Bisnis Angkutan Bis Lorena "Tidak Bertenaga" - Catatkan Rugi Rp 17,66 Miliar

NERACA

Jakarta – Performance kinerja keuangan PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) masih membukukan raport merah. Ketatnya persaingan bisnis transportasi berbasis online dituding menjadi pemicu terus meruginya bisnis Lorena. Tercatat per Juni 2017 atau hingga paruh pertama tahun ini, pendapatan usaha LRNA turun 14,08% menjadi Rp 51,49 miliar. Selain itu, Lorena juga belum berhasil membukukan laba positif dan sebaliknya mencatat kerugian sebesar Rp 17,66 miliar.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (17/10), perusahaan mencatatkan penurunan pendapatan per Juni 2017. Di semester pertama 2016, LRNA membukukan pendapatan sebesar Rp 59,94 miliar. Di periode sama tahun ini pendapatan LRNA hanya tercatat sebesar Rp 51,49 miliar. Beriringan, pendapatan lain-lain dan pendapatan bunga perusahaan juga turun. Pendapatan lain-lain bersih turun 88,33% menjadi Rp 116,15 juta. Sementara itu, pendapatan bunga turun 16,73% menjadi Rp 566,55 juta.

Sebagaimana diketahui, pendapatan usaha LRNA berasal dari bus AKAP, jasa operator transjakarta busway, dan bus AKAP jarak pendek. Adapun pendapatan lain-lain perusahaan meliputi fee jasa penitipan paket, hasil penjualan scrap, penggantian asutransi, dan lain-lain. Penurunan di topline juga diiringi dengan minusnya laba tahun berjalan perusahaan. Di semester I-2016, LRNA mencatat kerugian sebesar Rp 12,60 miliar. Di tahun ini kerugian bertambah 40,13% menjadi Rp 17,66 miliar.

Padahal, beban pendapatan langsung turun 8,44% menjadi Rp 48,92 miliar di semester I-2017. Beban umum dan administrasi juga berkurang dari Rp 22,04 miliar di semester I-2016 menjadi Rp 19,60 miliar di semester I-2017. Sejak mencatatkan sahamnya di pasar modal 2014 kemarin, PT Eka Sari Lorena Transport Tbk menyisakan dana penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 16 miliar.

LRNA telah menggunakan dana IPO sebesar Rp 111,42 miliar. Dana tersebut di antaranya digunakan untuk pengembangan investasi baru bis AKAP dan rekondisi bus lama sebesar Rp 103,07 miliar. Lalu dana juga digunakan untuk perbaikan infrastruktur depo busway Transjakarta di Ceger Jakarta Timur sebesar Rp 4,52 miliar, dan dana lainnya digunakan untuk modal kerja sebesar Rp 3,82 miliar.

Dalam pengembangan bisnisnya, perseroan juga tengah mengembangkan strategi bisnis dengan merubah “business model” dari layanan “mass public transportation” menjadi “boutique mass transportation” dengan mulai mengoperasikan armada bus double decker (bis tingkat) Mercedes-Benz OC 500 RF 2542. Hal ini merupakan strategi perseroan untuk menciptakan “product and services differentiation” yang signifikan dibandingkan para pesaing.

G.T. Soerbakti, Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk mengatakan, perseroan akan merubah secara berangsur-angsur layanan dari kelas eksekutif menjadi kelas super eksekutif untuk meningkatkan tingkat pelayanan kepada para pelanggan. “Perseroan juga sudah mulai mengevaluasi trayek AKAP, dimana trayek-trayek yang bersinggungan langsung dengan moda transportasi udara dan kereta api sebagian sudah dialihkan ke trayek-trayek lain yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan,”ujarnya.

Strategi lainnya, kata Soerbakti, berupa perkuatan di rute jarak pendek termasuk menjajaki kemungkinan masuk di Jakarta residence connection dan Jakarta airport connection yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), selain memperkuat dan menambah jumlah armada bus di BRT (bus rapid transport) seperti TransJakarta.

BERITA TERKAIT

Urai Kemacetan dengan Angkutan Umum Berbasis Rel

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mendorong pembangunan angkutan umum…

Banten Bentuk BUMD Agro Bisnis Sejahterakan Petani

Banten Bentuk BUMD Agro Bisnis Sejahterakan Petani NERACA Serang - Pemerintah Provinsi Banten berencana membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)…

Hotel Indonesia Natour Bidik Laba Rp 8,7 Miliar - Pasca Revitalisasi Hotel

NERACA Jakarta - PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Persero targetkan laba tahun ini sebesar Rp8,7 miliar, melonjak signifikan dibanding tahun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasar Reksadana Marak di Tahun Politik

Di tahun politik saat ini, invetasi reksadana masih menjadi pilihan utama bagi para investor pasar modal. Oleh karena itu, manajer…

BNI Rilis Convertible Bond Rp 2 Triliun

Dalam rangka perkuat modal, PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk akan mengeluarkan obligasi yang bisa dikonversi atau convertible bond guna…

BUMD dan Swasta di NTB Didorong Go Public

NERACA Mataram – Perbanyak jumlah emiten di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) aktif melakukan roadshow dan edukasi pasar…