Euforia Prospek Indonesia 2012

Selasa, 24/01/2012

Pasca Investment Grade yang diberikan dua pemeringkat internasional, Fitch dan Moody’s, Indonesia sudah memasuki rancangan program pembangunan 2012 yang telah diagendakan. Namun persoalannya, sebagus apa pun rancangan program yang dicanangkan satu tahun ke depan, tidak akan bermakna apa-apa bagi kemajuan negara dan penyejahteraan rakyat, bila sejumlah elit pemerintah masih tetap bersikap individualistik dan koruptif yang sudah akut menjangkiti mereka belakangan ini.

Harapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar birokrat jangan berbuat korupsi tampaknya sia-sia belaka. Pasalnya, semua bencana persoalan kebangsaan yang kita hadapi saat ini berakar dari integritas dan loyalitas kinerja birokrat. Karena itu, rakyat sangat berharap pada 2012 ini jajaran pemerintahan bisa bekerja lebih baik. Ini penting agar mereka meninggalkan kenangan indah sebelum masa jabatannya berakhir.

Walau sikap apatisme di antara elit pemerintah sudah sedemikian parah, mereka tentu masih memiliki jiwa-jiwa kemanusiaan. Mereka pasti masih terselip rasa rindu kebajikan yang menentramkan dan menyejukkan. Persoalannya, apakah mereka tetap saja tidak berubah?

Pada tahun lalu, masih banyak peristiwa kebangsaan yang lekat dalam ingatan kita, terutama menyangkut korupsi dan perpolitikan negeri ini. Kita sering dibuat miris oleh tingkah dan sikap di antara politikus negeri ini yang apatis terhadap kepentingan rakyat.

Memang kita menyadari sumber bencana dari semua persoalan bangsa Indonesia karena sikap di antara para politikus negeri ini yang individualis dan koruptif. Sehingga, hampir semua kebijakan dan kinerjanya jauh dari penyejahteraan rakyat. Ada kesan, seolah kehidupan bernegara digiring oleh elit pemerintah sesuai kehendak pribadi dan kelompoknya.

Lihat fakta masih tingginya angka kemiskinan, banyaknya pengangguran, penegakan hukum yang amburadul, ketidakadilan, dan kekerasan, merupakan bukti konkret bahwa kinerja elit pemerintah belum sesuai harapan. Apalagi, masih banyak di antara mereka hanya mengeruk keuangan negara dari gaji dan korupsi yang mereka lakukan, tetapi tidak memberikan kontribusi banyak bagi penyejahteraan rakyat.

Walau demikian, sekeras apa pun batu, ia akan luluh jika setiap hari dijatuhi air. Oleh karena itu, sikap saling mengingatkan penting untuk tetap dilestarikan dalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu tidak cukup dengan sikap saling mengingatkan, tetapi juga harus dengan implementasi konkret, supaya tindakannya nyata, baik dari rakyat maupun pemerintah, sehingga tercipta lingkungan yang baik dan bebas dari tindakan koruptif.

Tantangan 2012 semakin jelas di depan mata, terutama menyangkut persaingan ekonomi global. Belum lagi, kita bicara tentang pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai pada 2011. Kasus korupsi masih banyak yang belum selesai, kemiskinan hanya diukur dengan angka statistik, pengangguran kian meningkat, hukum jadi komoditas yang laris diperdagangkan, dan kekerasan sering mewarnai pejalanan kebangsaan kita.

Peluang sekaligus tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia pada 2012, perlu disikapi sebijak dan rasional mungkin. Masa depan Indonesia ada pada semua anak bangsa Indonesia, mulai dari rakyat biasa, pelajar, guru, mahasiswa, dosen, tokoh agama, ilmuwan, peneliti, pengusaha, politikus, dan pemerintah harus bersinergi dengan baik membangun mitra kerja sama, dengan mengedepankan sikap nasionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila serta amanat UUD 1945.

Apabila semua komponen bangsa tersebut berkomitmen sama, dapat dipastikan Indonesia akan segera berjaya dan menjadi negara yang disegani oleh dunia. Namun, sebelum bergerak menghadapi peluang pada 2012, kita sebaiknya menyelesaikan semua persolan yang menumpuk pada 2011. Sebab, jika tidak segera diselesaikan, akan menular dan berkembang biak terus sehingga membuat kita semakin bingung dan sulit merealisasikan cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan adil dalam waktu cepat.