Teknologi Isara Untuk Penderita Difabel

Sabtu, 28/01/2012

Neraca. Perkembangan teknologi dari waktu ke waktu semakin canggih, namun penyesuaian teknologi tersebut tidak sejalan terhadap perbedaan atau kekurangan yang dimiliki oleh beberapa kalangan. Misalnya penggunaan teknologi bagi kaum difabel atau tunarungu. Kaum Tunarungu adalah salah satu kaum minoritas yang masih terpinggirkan hak-haknya, termasuk dalam hal ini pemenuhan atas kebutuhan teknologi. Padahal, sebagai manusia, kaum tunarungu memiliki hak yang sama untuk memperoleh edukasi dan informasi.

Pada dasarnya, semua penderita difabel ini membutuhkan sebuah teknologi yang dapat membantu mereka beraktifitas dan tidak perlu bergantung kepada orang normal, terutama dalam hal yang berhubungan dengan TI. Yang pasti, para penderita difabel ini membutuhkan sebuah aplikasi yang dapat membantu mereka dalam menjalankan PC maupun ponsel.

Business analyst Muhammad Endri Irfanie bersama dengan temannya, leader Rizky Ario Nugroho dan multimedia designer Arnanto Akbar membentuk tim kompetisi bernama dreamBender pada akhir 2010, berhasil mewujudkan mimpi membantu orang lain. mereka menggabungkan hobi dan pengetahuan untuk menciptakan sebuah aplikasi baru yang cara operasionalnya disesuaikan dengan kebutuhan kaum tunarungu.

Teknologi tersebut bertujuan agar perbedaan yang dimiliki oleh kaum difabel tidak menjadi penghalang mereka untuk menikmati kecanggihan teknologi, menjadi manusia yang “melek teknologi”.

Aplikasi yang diciptakan tersebut diberi nama Isara. Isara adalah sebuah aplikasi yang didedikasikan kepada tunarungu/wicara atau siapa pun yang ingin belajar bahasa isyarat. Aplikasi kamus bahasa isyarat ini berbasis NUI (Natural User Interface). Alat yang diciptakan dengan menggunakan Kinect sebagai sensor gerak dan video, didesain agar tuna rungu menjadi lebih asyik, interaktif, real time, dan menyenangkan dalam belajar bahasa isyarat.

Di tangan mahasiswa Institut Teknologi Bandung teknologi sensor Kinect XBOX 360 dari Microsoft yang pada awalnya digunakan sebagai teknologi yang menjadikan game tambah mengasyikkan dengan menggunakan sensor gerak tubuh atau gesture, dibesut menjadi sensor bantu untuk kaum difabel, yaitu tuna rungu.

Aplikasi ini utamaya merupakan perangkat sensor yang dihubungkan dengan PC webcam. Kemudian, pengguna berdiri di depan sensor dalam jarak satu meter. Dalam layar akan muncul menu utama, yang berisi kamus, video, dan game yang semuanya berbasis gesture.

Fitur game berisi tebakan sebuah kosa kata yang harus dijawab dengan gesture, pengguna akan menirukan gambar video, nanti terlihat apakah gerakan tubuh sudah benar atau belum, jika salah atau benar akan muncul notifikasinya.

Aplikasi Isara sudah diujicoba pada 2011 di Sekolah Luar Biasa (SLB) 6 Jakarta Barat, dan respon para siswa difabel sangat positif. Selanjutnya aplikasi ini akan dikembangkan di SLB dan komunitas tunarungu. Endry berharap Kementerian Sosial dan Kememterian Pendidikan dan Kebudayaan dapat bekerjasana untuk distribusi aplikasi ini agar SLB tidakmengeluarkan biaya untuk membeli alat ini.

Agar lebih seru, dalam waktu dekat akan meng-upload aplikasi ini dalam platform berbasis jejaring sosial. Sehingga para tunanetra dapat saling bersosialisasi.

Endri dan kawan-kawan pun akan mengembangkan secara komersial hasil karyanya ini. Ia mengatakan harga aplikasi Rp 500 ribu, sedangkan sensornya Rp 700 ribu.

Dalam membangun produk, dreamBender mengadopsi jargon dari UKM, Programming Club IT Telkom Bandung, yaitu Dream-Think-Code. Pembangunan dibagi menjadi tiga fase, yaitu Dream, atau fase pencarian ide (brainstorming); Think, fase planning, riset existing teknologi, konsultasi kepada expert dan penguraian masalah; dan terakhir Code, fase implementasi (execution).

Prestasi yang diraih.

Atas karya ini, mereka menyabet Pemenang Terbaik I Kategori Teknologi Informasi dan Komunikasi Mandiri Young Technopreneur Award 2011. Hadiah sebesar Rp 50 Juta, dan modal awal Rp. 1,5 milyar pun berhak dibawa pulang.

Selain aplikasi Isara, Endry beserta timnya juga menciptakan cukup banyak proyek dan Prestasi lainnya, seperti Sparkins ( first runner-up di Windows 7 Touch Challenge Imagine Cup 2011), bersanding dengan Prancis dan mengalahkan Jepang. Gol dari kategori ini antara lain bagaimana Windows 7 Touch dapat meningkatkan aksesibilitas teknologi kaum difabel. Dari tim dreambender mulai melakukan brainstorming riset terhadap tools dan teknologi yang digunakan kaum difabel (tunarungu, tunanetra, tunawicara).

Aksara (nominasi E-Inclusion Inaicta 2011) adalah aplikasi yang memudahkan akses buku pada kaum difabel dan tunaaksara. Cara kerja Aksara adalah dengan menangkap halaman buku menggunakan webcam, kemudian menyampaikan tulisan dari halaman tersebut dengan menyesuaikan kemampuan pembacanya.

Ecomarket (3rd runner-up software design pada Imagine Cup 2011 Indonesia) yakni sistem struk belanja berbasis Cloud. Cara kerjanya adalah mengirim setruk belanja digital di setiap transaksi di toko/minimarket/supermarket, dan memberikan fasilitas kepada pelanggan untuk mengakses struk belanja digital tersebut.