Pendapatan LPKR Ditaksir Bakal Tumbuh 14%

NERACA

Jakarta – Terkoreksinya bisnis properti milik PTLippo Karawaci Tbk (LPKR) di paruh pertama tahun akibat menurunnya daya beli masyarakat, diyakini pelaku pasar tidak akan berlanjut hingga akhir tahun. Kata analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, penurunan pendapatan LPKR dari divisi residential dan urban development, maupun dari township dipicu oleh faktor daya beli masyarakat. Sementara itu,beban perusahaan meningkat. “Beban usaha dan beban lainnya mengalami kenaikan. Saya yakin tujuannya dalam rangka eksekusi program marketing Meikarta secara agresif,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, menurut Nafan penurunan ini masih terbilang moderat. Di semester II nanti pun Nafan melihat adanya peluang peningkatan di kinerja LPKR. Dalam perhitungannya, Nafan memprediksikan pendapatan akan meningkat 14% dengan kenaikan laba bersih 25%. Soal saham, Nafan melihat pada daily trend pergerakan saham LPKR memasuki fase akumulasi dalam rangka membentuk pola uptrend kedepannya.

Nafan merekomendasikan beli saham LPKR dengan target harga jangka panjang di level 850. Sebagai informasi, di semester pertama tahun 2017, PT Lippo Karawaci Tbk mencatatkan pendapatan perusahaan sebesar Rp 4,9 triliun per Juni 2017. Jumlah ini turun 3% year on year (yoy). Diikuti dengan laba kotor juga turun 9% yoy menjadi Rp 2,1 triliun.EBITDA ikut melorot 21% yoy menjadi Rp 962 miliar.

Perseroan juga membukukan laba bersih semester pertama 2017 sekitar Rp 487 miliar. Jika melihat pencapaian laba bersih semester pertama 2016 sebesar Rp 497,7 miliar, artinya keuntungan turun tipis 2,4%. Dari sisi komponen, penurunan pendapatan LPKR dipicu menyusutnya pendapatan dari divisi residential dan urban development yaitu sebesar 25% yoy. Kemudian, pendapatan dari township juga turun 41% yoy.

Namun, LPKR masih terbantu dengan kenaikan pendapatan dari large scale integrated developments yang naik 6% yoy. Kenaikan pendapatan juga terlihat dari divisi komersial dan manajemen aset. Secara umum, perusahaan masih mencatatkan kenaikan recurring income sebesar 8% yoy menjadi Rp 3,6 triliun. Pendapatan berulang ini berkontribusi 73% terhadap total pendapatan LPKR.

Perusahaan juga mendapat dukungan yang kuat dari divisi healthcare. Pendapatan dari healthcare meningkat 8% menjadi Rp 2,8 triliun. Enam rumah sakit dalam genggaman LPKR berkontribusi sebesar Rp 1,3 triliun atau 47% dari total pendapatan perseroan.

BERITA TERKAIT

PSSI Targetkan Pendapatan Tumbuh 20% - Tambah Armada Kapal

NERACA Jakarta – Kembali menggeliatnya industri pertambangan batu bara menjadi berkah bagi perusahaan jasa angkutan pelayaran batu bara untuk memacu…

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

PTBA Berharap Masuk Daftar Indeks MSCI - Market Cap Tumbuh Besar

NERACA Jakarta – Kembali boomingnya bisnis pertambangan batu bara, diharapkan membawa dampak pada pertumbuhan bisnis dan kinerja PT Bukit Asam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…