BI Diyakini Tahan Suku Bunga Acuan

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) diyakini akan menahan kebijakan bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" di 4,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2017 mengingat potensi kenaikan inflasi di akhir tahun, dan eskalasi tekanan ekonomi eksternal. "Ruang penurunan makin sempit sampai akhir tahun mengingat November dan Desember secara musiman ada tren kenaikan inflasi," kata Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira di Jakarta, Selasa (17/10).

Jika melihat tren tahunan, tekanan inflasi bisa meningkat di dua bulan terakhir karena musim liburan akhir tahun, dan juga cuaca di beberapa wilayah yang sudah memasuki musim penghujan karena dapat mengganggu jalur distribusi barang. Hingga September 2017. inflasi tahun kalender berjalan 2,66 persen (year to date/ytd), sementara inflasi tahunan adalah 3,72 persen (year on year/yoy).

Adapun di tahun ini, BI sudah dua kali secara beruntun memangkas "7-Day Reverse Repo Rate" pada Agustus dan September 2017 dari 4,75 persen ke 4,25 persen. Penurunan itu mengakumulasikan pelonggaran sebanyak tujuh kali oleh bank sentral atau sebesar 175 basis poin sejak Januari 2016. Selain inflasi, Bhima menuturkan BI juga harus menimbang dampak dari kemungkinan besar kenaikan bunga acuan The Federal Reserve, Bank Sentral AS, pada Desember 2017.

Kenaikan suku bunga acuan di AS bisa menyedot likuiditas di pasar keuangan global. Apalagi Bank Sentral AS juga akan menyesuaikan neraca keuangannya di akhir tahun. "Dan 'tappering off' akan membuat likuiditas di negara berkembang menjadi berkurang yang berakibat ke 'yield' (imbal hasil) surat berharga kemungkinan besar meningkat karena investor meminta keuntungan yang lebih besar," ujar dia.

Bhima juga melihat risiko geopolitik akan berpengaruh terhadap stabiltas pasar keuangan global. Risiko geopolitik bersumber dari referendum di Spanyol, ketegangan semenanjung Korea dan ketidakpastian perundingan Brexit. BI diperkirakan hingga akhir 2017 akan menahan suku bunga acuan di 4,25 persen.

Disisi lain, Kepala Ahli Ekonomi PT Bank Mandiri Persero Tbk, Anton Gunawan mengatakan, tingkat bunga riil saat ini ditambah laju inflasi terkendali, dan juga komparasi dengan beberapa negara emerging markets lain, Indonesia masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan, yang saat ini sebesar 4,25 persen. "Pandangan dari ahli ekonomi luar menyebutkan sudahlah jangan diturunkan lagi karena bisa mempengaruhi kurs, tapi kami sendiri dari kajian masih melihat ada ruang, dan itu akan sangat bergantung pada data triwulan III," ujar dia.

Saat ini, suku bunga acuan di Malaysia sebesar 2,95 persen, Filipina tiga persen dan Thailand 1,5 persen. Bank Indonesia pada September 2017 lalu baru saja menurunkan suku bunga acuannya untuk kedua-kali berturut-turut pada tahun ini, karena laju inflasi yang terus bergerak ke batas bawah sasaran 3-5 persen. Penurunan pada September 2017 lalu juga melengkapi delapan kali pelonggaran kebijakan suku bunga acuan sejak awal 2016 atau penurunan akumulatif sebesar dua persen.

Dia memerkirakan Bank Sentral akan mempertimbangkan apakah akan kembali memberikan stimulus di kuartal terakhir tahun ini, berdasarkan hasil pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017. Dia dan Bank Indonesia sama-sama yakin pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017 akan lebih baik dibandingkan kuartal II 2017 yang sebesar 5,01 persen. "Lebih baik karena sangat didorong belanja pemerintah," ujar dia.

Pertimbangan Bank Indonesia selanjutnya, ujar dia, adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Menurutnya, meskipun rupiah terus tertekan dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas masih terjaga. Anton mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan kembali ke rentang Rp13.400 di akhir tahun. "Rupiah meski sempat melemah hingga ke arah Rp13.600 kemarin, tapi kami yakin bakal balik lagi ke Rp13.400 per dolar. Ambil untung sementara wajar terjadi," ujar dia.

BERITA TERKAIT

KPK Tahan Eddy Sindoro

KPK Tahan Eddy Sindoro NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan mantan petinggi Lippo Group Eddy Sindoro (ESI), tersangka…

The Fed Tegaskan Naikkan Suku Bunga Bertahap

      NERACA   Bali - Presiden Federal Reserve New York John Williams mengisyaratkan bank sentral Amerika Serikat (AS)…

Bank Hasil Merger Tahan Guncangan

    NERACA   Jakarta - Bank hasil merger PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pembiayaan Lewat Fintech Diperkirakan Rp20 Triliun

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan jumlah penyaluran pinjaman oleh penyelenggara teknologi finansial (tekfin)…

BI Sebut Rupiah Sudah Stabil

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini sudah stabil dan…

MUFG Teken Perjanjian Pinjaman Proyek Tol Trans Sumatera

  NERACA   Jakarta - Entitas perbankan utama dari Mitsubishi UFJ Financial Group, MUFG Bank, Ltd. (MUFG) pada (11/10) lalu…