Penguatan Karakter Tak Melulu Soal Akademis

Usai ujian akhir semester, Martin seorang guru mata pelajaran sibuk menyiapkan nilai para siswanya. Selain nilai akademis, ia memberi penilaian terkait pencapaian non-akademis para siswa di sekolah. Lembaga pendidikan tempat ia mengampu di Jakarta Selatan memang mengadaptasi kurikulum pelajaran internasional. Penilaian seorang siswa di sekolah itu dilakukan tak semata berdasarkan nilai akademis.

Sejalan dengan penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter, para guru di seluruh sekolah di Indonesia pun akan melakukan hal serupa. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga kini masih menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) terkait program itu.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, salah satu wujud nyata pendidikan karakter di sekolah adalah dengan mengembangkan minat dan bakat siswa. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana mewajibkan semua sekolah menerbitkan rapor dengan nilai ganda yang bisa diterapkan mulai 2018. Para guru nantinya akan memberi laporan nilai akademis dan pengembangan kepribadian siswa. "Rapor ini memaksa guru untuk scouting, mencari minat dan bakat dari anak itu," kata Muhadjir.

Selama ini, seorang siswa dianggap berprestasi di sekolah bila nilai akademisnya gemilang. Pemerintah berharap sekolah, utamanya para guru, mulai menghilangkan penyeragaman itu. Howard Gardner, seorang profesor psikologi dari Harvard University mengemukakan teori kecerdasan jamak (multiple intelligence).

Gardner mengidentifikasi sejumlah kecerdasan yakni musical/rhythmic intelligence bodily/kinesthetic intelligence, logical/mathematical intelligence, visual/spatial intelligence, verbal/linguistic intelligence, interpersonal intelligence, dan intrapersonal intelligence. Dalam perkembangannya ada satu jenis kecerdasan tambahan yakni naturalistic intelligence. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu akan diubah menjadi kompetensi.

Sementara kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi yang dimikili tiap siswa menjadi kompetensi, sesuai dengan cita-citanya.

Oleh karena itu, proses pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung di sekolah harus berorientasi kepada invidu peserta didik. Penerapan pendidikan karakter juga tak mesti dilakukan semua oleh sekolah jika memiliki keterbatasan sumber daya. Sekolah bisa saja bekerja sama dengan lembaga lokal yang letaknya tak jauh dari gedung pendidikan.

BERITA TERKAIT

IHSG Lanjutkan Penguatan di Akhir Pekan

NERACA Jakarta –Mengakhiri perdagangan Kamis (19/4) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat sebesar 35,89…

Sentimen Asia Dukung Penguatan IHSG

Mengakhiri perdagangan Rabu sore kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat sebesar 34,23 poin seiring…

Panglima TNI - Keikutsertaan Pensiunan TNI Tak Pengaruhi Netralitas

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto Panglima TNI Keikutsertaan Pensiunan TNI Tak Pengaruhi Netralitas Jakarta - Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto,…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Indonesia Terlambat Terapkan HOTS

    Pakar pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Prof Wuryadi menilai penerapan pembelajaran dengan pendekatan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau "Higher…

Efektifkah Memberikan Hukuman Kepada Anak?

      Sebuah kasus kekerasan terhadap siswa kembali muncul. Beberapa waktu lalu, RM seorang guru di SD di Serdang…

Sudah Saatnya Pelajaran Coding Hadir Di Sekolah

      Kemajuan teknologi informasi (TI) harus diimbangi pembelajaran yang tepat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) didesak mulai mengajarkan…