APLN Revisi Target Penjualan 2011 Menjadi Rp 4 Triliun

NERACA

Jakarta – Meskipun masih baru melantari dibursa efek Indonesia, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) tidak mau kalah ambisinya dengan emiten properti pesaingnya yang terlebih dahulu melakukan go public. Langkah berani yang dilakukan perseroan tahun ini dengan mematok target penjualan sebesar Rp 4 triliun.

Corporate Secretary APLN, Prisca Batubara mengatakan, target penjualan 2011 merupakan revisi dari target sebelumnya hanya dipatok Rp 3 triliun. Progresif target penjualan tahun ini dipertimbangkan, pasca perseroan mengakuisisi tiga proyek properti setelah Initial Public Offering (IPO). “Dana IPO yang di dapatkan langsung digunakan untuk akuisisi tiga proyek, diantaranya apartemen Green Lake di Sunter, Green Permata Residence dan perumahan landed house Grand Taruma di Karawang,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan, perseroan baru merealisasikan dana IPO sebesar 35%. Dimana untuk dana ekspansi tercatat baru mencapai Rp 600 miliar dan rencananya perseroan masih akan terus mengembangkan ekspansi usaha di luar Jakarta untuk tetap mempertimbangkan pasar dan harga tanah.

Kendatipun belum mau menyebutkan total pendapatan 2010 dan land bank perseroan, namun perseroan mengakui kontribusi besar pendapatan tahun ini akan banyak disumbangkan dari proyek baru, seperti Green Lake, Green Permata Residences dan Grand Taruma di Karawang.

Kata Prisca, recure income perseroan pada tahun 2015 ditargetkan mencapai 50% dari total pendapatan. Dimana diambil dari hotel dan mall dan service apartemen. Jumlah tersebut meningkat pesat dibandingkan recuring income perseroan pada tahun 2010 sebesar 3% dari total pendapatan. “Kita targetkanrecuring incomedi 2015 bisa mencapai 50% dengan asumsi proyek yang diakuisisi sifatnya tidak ditambah atau bukan strata," tandasnya.

Kemudian belanja modal tahun 2011 ditargetkan sekira Rp1,5 triliun-Rp2 triliun. Adapun dana untukcapexini berasal dari pinjaman, keuntungan tahun lalu, pinjaman, serta dari hasil presale.

Saat ini perseroan memiliki Podomoro City, Senayan City, Gading Nias Residence, Festival City Link, Green Bay Pluit, The Lavande, Lindeteves Trade Center, dan Kuningan City. Keseluruhan proyek tersebut sudah 100% selesai pengerjaannya dan tinggal serah terima kunci.

Selain itu, tiga proyek yang telah diakuisisi perseroan diantaranya Green Permata Residence di Ulujami dengan luas lahan 14 hektar dan konon 120 unit tahap pertama sudah terjual dan sedang membangun tahap berikutnya, Green Lake Sunter dan Grand Taruma di Karawang dengan luas lahan 40 hektar.

Sebagaimana diketahui, November 2010 lalu Agung Podomoro Land melaksanakan IPO-nya. Perseroan berencana melepaskan 20.500.000.000 saham terdiri atas 14.350.000.000 saham pendiri dan 6.150.000.000 saham publik. Total dana yang akan diperoleh perseroan melalui IPO ini sebesar Rp 2,224 triliun.

Dana hasil IPO itu sebesar 30% dari dana sebesar itu akan digunakan untuk akuisisi dan pengembangan proyek baru. Sekitar 35% akan dialokasikan untuk penyelesaian konstruksi apartemen, hotel dan kantor proyek Central Park, sedangkan 25% sisanya akan dipakai untuk membayar utang.

Asal tahu saja, roadshow perseroan dalam penawaran saham perdana kepada investor asing berbuah manis. Setelah melakukan kunjungan ke lima kota seperti Singapura, Hongkong, Amsterdam, Frankfurt dan London, terdapat kelebihan permintaan(oversubscribed)saham sebanyak lima kali.

Meskipun mengklaim berhasil mencetak kelebihan permintaan, ternyata harga penawaran saham perdana aliasinitial public offering(IPO) Agung Podomoro Land ini hanya dibanderol RP 365 per saham.

Harga tersebut termasuk harga pada batas bawah yang sebelumnya ditawarkan Agung Podomoro Land yaitu di harga Rp 350-Rp 450 per lembar saham. Artinya, dari aksi korporasi ini perusahaan properti tersebut paling banyak akan mendapatkan Rp 2,24 triliun. Itu pun dengan catatan, Agung Podomoro Land merilis saham sebanyak 6,15 miliar pada IPO.

Related posts