Permintaan Kredit di 13 Sektor Meningkat

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia melalui surveinya mencatat permintaan kredit pada 13 sektor ekonomi meningkat sepanjang triwulan III 2017, terutama pada sektor pengolahan atau manufaktur, namun permintaan pembiayaan pada pertambangan terindikasi masih lesu. Indikator Saldo Bersih Tertimbang dalam suvrei perbankan triwulan III 2017 untuk pengolahan mencapai 70,2 setelah di triwulan sebelumnya hanya 45,7, menurut Survei Perbankan Triwulan III 2017 dikutip di Jakarta, Senin.

Adapun 13 sektor yang meningkatkan permintaan kreditnya terhadap perbankan, menurut survei itu adalah pertanian, perikanan, pengolahan, listrik (gas dan air), konstruksi, perdangangan besar dan eceran, penyediaan akomodasi (dan penyediaan makan minum), transportasi (pergudangan dan komunikasi). Kemudian real estate, jasa kesehatan (sosial), jasa kemasyarakatan sosial (budaya, hiburan, dan perorangan), badan internasional dan kegiatan lain.

"Sedangkan sektor lain yang permintaan kreditnya menurun adalah sektor pertambangan dan penggalian, dan jasa perorangan yang melayani rumah tangga," tulis BI. Survei triwulanan tersebut melibatkan 41 responden bank umum yang berkantor pusat di Jakarta, dengan pangsa kredit 80 persen dari total nilai kredit bank umum secara nasional.

Sedangkan menurut penggunaannya, penyaluran kredit modal kerja dan konsumsi di triwulan III 2017 masih melambat, sedangkan kredit investasi tumbuh menguat. Indikasi itu tercermin dari SBT kredit investasi yang naik menjadi 69,8 persen dari 40,8 persen di triwulan sebelumnya. Dari survei itu juga ditemukan perkiraan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 10,6 persen (year on year/yoy) di akhir tahun, masih lebih rendah jika dibandingkan survei sebelumnya yang memperkirakan sebesar 12,4 persen (yoy).

Aliran kredit akan mengarah ke angka satu digit. Dari laporan indikator likuiditas oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memaparkan, prediksi pertumbuhan kredit sebesar 9,2% per kuartal IV-2017. Angka ini tak berbeda jauh dengan proyeksi pertumbuhan kredit 9,0% di kuartal III-2017. Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Dody Arifianto mengatakan, ada dua alasan yang menjadi penyebab perlambatan kredit di kuartal akhir ini. Pertama, pelaku usaha masih cenderung menahan diri untuk ekspansi. Kedua, bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

Nah, penopang pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini akan berasal dari empat sektor. Yakni, kredit untuk sektor konstruksi, infrastruktur, jasa dan konsumsi. Pada laporan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) per Juli 2017, total kredit konstruksi sebesar Rp 238,16 triliun dengan nilai kredit bermasalah Rp 8,96 triliun. Dody menambahkan, permintaan kredit yang belum pulih membuat kondisi likuiditas relatif longgar. LPS memperkirakan, dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 7,2% di kuartal IV-2017, atau lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan DPK sebesar 10,5% pada kuartal III-2017.

Ke depan, LPS mewanti-wanti akan adanya potensi pengalihan dana dari perbankan ke instrumen lain di luar produk bank. Karena instrumen lain tersebut memberikan perbedaan imbal hasil (yield) yang lebih baik. Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo optimistis target pertumbuhan kredit perbankan akan sesuai rencana bisnis bank (RBB) di tahun ini. Regulator perbankan ini meramalkan kredit akan tumbuh 11%-12% di tahun ini.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono mengklaim, pertumbuhan kredit berjalan dengan baik. Bank berkode saham BBTN ini mencatat pertumbuhan kredit di atas 20% di kuartal III-2017. "Hal ini didorong oleh permintaan kredit pemilikan rumah (KPR)," kata Maryono. Dari laporan bulanan, BTN mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 165,09 triliun per Agustus 2017. Angka ini naik 19,41% dibandingkan posisi kredit Rp 138,24 triliun per Agustus 2016.

BERITA TERKAIT

Mendefinisikan Ulang Sektor Pendidikan di Asia dengan Transformasi Digital

Mendefinisikan Ulang Sektor Pendidikan di Asia dengan Transformasi Digital NERACA Jakarta – Revolusi Industri Ke-4 telah membawa perubahan dalam segi…

Mendefinisikan Ulang Sektor Pendidikan di Asia dengan Transformasi Digital

Mendefinisikan Ulang Sektor Pendidikan di Asia dengan Transformasi Digital NERACA Jakarta – Revolusi Industri Ke-4 telah membawa perubahan dalam segi…

ICW: Ada Indikasi Kerugian Negara Sektor Batubara

ICW: Ada Indikasi Kerugian Negara Sektor Batubara NERACA Jakarta - Lembaga Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan adanya indikasi kerugian negara…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Tingkat Profitabilitas Perbankan Terus Menurun

      NERACA   Jakarta - Tingkat profitabilitas perbankan terus menurun selama 5 tahun terkahir karena margin dari penyaluran…

OJK Ingin Industri Keuangan Turunkan Ketimpangan

  NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjajikan akan mendorong industri jasa keuangan…

Bank Banten Buka Kantor Cabang Di Tangerang

      NERACA   Serang - PT Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk (Bank Banten) sebagai bank milik Pemerintah Provinsi…