Indonesia Dinilai Tak Alami Bubble Sektor Properti

NERACA

Jakarta - CEO dan pendiri perusahaan pengembang Crown Group, Iwan Sunito, mengatakan, Indonesia tidak mengalami "bubble" atau gelembung di sektor properti karena jumlah permintaan hunian di sini dinilai masih melebihi kapasitas pasokan. "Sempat ada kekhawatiran bahwa pasar properti Indonesia akan mengalami 'bubble', namun saya tidak melihat bahwa Indonesia akan mengalami hal tersebut," kata Iwan Sunito dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (16/10).

Menurut Iwan Sunito, jumlah permintaan hunian yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia dinilai masih jauh di atas kemampuan para pengembang dalam menyediakan pasokan. Untuk itu, ujar dia, kebijakan pemerintah serta keseimbangan antara harga dan daya beli memegang peranan penting dalam menstimulasi pertumbuhan dunia properti di Indonesia.

Iwan mengungkapkan bahwa dengan besaran jumlah permintaan yang ada, dapat dikatakan bahwa pasar properti Indonesia adalah yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. "Sempat terjadi perlambatan pasca-amnesti pajak, namun kalau kita perhatikan, saat ini sudah mulai merangkak naik. Apalagi pemerintah Indonesia saat ini berusaha mendorong pertumbuhan sektor properti dengan kebijakan yang dikeluarkan yang akan semakin memudahkan masyarakat untuk memiliki hunian," ucapnya.

Ia berpendapat dengan fokus kepada kebijakan hunian yang berorientasi kepada transportasi massal akan membuat pasar properti Indonesia, khususnya di Jakarta menjadi lebih berwarna dengan berbagai macam pilihan. Sebelumnya, konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) menyatakan, pengembang perlu mencari lokasi properti yang dapat memudahkan akses terhadap beragam sektor transportasi publik agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan mereka.

"Dalam kondisi pasar seperti ini, para pengembang harus cermat melihat peluang dan membaca permintaan pasar untuk menciptakan produk yang diminati," kata Head of Advisory JLL Indonesia Vivin Harsanto. Menurut dia, selain produk yang berkualitas dengan harga yang terjangkau, pengembang juga perlu mencari lokasi pengembangan yang memiliki kemudahan akses terhadap transportasi publik yang dinilai menarik minat pembeli.

Ia juga berpendapat bahwa hal kemudahan akses terhadap infrastruktur dan transportasi publik seperti itulah yang memicu minat investor untuk mengembangkan konsep TOD (Transit-Oriented Development) dalam properti. Sebagaimana diwartakan, pengembangan transportasi publik terintegrasi yang tercermin dalam pembangunan MRT dan LRT di kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya dinilai bakal menguntungkan sektor properti di ibukota.

"Gedung-gedung yang akan dilewati MRT dan LRT akan mendapatkan keuntungan yang besar," kata Senior Director Colliers International Indonesia (konsultan properti) Bagus Adikusumo. Menurut dia, keuntungan tersebut tidak hanya karena potensi kenaikan harga, tetapi juga untuk memudahkan jarak antarwarga yang juga menguntungkan kinerja bisnis. Bagus mencontohkan, di kota Tokyo yang sudah memiliki transportasi publik yang terintegrasi dengan baik, maka semua wilayah juga bisa dicapai dengan mudah.

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Tawarkan Bunga Kredit Rendah - Festival Properti Indonesia

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri bersama situs properti 123.com menghadirkan Festival Properti Indonesia sebagai ajang yang…

Indonesia Rangking 3 Besar Wisatawan Digital Dunia

      NERACA   Jakarta - Para pelancong asal Indonesia ternyata menduduki rangking tiga besar dunia untuk pemanfaatan alat…

Jokowi akan Hadiri Bincang Bincang Ekonomi Indonesia Di Salihara

NERACA Jakarta - Data ekonomi makro Indonesia pada kuartal III tahun 2017 membangkitkan optimisme ekonomi nasional. Potensi sumber daya nasional…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Shinta Bubu : 6 Juta UMKM akan Go Digital di 2020

NERACA Jakarta - Pertumbuhan E-Commerce di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun bahkan berpotensi menjadi ekonomi digital…

Menhub Sangkal Jual Aset Infrastruktur Negara

    NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyangkal bahwa kerja sama infrastruktur transportasi dengan pihak swasta…

Kemenkeu Dapat Pinjaman Rp15,2 triliun - Kerjasama dengan JICA

      NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menandatangani dua naskah perjanjiian pinjaman…