Industri Pariwisata Butuh Revolusi Mental

NERACA

Padang –Kekayaan alam pariwisata di Indonesia cukup menjanjikan, namun ironisnya belum dimanfaatkannya secara optimal dan ditambah hambatan yang ada menjadikan industri pariwisata belum menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negeri ini. Hal inipun diakui langsung Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong.

Dirinya menegaskan bahwa industri pariwisata di Tanah Air memerlukan revolusi mental secara total untuk mengubah karakter ingin berkuasa menjadi bersikap melayani.”Memang yang menjadi akar permasalahan adalah soal mental dan akan sulit untuk mengembangkan usaha pariwisata jika pelakunya masih bermental penguasa," kata Thomas Lembong saat membuka Regional Investment Forum (RIF) di Kota Padang, Senin (16/10).

Menurutnya, permasalahan pariwisata tidak semata mata soal kesiapan infrastruktur dan sarana pendukung lainnya, tapi juga hal-hal yang menyangkut perizinan.”Perizinan harus lebih disederhanakan, misalnya izin membuat kolam renang, restoran dan berbagai izin lainnya bisa disatukan, tidak perlu satu satu," ujarnya.

Terkait pengembangan pariwisata Sumatera Barat, pemerintah setempat bersama pengusaha perlu membuat sebuah terobosan dan lebih aktif mempromosikan tujuan wisata andalan.”Mungkin Sumatera Barat perlu membangun resort berkelas dunia dengan menggandeng hotel dengan jaringan global seperti Westin dan Marriott di Bali, sehingga ikut mengangkat potensi pariwisata yang ada,”jelasnya.

Seperti diketahui, masih rendahnya daya saing industri pariwisata dalam negeri dengan negara lain, menjadi cambuk bagi pemerintah untuk memperbaiki industri pariwisata yang konon bila dibenahi mampu menghasilkan devisa negara cukup besar. Bank Indonesia (BI) menilai, sumbangan devisa Indonesia dari sektor pariwisata masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara menjelaskan, tahun lalu devisa dari pariwisata sekitar US$ 11,3 miliar. Malaysia US$ 18,1 miliar dan Thailand US$ 49,9 miliar.”Jumlah ini lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain yang jumlah turisnya 3 kali lipat, seperti Thailand turisnya yang masuk 27-30 juta, tahun lalu kita hanya 12 juta turis," kata Mirza.

Dia menjelaskan, tahun ini Turis diharapkan bisa tembus 15 juta. Kemudian tahun-tahun berikutnya bisa 20 juta. "Makin banyak turis yang datang, semakin lama mereka di sini dan menggunakan fasilitas sampai makan di sini maka potensi devisanya akan lebih banyak," imbuh dia.

Mirza menjelaskan, dengan peningkatan turis yang mempengaruhi naiknya devisa maka turut meningkatkan tenaga kerja dan mendorong gross domestic product (GDP) di sektor pariwisata nasional. Kemudian dia menambahkan, saat ini GDP pariwisata masih digabungkan dengan perdagangan, hotel dan restoran. Hal itu termasuk dengan sekitar 20% dari GDP Indonesia.”Tapi nanti, jika pariwisata sudah mulai tumbuh dan makin penting. Misalnya jangka waktu 10 tahun ke depan, tentunya pariwisata bisa menjadi satu sektor tersendiri yang masuk dalam penghitungan PDB kita," ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya mengharapkan, cadangan devisa nasional bisa terus meningkat dengan jumlah turis yang masuk ke Indonesia yang lebih banyak dibandingkan turis Indonesia yang pergi ke luar negeri. "Jumlah turis masuk dan devisanya harus lebih besar," tuturnya.

Menurut Mirza untuk mendorong banyaknya turis yang datang ke Indonesia. Pemerintah harus meningkatkan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, pelabuhan, hingga bandara yang melayani penerbangan langsung. Sementara Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno membantah anggapan bahwa karakter orang Minang yang enggan melayani sebagai salah satu penyebab rendahnya angka kunjungan wisatawan asing ke daerahnya. Bahkan Irwan menegaskan karakter pandeka (pendekar) yang melekat kepada warga Minang, terutama laki-laki adalah sebagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.”Mengubah karakter adalah hal yang sulit, orang Minang maunya jadi pemimpin dan bukan pelayan. Jalan keluarnya suruh saja orang Jawa atau Sunda sebagai pelayan, urang Minang bosnya,”tandasnya.

Regional Investment Forum yang digelar untuk kedua kalinya itu dihadiri investor asing dari 13 negara, yaitu Australia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, UEA, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Spanyol, Luksemburg, China dan Taiwan dan Rusia. Mereka akan menjajaki peluang dan potensi investasi di delapan tujuan pariwisata termasuk di antaranya Kawasan Wisata Terintegrasi (KWT) Gunung Padang dan Kawasan Wisata Bahari Mandeh.

BERITA TERKAIT

Metland Hadirkan Villa Mewah di Ubud Bali - Geliat Industri Pariwisata

NERACA Jakarta - Pengembang properti, PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau Metland terus berekspansi dan yang terbaru ialah meluncurkan Royal…

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

TICMI Luluskan 6.502 Profesional Pasar Modal - Dorong Industri Pasar Modal

NERACA Jakarta - The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) kembali menyelenggarakan Wisuda Akbar Periode II-2017 sebagai salah satu strategi meningkatnya…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PEMERINTAH DIMINTA BATASI PENERBITAN IUP - Marak Korupsi Akibat Tidak Paham Konstitusi

Jakarta-Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menilai pemahaman masyarakat Indonesia yang kurang terhadap konstitusi menjadi sebab praktik korupsi masih sering…

YLKI: Penyederhanaan Listrik Bebani Konsumen

NERACA Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai rencana kebijakan Kementerian ESDM yang akan menyederhanakan sistem tarif listrik dengan…

Penggolongan Tarif Listrik Perlu Hati-hati

NERACA Jakarta – Kementerian ESDM menjelaskan rencana penyederhanaan golongan pelanggan listrik rumah tangga nonsubsidi, yang sampai saat ini masih dalam…