Elektronisasi Ancam Pekerja Tol dan Perbankan

Oleh: Adi Lazuardi

Parman, sebut saja begitu namanya, tampak asyik menawarkan kartu elektronik dari sebuah bank plat merah di depan gerbang tol Pondok Aren, Tangerang Selatan, tanpa menghiraukan terik matahari dan polusi udara dari mobil.

Laiknya pedagang asongan, ia tampak cekatan menawarkan dagangannya kepada setiap pemilik kendaraan yang masuk dalam antrean panjang menuju gerbang pembayaran tol. Sesekali kartu elektronik yang didagangkan Parman dibeli pengemudi, lain kali dia harus gigit jari dan bergerak menjauh dari sisi kendaraan dan kembali berdiri di pinggir antrian di tengah panas mentari yang sangat terik siang ini.

Parman tak sendirian, di beberapa gerbang tol lainnya, petugas pemasaran seperti Parman disebarkan secara aktif dan masif selama beberapa bulan terakhir tepatnya sejak Mei lalu. Atau bersamaan dengan dimulainya sosialisasi penggunaan kartu elektronik sebagai alat pembayaran sah di gerbang tol yang dikelola Jasa Marga.

Sebagai salah satu badan usaha milik pemerintah (BUMN), Jasa Marga berkomitmen untuk berpartisipasi secara aktif dalam mendukung program Gerakan non tunai (elektronisasi) yang dicanangkan pemerintah untuk mewujudkan cashless society atau masyarakat tanpa uang tunai. Dan khusus untuk jalan tol, Presiden Jokowi menetapkan bahwa mulai akhir Oktober 2017 seluruh transaksi di gerbang tol harus menggunakan kartu elektronik atau non tunai.

Pada sebuah kesempatan, Direktur Keuangan PT Jasa Marga (Persero) Donny Arsal mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung program pemerintah untuk melakukan elektronisasi pembayaran tol. Salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat agar beralih dari pembayaran sistem tunai ke pembayaran sistem elektronik.

Tak hanya dalam bentuk edukasi, Jasa Marga bahkan juga telah menyiapkan 950 gardu tol miliknya di seluruh Indonesia untuk melaksanakan sistem pembayaran elektronik. Meski hanya 47 persen dari gardu tol ini yang merupakan gardu tol otomatis (GTO), tapi pihak Jasa Marga memastikan bahwa seluruh gardu tol manual pun dapat melayani pembayaran elektronik.

Tak Bisa Dihindari

Penggunaan transaksi elektronik di gerbang tol adalah sebuah hal yang tak bisa dihindarkan lagi. Selain bertujuan mengurangi kepadatan antrean di gerbang tol seperti yang selama ini dikeluhkan banyak pengguna jalan tol. Maka, melalui program ini diharapkan bisa ikut mendukung percepatan terciptanya masyarakat non tunai atau "cashless society" sebagaimana dicanangkan pemerintah.

Dengan menggunaan kartu elektronik, para pengguna kendaraan dapat menghemat banyak waktu, lebih aman dan nyaman.

Raddy R. Lukman, VP Operation Management Jasa Marga, dalam konferensi pers di Kantor Jasa Marga, Minggu (15/10) mengatakan bahwa dengan adanya program ini diharapkan kendaran yang akan masuk ke gerbang tol bisa mencapai 720 unit kendaraan per jam.

Bandingkan dengan penggunaan transaksi tunai dimana jumlah transaksi pembayaran hanya bisa mencapai 400 - 425 unit kendaraan/jamnya.

"Ini artinya sudah mempercepat waktu transaksi atau meningkatkan kapasitas gerbang tanpa harus membangun gardu," kata Raddy.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowrdoyo mengatakan bahwa menggunakan transaksi non tunai di gerbang tol memiliki banyak keunggulan. Mulai dari transaksi pembayaran yang lebih singkat, penghematan bahan bakar, hingga masalah kenyamanan bagi pengguna jalan tol karena transaksi elektronik mengurangi kesalahan manusia.

Itu sebabnya, BI ikut mendorong pihak perbankan untuk ikut mensukseskan program non tunai dalam pembayaraan atau transaksi nonelektronik. Selain itu, BI pun berencana untuk menyatukan seluruh sistem pembayaran elektronik untuk jalan tol, sehingga nantinya hanya akan ada satu kartu saja untuk seluruh pembayaraan tol.

Seperti diketahui saat ini ada beberapa bank yang terlibat dalam sistem pembayaraan elektronik untuk jalan tol yaitu Bank Mandiri dengan e-Money dan e-toll card-nya , Bank Negara Indonesia (BNI) dengan TapCash, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan kartu Brizzi, dan Bank Central Asia (BCA) dengan kartu Flazz, Bank Tabungan Negara (BTN) dengan Blink.

Menyusul nantinya ada bank lainnya yang rencananya akan mendukung program pemerintah dalam melaksanakan transaksi non tunai untuk perngguna jalan tol.

Direktur Consumer Banking BCA Suwignyo Budiman menjelaskan bahwa pihaknya mendukung dan sangat senang dengan adanya program dari pemerintah untuk transaksi non tunai di gerbang tol. Untuk itu pihaknya mengaku telah siap melayani pembayaran non tunai di gerbang tol dan sudah menyiapkan kartu uang elektronik Flazz perdana. Tak kurang dari 1 juta kartu Flazz telah disiapkan oleh pihak BCA untuk melayani kebutuhan transaksi non tunai di gerbang tol.

Perlu Kreativitas

Program non tunai akan memberi dampak kepada berkurangnya fungsi SDM pada perusahaan jasa jalan tol dan perbankan. Apabila seluruh gardu tol telah melakukan transaksi non tunai, maka akan akan pengurangan penjaga gardu tol, orang yang menghitung uang untuk diserahkan ke bank, begitu juga perbankan tidak perlukan lagi tenaga mengecek setoran uang pengelola jalan tol karena semua sudah berjalan transaksi elektronik.

Penerapan elektronisasi pembayaran/transaksi yang terkait dengan pihak bank pun memunculkan kekhawatiran adanya pengurangan tenaga kerja di bidang perbankan. Dalam lima tahun ke depan 30 persen pekerjaan bank bisa menghilang akibat perkembangan yang sangat pesat dari dunia.

BCA dan bank Mandiri bahkan mengakui bahwa proses elektronisasi di perbankan bisa menghemat biaya hingga 46 persen. Hal ini dikarenakan transaksi yang dilakukan ke kantor cabang hanya tinggal enam persen saja, sedangkan 94 persen melakukan transaksi elektronik tanpa konsumen datang ke kantor cabang perbankan.

Direktur BCA Santoso bahkan menyatakan bahwa transaksi langsung hanya tinggal tiga persen saja. Ini artinya pekerjaan karyawan perbankan akan semakin terkikis. Sebab elektronisasi memang tak terbendung lagi.

Jadi, selain masyarakat yang harus mulai membiasakan diri untuk bertransaksi non tunai di jalan tol, maka para pengelola jalan tol dan pihak perbankan pun harus mulai membiasakan diri mengelola karyawannya secara kreatif karena sebentar lagi mereka akan mulai kehilangan pekerjaan. Sebab chaseless society atau masyarakat non tunai sudah di depan mata. (Ant.)

BERITA TERKAIT

Globalisasi, Demokratisasi, Liberalisasi, dan Digitalisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Empat kata yang menjadi judul tulisan ini telah menjadi realitas yang…

Pajak e-Commerce, Asas Equity, dan Kisah Graham Bell

Oleh: Andi Zulfikar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak *) Siapa yang tidak mengenal Alexander Graham Bell? Lelaki yang lahir di Edinburgh, Skotlandia,…

Sektor Manufaktur dan Manajemen Risiko

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis   Kegagalan Indonesia menjadi negara maju karena sektor manufakturnya…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mengukir Harapan Baru: Upaya Serius Pemerintah Membangun Papua

  Oleh : Indah Rahmawati Salam, Mahasiswi IAIN Kendari   Harapan masyarakat Papua untuk menjadi lebih baik, lebih bermartabat, dan…

Ekonomi Syariah Seharusnya Sudah "Hidup"

Oleh: Ahmad Buchori Perekonomian syariah seharusnya sudah "hidup" di Indonesia dan memainkan peran penting dalam perekonomian nasional, bahkan dalam pasar…

Tiga Rekomendasi Untuk Penataan Ulang Regulasi Indonesia

Oleh: Maria Rosari Para pakar hukum tata negara dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara mencatat setidaknya terdapat lebih dari 62.000…