Dana Rp250 M Nganggur di BI

Rabu, 25/01/2012

NERACA

Jakarta--- Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) mengungkapkan anggaran Bank Indonesia (BI) tersisa Rp250,8 miliar pada 2011 lalu. "Anggaran tak terduga BI tahun lalu sebesar Rp250,8 miliar itu praktis belum digunakan," kata Ketua BSBI, Umar Juoro di Jakarta, Selasa (24/1)

Lebih jauh kata Umar, karena itu lah maka BSBI sebagai badan yang memberikan masukan kepada DPR-RI terkait kebijakan BI, mengusulan membatasi besaran dana yang mengganggur di BI tersebut. "Kita tadi sarankan untuk dikurangi atau dianggarkan kembali. Kami usulkan juga membahas ini apakah dikurangi atau dilimpahkan tahun ini menjadi Rp240,1 miliar," tambahnya

Menurut BSBI, kata Uamr lagi, anggaran operasional BI di tahun ini sudah realistis. Meskipun begitu melihat bahwa efisiensi SDM dan anggaran tak terduga ini bisa ditingkatkan lagi tahun ini.

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR, Sadar Subagyo mengungkapkan pengelolaan anggaran gaji BI yang demikian besar hingga mencapai Rp2,1 triliun belum sebanding dengan kinerja dan tanggungjawabnya. “Belum lagi soal biaya pengembangan dan perawatan SDM yang totalnya mencapai Rp3,69 triliun,” ujarnya

Disisi lain, Sadar juga mempertanyakan soal pengelolaan logistik yang mencapai Rp537 miliar dan kegiatan penyelnggaran operasional kegiatan pendukung. “Coba bayangkan dari total jumlah seluruh karyawan BI di Indonesia yang mencapai 5600 orang, pertahunnya anggaran gaji dipukul rata mendapat sekitar Rp60 juta/bulan. Itu dari pegawai level bawah sampai gubernur. Padahal gaji presiden tak sampai segitu,”ucapnya.

Pada 2011 lalu, Gubernur BI, Darmin Nasution sempat memperkirakan saat itu dana berlebih (ekses likuiditas) milik bank mencapai Rp500 triliun. "Kalau kenaikan kredit year on year sudah mulai melampaui 18-19 persen, itu nanti akan menyerap sebagian besar likuditas," katanya

Menurut Darmin, secara absolut pertumbuhan kredit year to date memang baru mencapai 6%-7%. Namun, jika pertumbuhan tersebut dapat terus dipertahankan, BI menaksir pertumbuhan kredit secara year on year bisa menembus 20%. Tingkat pertumbuhan itu diharapkan bisa menyerap dana berlebih yang mencapai Rp500 triliun. "Absolutnya lebih rendah, karena pada tahun lalu kredit tidak mengalami kenaikan sampai November 2010. Tentunya, dengan kenaikan yang tidak terlalu besar, sekarang bank bisa mencapai kenaikan yang besar," katanya.

BI juga mengambil strategi lain yaitu dengan meluncurkan sejumlah instrumen kebijakan baru seperti term deposits dan aturan lain. Tersendatnya realisasi penyerapan APBN menghambat akselerasi konsumsi dan investasi pemerintah yang seharusnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih optimal.

Karena itu, kata Darmin, realisasi penyerapan anggaran pemerintah rendah berimplikasi pada rendahnya daya dorong konsumsi dan investasi pemerintah terhadap pertumbuhan. Kementerian Keuangan mencatat realisasi penyerapan anggaran belanja negara per 7 November 2011 baru mencapai 69,1% atau Rp912,08 triliun dari pagu Rp1320,75 triliun. Berdasarkan distribusi dan penggunaannya, belanja pegawai sudah mencapai Rp152,32 triliun (83,3%), belanja barang Rp75,85 triliun (53,1%), dan belanja modal Rp57,34 triliun (40,7%). **cahyo