporan dari Think Finance yaitu. Pertama, orang Indonesia tidak tahu di mana harus memulai. Setidaknya delapan dari sepuluh orang (83%) tidak memiliki atau kekurangan informasi tentang cara mengajukan permohonan kartu kredit atau pinjaman pribadi dan mereka cenderung tidak mencari informasi di situs perusahaan keuangan tidak sampai satu dari sepuluh orang (6%) melakukannya.

Kedua, mereka mempertimbangkan secara cermat sebelum memilih. 74% nasabah produk keuangan Indonesia melakukan riset online sebelum menentukan pilihan, sementara waktu rata-rata dari pertama kali terpikir sampai akhirnya membeli produk adalah 26 hari. Alasan utama nasabah mengambil pinjaman antara lain keadaan darurat (37%) dan peristiwa besar dalam hidup seperti menikah atau memiliki bayi (26%), jadi wajar jika mereka mempertimbangkan opsi yang ada secara cermat. Orang Indonesia mengajukan rata-rata 11 pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang mereka butuhkan.

Ketiga, mereka memerlukan bantuan untuk mencerna semua informasi. Orang biasanya menggunakan referensi baik offline maupun online dalam melakukan riset, dan Google Penelusuran menjadi sumber informasi paling bermanfaat kedua. Setidaknya separuh (54%) dari orang Indonesia mengatakan bahwa mereka mencari informasi untuk membantu menyaring opsi dan menemukan fitur terbaik.

Keempat, perjalanan nasabah tidak berakhir di pembelian produk. Bahkan setelah mengambil pinjaman, orang Indonesia masih ingin membaca ulasan dan mengetahui pendapat teman tentang produk yang mereka pilih. Setidaknya 7 dari 10 orang (72%) membuat ulasan dan rekomendasi online sedangkan 4 dari 10 orang (42%) melakukan riset lebih lanjut setelah mengambil pinjaman.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemasar harus hadir sedari awal perjalanan nasabah dan di setiap momen yang membentuk keputusannya. Bank perlu bekerja lebih keras untuk itu. Mereka tidak hanya harus memberikan layanan yang baik, tetapi juga menyediakan konten yang relevan dan bermanfaat sejak pertama kali nasabah membuka ponsel untuk mencari informasi.

BERITA TERKAIT

SBP PTPP Solusi Pendanaan Berkelanjutan - Pionir di Industri Keuangan

NERACA Jakarta – Rencana PT PP (Persero) Tbk (PTPP) menerbitkan surat berharga perpetual (SBP) melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT)…

Pilkada Damai Menjadi Kebutuhan Masyarakat

  Oleh : Rivka Mayangsari, Mahasiswi Universitas Lancang Kuning Pekanbaru   Pilkada 2018 tinggal menghitung bulan, tentunya segala persiapan bagi…

Bank Sampah Lebak Menjadi Lokomotif Ekonomi Masyarakat

Bank Sampah Lebak Menjadi Lokomotif Ekonomi Masyarakat NERACA Lebak - Bank sampah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menjadikan lokomotif ekonomi masyarakat…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BNI Kantongi Laba Rp3,66 triliun

    NERACA   Jakarta - PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk mengantongi laba bersih Rp3,66 triliun atau tumbuh 13,3…

CIMB Niaga Auto Finance Berharap Tumbuh - Gelar Dealers Gathering

      NERACA   Jakarta - Sebagai langkah untuk memperkuat hubungan dan kerja sama dengan rekanan dealer, PT CIMB…

Bank DKI Salurkan Kredit UMKM Secara Masal

    NERACA   Jakarta - Dukung program kerja Pemprov DKI Jakarta, khususnya dibidang pengembangan UMKM, Bank DKI menyalurkan kredit…