Medsos: Pemecah dan Pemersatu Bangsa

Oleh: Bento Ahmadi, Mahasiswa Pasca Sarjana Fisipol Universitas Pakuan

Perkembangan media sosial bagaikan pedang bermata dua bagi keutuhan sebuah bangsa. Perkembangan media sosial menawarkan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain. Faktor jarak dan waktu tidak lagi menjadi halangan dalam menjalin silaturahmi antar masyarakat. Namun di sisi lain perkembangan media sosial juga dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu dan memecah belah bangsa Indonesia ketika disalahgunakan, seperti untuk menyebarkan berita palsu (hoaks) dan ujaran kebencian.

Hoaks dan ujaran kebencian merupakan topik perbincangan yang cukup meluas di antara warganet Indonesia sejak akhir 2016 hingga medio 2017. Berbagai isu yang menyangkut SARA disebarluaskan baik secara terang-terangan maupun secara anonim melalui media sosial. Perihal ini menjadi semakin miris ketika disinyalir ada sejumlah oknum yang menggunakan isu-isu tersebut untuk menunjang tujuan politik dan ekonominya tanpa mempertimbangkan dampak perpecahan di antara sesama anak bangsa yang diakibatkannya. Masyarakat Indonesia seolah-olah sedang berperang menghadapi bangsanya sendiri ketika diterpa oleh isu-isu tersebut.

Namun demikian, atmosfer yang berbeda dapat kita rasakan ketika tiba momen SEA Games 2017, di mana bangsa Indonesia berulang kali diciderai oleh pihak panitia. Hal ini bermula dari terbaliknya foto bendera Merah Putih pada buku petunjuk SEA Games 2017, insiden di mana kontingen sepak bola Indonesia kehabisan jatah makan di hotel, hingga keputusan wasit juri yang dinilai memihak pada pertandingan Sepak Takraw dan Pencak Silat. Seluruh warganet Indonesia secara spontan serentak mengecam pihak penyelenggara atas kejadian-kejadian tersebut dan satu suara memberikan dukungan moril kepada kontingen Indonesia yang masih berlaga di SEA Games 2017. Semangat persatuan ini mampu muncul akibat perasaan senasib karena telah diciderai oleh pihak penyelenggara SEA Games 2017.

Mendahulukan ego kelompok dan bersedia bersatu ketika di bawah tekanan bangsa lain merupakan sifat buruk bangsa Indonesia yang telah ada semenjak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan berbagai keragaman manusia dan alamnya, Indonesia sejatinya memiliki potensi menjadi salah satu negara adidaya jika saja masyarakatnya mampu memanfaatkan kekayaan yang dimilikinya secara bijak.

Namun perpecahan yang terjadi akibat permusuhan antar masyarakat yang melibatkan isu SARA menjadi hambatan tersendiri yang masih perlu diselesaikan oleh pemerintah. Medsos menjadi salah satu kunci untuk menyatukan visi dan misi bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Sekarang tergantung kita ingin memilih masa depan bangsa yang gemilang atau menuju kehancuran.

BERITA TERKAIT

PKL dan Angkot Hambat Pejalan Kaki

Hampir setiap jam kerja pagi maupun malam hari, penumpang KRL Commuterline setelah turun di stasiun Bekasi sering sulit berjalan kaki…

Alasan Bunga Murah, LPDB Jadi Incaran Koperasi dan UKM

Alasan Bunga Murah, LPDB Jadi Incaran Koperasi dan UKM NERACA Semarang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil,…

Pertemuan IMF dan World Bank Bakal Beri Keuntungan untuk Indonesia

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia menyatakan pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang berlangsung…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Empat Pilar Ideologi ISIS

  Oleh: Alwi Abdurrahman Shihab, Mantan Menko Kesra Kabinet Indonesia Bersatu Lahirnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan…

Menyoal Temuan Sementara Pansus KPK

Oleh: Panca Hari Prabowo Panitia Khusus hak angket DPR RI tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibentuk Juni telah menyampaikan…

Registrasi SIM Card Jamin Keamanan Digital Publik

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Per 31 Oktober 2017, para pengguna kartu…