Wisata Pasca Erupsi Merapi

Neraca. Sensasi luar biasa akan Anda rasakan ketika berada disalah satu area bekas letusan gunung berapi. Pemandangan, aroma udara, bahkan sejumlah bangunan berdebu menjadi bagian dari volcano tour atau wisata gunung berapi. Seperti yang terdapat di Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Nama desa ini menjadi terkenal karena merupakan desa tempat tinggal juru kunci Merapi, Maridjan, yang tewas terkena awan panas karena menolak meninggalkan desa.

Setahun sudah bencana erupsi Gunung Merapi 2010 berlalu. Bencana yang terjadi pada 26 Oktober 2010 lalu ini, menurut data dari beberapa media, telah memakan korban sedikitnya 165 jiwa akibat terjangan awan panas atau wedus gembel, termasuk juru kunci Merapi Mbah Maridjan yang tinggal Dusun Kinahrejo.

Dusun Kinahrejo ini termasuk wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat bencana tahun 2010 yang lalu. Dan pada libur akhir tahun 2011kemarin, meski sudah terjadi dua tahun yang lalu, sisa-sisa kedahsyatan alam masih bisa kita saksikan.

Dari tempat ini Anda dapat melihat dampak letusan Merapi berupa pepohonan yang meranggas, tanah yang masih bercampur dengan abu dan kerikil, serta gunung yang masih terlihat gagah. Anda dapat menyewa motor trail untuk mengantar Anda melihat lebih dekat.

Akibat erupsi Gunung Merapi, yang oleh para ahli vulkanologi merupakan yang terbesar, meninggalkan sisa – sisa pasir yang diperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 150 juta m3. Jumlah yang sangat besar. Luapan pasir dan batu-batu yang besar, turun terbawa air kalau hujan. Banjir lahar dingin begitu istilah kerennya, benar-benar menghantui warga masyarakat.

Akibat lahar dingin ini, tidak hanya menutup tiga desa, akantetapi juga sampai ke jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta-Mageleng. Seringnya terjadi lahar dingin, tepatnya di daerah Secang, jalan sering ditutup akibat luapan pasir dan batu – batu dari Kali Putih. Setiap kali terjadi banjir lahar dinggin, tinggi pasir di jalan raya tidak kurang dari 1 meter. Bahkan akibat banjir lahar dingin yang terjadi, juga menggerus badan jalan.

Kerugian akibat kerusakan infrastruktur yang berupa jalan, jembatan dan berbagai fasilitas umum lainnya, tentunya sangat besar. Belum lagi, warga masyarakat yang kehilangan rumah dan juga mata pencahariannya yaitu sebagai petani dan juga peternak. Semua musnah tertutup pasir dan batu – batu.

Sebelum peristiwa wedus gembel, 2010 silam desa Kinahrejo merupakan kawasan wisata yang cukup ramai dikunjungi banyak turis baik lokal maupun mancanegara. Hal ini dikarenakan Desa Kinahrejo merupakan jalur pendakian yang paling mudah bagi pengunjung jika ingin menggapai puncak Merapi.

Desa Kinahrejo juga memiliki panorama sangat menawan, penduduknya juga sangat ramah terhadap para wisatawan yang datang. Selain itu, desa ini memiliki tujuh mata air serta ditambah atraksi budaya proses Labuhan. Beberapa hal tersebut itulah yang membuat desa ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Ibarat pepatah, dibalik kesulitan ada kemudahan, begitupun dengan kondisi Kinahrejo kini. Karena desa ini kembali ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal ataupun mancanegara yang ingin melihat sisa-sisa keganasan Merapi serta rumah dan pemakaman Mbah Maridjan yang legendaries itu.

Masyarakat setempat berusaha mencari penghasilan dengan membuka warung-warung di pinggir jalan. Beberapa warung menjual makanan khas setempat, misalnya salak pondoh dan jadah tempe. Ada pula yang menjual suvenir berupa kaus bergambar atau bertuliskan “Merapi”. Yang lain menyediakan makanan dan minuman ringan.

Bahkan di masa-masa liburan ataupun liburan panjang, lokasi parkir yang bisa menampung kurang lebih 200 mobil tersebut bisa penuh terisi. Sebagian orang percaya, kondisi ini terjadi karena berkah dari Mbah Maridjan. Namun diluar itu semua, bekas erupsi Merapi memang memberikan nuansa wisata yang berbeda dengan tempat lain dari wisata Yogya.

Selain itu, dari Desa Kinahrejo kita bisa memandang misteri puncak Merapi yang cantik dan penuh misteri dari kejauhan. Tempat lain di sekitar Merapi yang kini juga sering menjadi pusat perhatian adalah di sekitar Kali Jumoyo, Muntilan, Jawa Tengah. Di sini Anda dapat melihat batu-batu luar biasa besar yang dibawa oleh lahar dingin Merapi. Di sekitar Jumoyo kini banyak warung-warung berdiri untuk mengakomodasi wisatawan yang datang ke tempat tersebut.

Jalan Yogya-Magelang di sekitar Jumoyo pun biasanya padat. Di samping karena masih banyak perbaikan jembatan dan jalan di wilayah tersebut, orang juga cenderung melaju lambat untuk melihat atau mengambil gambar.

Tetapi, tidak lengkap rasanya bila Anda hanya menyaksikan lokasi bencana tanpa berkunjung ke Museum Merapi yang didirikan di Sleman. Di sini Anda dapat memperluas pengetahuan tentang gunung berapi.

Apabila Anda tidak sempat naik ke lereng Merapi, Anda dapat menyaksikan bukti keganasan Merapi di Kali Code, sungai yang membelah pusat kota Yogyakarta. Di lembah Kali Code yang terletak tak jauh dari Malioboro, material berupa pasir dan batu yang dibawa lahar dingin masih menumpuk. Banyak warga yang melintas, menyempatkan diri untuk berhenti dan mengambil gambar dari jembatan.

Bagaimanapun, pemandangan di lereng gunung lebih dramatis. Selain itu, bila Anda memiliki rejeki berlebih, berikanlah sumbangan semampu Anda di posko-posko yang tersedia. Saat ini masih ada ribuan korban Merapi yang masih tinggal di hunian sementara (huntara). Dengan demikian, sambil berwisata Anda pun dapat membantu.

Related posts