Investment Grade dan Potensi Bubble

Rabu, 25/01/2012

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Setelah Fitch Ratings memperbaiki peringkat utang jangka panjang Indonesia dalam bentuk valuta asing dari non investment grade BB- ke investment grade BBB- pada 15 Des. 2011 lalu, sebulan kemudian Moody’s Investor Service menaikkan peringkat kredit Indonesia dari non investment grade Ba1 ke investment grade Baa3. Kenaikan peringkat tersebut tidak terlepas dari tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut yang sekaligus membuktikan handalnya ketahanan ekonomi Indonesia terhadap dahsyatnya guncangan krisis global yang telah memporakporandakan ekonomi zona Eropa dan menebarkan kecemasan ke seluruh dunia.

Realitasnya pertumbuhan ekonomi Indonesia terus melaju dari 4,6% pada 2009 menjadi 6,4% (2010), 6,5% (2011) dan 6,7% (2012) berdasarkan prediksi IMF. Prestasi mulus ini telah mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus angka psikologis 4.000 pada penutupan perdagangan pekan ketiga (20/01). Namun dibalik itu kita harus ingat bahwa kenaikan IHSG tersebut tidak ditopang oleh kapitalisasi pasar yang memadai.

Salah satu indikasinya adalah tingginya price earning ratio (PER) IHSG yang masih mencapai 17,75 kali. Rasio ini lebih tinggi dibandingkan PER Strait Times (Singapura) 6,93 kali, DJIA (US Dow Jones) 13,03 kali, Hang Seng (Hongkong) 9,04 kali, Nikkei (Jepang) 10,20 kali, dan SET (Thailand) 12,96 kali. Hal ini mengindikasikan bahwa IHSG yang terbentuk sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan kinerja fundamental bursa. Jika kondisi ini tidak segera dibenahi dapat berpotensi terjadi bubble yang menggelembung di sektor keuangan tidak diimbangi oleh kinerja sektor fundamental (riil).

Sebagai langkah awal pembenahan, kita harus menggenjot lagi kapitalisasi pasar modal dengan memperbanyak perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) melalui pemanfaatan momentum kenaikan IHSG yang memberi peluang bagi perseroan untuk mendapatkan valuasi harga perdana yang tinggi. Akan tetapi perusahaan yang melakukan IPO hendaknya diseleksi kapitalisasi modalnya yang memadai sehingga kinerja fundamentalnya dapat mengimbangi kenaikan harga sahamnya.

Momentum ini tidak akan berlangsung lama mengingat bahwa pada kondisi ini rasio harga saham terhadap laba perseroan (PER) juga akan menjadi lebih tinggi. Perlu disadari bahwa PER saham-saham di Indonesia sekarang ini sudah berada pada rentang rata-rata 13 hingga 15 kali yang berarti harga saham-saham di bursa sudah cenderung tinggi. Mahalnya harga saham ini memiliki resistensi harga yang sempit dan harus diwaspadai segera terjadinya titik balik. Artinya IHSG berpotensi kembali terkoreksi setiap saat dalam waktu dekat.

Solusi yang lebih bersifat permanen adalah pemerintah harus melakukan inovasi dalam pembangunan sektor riil guna menampung potensi membanjirnya arus modal asing yang masuk ke Indonesia seiring dengan investment grade. Agar modal asing tersebut tidak hanya menjadi hot money di bursa efek, maka pemerintah harus secepatnya membenahi persoalan pembangunan infrastuktur. Penyuksesan master plan perluasan dan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) perlu ditopang dengan inovasi sumber pendanaan lain dalam jumlah besar dan jangka waktu panjang, tidak hanya mengandalkan APBN. Masalahnya rencana pendanaan MP3EI 2011-2014 yang dari APBN mencapai Rp363,5 triliun, sedangkan kapasitas pendanaan APBN 2011 dan 2012 hanya Rp57,3 triliun. How comes?