Layanan CommuterLine

Oleh: Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Problem kereta anjlok di Stasiun Manggarai, Jakarta, sudah sering terjadi pada jam sibuk. Yang pasti, ribuan penumpang menjadi korban keterlambatan masuk kantor, mengingat sebagian besar penumpang KRL di pagi hari adalah karyawan. Apalagi Stasiun Manggarai merupakan jalur transit yang dilintasi 75% kereta di Jakarta.

Tentu saja banyak penumpang di beberapa stasiun mengeluhkan lemahnya informasi dari KRL CommuterLine Indonesia (KCI) atas kejadian tersebut. Mereka yang selama ini menggunakan KRL lebih dari 10 tahun, merasa disepelekan oleh layanan manajemen KCI. Misalnya, petugas stasiun dengan santainya mengumumkan agar penumpang menggunakan moda transportasi lain, atau meminta kembali uangnya di loket pembayaran.

Tidak hanya itu. Perjalanan KRL sering tersendat ketika akan memasuki stasiun Manggarai maupun Gambir hampir setiap hari. Ini menunjukkan kurang tanggapnya manajemen KCI dalam menghadapi krisis seperti kereta anjlok.

Bayangkan saja, masyarakat yang setiap hari menggunakan KRL dari Bogor-Jakarta maupun Bekasi-Jakarta, mengeluhkan lambatnya informasi yang disampaikan manajemen KCI jika ada problem keterlambatan jadwal perjalanan. Yang selama ini diberitahukan adalah permohonan maaf yang disampaikan oleh petugas KA di dalam KRL. “Kami bosan mendengar pernyataan minta maaf, karena tidak menjelaskan situasi apa yang sebenarnya terjadi kepada penumpang yang sedang dalam perjalanan,” ujar Andri, penumpang KRL dari Stsiun Bekasi.

Proses evakuasi terhadap KRL yang anjlok di perlintasan Manggarai, Selasa (3/10) sempat mengganggu lalu lalang kereta lainnya yang melintas. Evakuasi yang berjalan sekitar 6 jam lebih itu sudah pasti menghambat perjalanan KRL lainnya baik dari Bogor maupun Bekasi ke Jakarta, dan sebaliknya.

Lambannya proses evakuasi dan lemahnya manajemen krisis yang dilakukan KCI memang sangat disesalkan oleh berbagai kalangan. Selain penumpang tidak mendapatkan informasi detil mengenai kapan waktu selesainya proses evakuasi, penumpang terpaksa harus menggunakan ojek atau angkutan umum lainnya yang tentunya biaya lebih mahal.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun menanggapi kasus anjlok maupun gangguan lainnya terhadap perjalanan KRL Commuter Line, harusnya dapat diantisipasi sejak dini oleh pihak KCI bila instansi tersebut memiliki strategi khusus dalam menangani kondisi darurat. Seperti bagaimana mengamankan penumpang jika terjadi ihwal yang mengganggu pelayanan.

”Anjloknya KRL menandakan safety dari KRL masih minim,” ujar pengurus YLKI. Pendapat senada juga dilontarkan Komisioner Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setiowarno. Menurut dia, tidak semestinya persinyalan menjadi penyebab anjloknya kereta. Maka itu, Daop 1 PT KAI dan PT KCI harus membenahi persinyalan ini supaya tidak terulang lagi kejadian serupa.

Kita tentu senang sekali tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera mengusut peristiwa anjloknya KRL dan mengumumkan secara transparan ke publik apa penyebabnya. KNKT juga meneliti proses SOP perawatan KRL apakah rutin dilaksanakan setiap waktu, dan sekaligus menjatuhkan sanksi terhadap aparat penanggung jawabnya, jika terbukti lalai sehingga menyebabkan kerugian moril maupun materiil penumpang KRL. Semoga!

BERITA TERKAIT

Kioson Hadirkan Layanan Agen Kios-Pos

Perluas ekspansi bisnis, PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) menggandeng PT Pos Indonesia (Persero) meluncurkan program kemitraan, Kios-Pos. Program tersebut…

Defisit BPJS Kesehatan Jangan Sampai Hentikan Layanan Kesehatan

  NERACA   Jakarta - Defisit yang dialami oleh program BPJS Kesehatan jangan sampai menghentikan layanan tersebut karena merupakan hal…

MKNT Bangun Ekosistem Layanan Digital - Dukung Efisiensi Bisnis

NERACA Jakarta – Perkuat kinerja keuangan, tahun ini PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) kian akan menyasar layanan digital. Direktur…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Petahana & Terdakwa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Riak pesta demokrasi berlabel pilkada serentak mulai satu…

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…