Lagi Profit Taking Bikin IHSG Kembali Loyo

NERACA

Jakarta – Selang sehari indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat, kini indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut kambali terkoreksi 22,975 poin (0,39%) ke 5.882,787 pada penutupan perdagangan saham Rabu (11/10). Indeks LQ45 turun 6,115 poin (0,62%) ke 976,949.

Posisi tertinggi IHSG terjadi di 5.906,135 dan terendah di 5.860,761. Perdagangan saham cenderung ramai dengan frekuensi perdagangan sebesar 276.719 kali transaksi sebanyak 7,0 miliar lembar saham senilai Rp 7,3 triliun. Laju negatif IHSG dipicu jatuhnya 7 sektor saham. Sektor infrastruktur jatuh paling dalam, sebesar 1,62%. Sebanyak 147 saham menguat, 185 saham melemah dan 112 saham stagnan. Asing mencatat jual bersih Rp 800,97 miliar.

Saham-saham yang masuk jajaran top gainers di antaranya adalah Bukit Asam (PTBA) naik Rp 425 ke Rp 11.275, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 400 ke Rp 20.775, Pabrik Kertas Tjiwi (TKIM) naik Rp 280 ke Rp 2.740 dan Indah Kiat Pulp (INKP) naik Rp 220 ke Rp 4.350. Sementara saham-saham yang masuk jajaran top losers di antaranya adalah Indo Kordsa (BRAM) turun Rp 900 ke Rp 4.050, Unilever Indonesai (UNVR) turun Rp 450 ke Rp 48.875, Matahari (LPPF) turun Rp 300 ke Rp 9.200 dan Gudang Garam (GGRM) turun Rp 250 ke Rp 66.000.

Di awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 5,03 poin atau 0,9% menjadi 5.900,72 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 1,27 poin (0,13%) menjadi 981,78 poin.”Sentimen dari internal terbilang positif, namun pergerakan IHSG terkendala dari sentimen ekternal yang cenderung negatif sehingga menahan lajunya," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere.

Dia mengemukakan bahwa konflik geopolitik di semenanjung Korea masih membuat investor khawatir, apalagi muncul kabar Amerika Serikat memastikan siap militer setiap saat jika dibutuhkan menghadapi ancaman perang Korea Utara dan menghentikan program nuklir negara itu.

Dia menambahkan bahwa investor juga sedang mengantisipasi pertemuan tahunan Dewan Gubernur Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang diantaranya membahas upaya meningkatkan angka pertumbuhan, dan memperkecil kesenjangan ekonomi. Selain itu, lanjut dia, IMF juga akan merilis perkiraan pembaharuan ekonomi global jelang rapat tahunan. Sebelumnya, pada Juli lalu IMF memproyeksikan pertumbuhan global tahun 2017 sebesar 3,5% dan tahun 2018 sebesar 3,6%.

Nico mengharapkan bahwa sentimen dari internal mengenai Peraturan Presiden nomor 91 tahun 2017 tentang percepatan izin berusaha, dapat segera terlaksana sehingga kegiatan ekonomi nasional semakin berkembang. Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei dibuka turun 15,61 poin (0,07%) ke 20.807,90, indeks Hang Seng menguat 164,24 poin (0,58%) ke 28.490,83, dan Straits Times melemah 2,61 poin (0,08%) ke posisi 3.288,95.

BERITA TERKAIT

BI Kaji Aktifkan Kembali SBI

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengkaji pengaktifan kembali Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 9 dan 12…

Kapolri - Indonesia Kembali pada Demokrasi Pancasila

Jenderal Pol Tito Karnavian Kapolri Indonesia Kembali pada Demokrasi Pancasila  Jakarta - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan Indonesia harus…

Laju IHSG Awal Pekan Terkoreksi 0,65%

Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/7) awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…