EBA DIPP1 Oversubscribed Hingga 2,7 Kali - Tawarkan Return Capai 8,25%

NERACA

Jakarta- Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) lewat anak usahanya, PT Indonesia Power (IP) mencatatkan kontrak investasi kolektif (KIK) efek beragun eset (EBA) bernama EBA Danareksa Indonesia Power PLN1-Piutang Usaha (EBA DIPP1) senilai Rp4 triliun.”Penerbitan EBA DIPP1 itu merupakan bagian dari rencana strategis Indonesia Power untuk melakukan sekuritisasi EBA sebanyak-banyaknya Rp10 tnliun, dan akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun 2018, sebagai salah satu sumber pendanaan mendukung program 35.000 MW," kata Direktur Utama Indonesia Power, Sripeni Inten Cahyani di Jakarta, kemarin.

Sripeni Inten mengemukakan bahwa aset dasar disekuritisasi adalah aset keuangan yang merupakan bagian dari piutang penjualan ketenagalistrikan PLTU Suralaya 1-4. Saat ini, Indonesia Power mengelola operasl dan pemeliharaan 14.826 MW pembangkit, terdiri atas delapan unit pembangkit, yaitu Suralaya, Semarang, Perak Grati, Saguling, Bali, Mrica, Priok dan Kamojang, satu unit jasa pemeliharaan, dan mengoperasikan 13 pembangkit millk PLN.

Dirinya menuturkan, penawaran EBA DIPP1 mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 2,7 kali. Dalam aksi korporasi itu, Indonesia Power menunjuk Danareksa Investment Management sebagai manajer investasi.

Sementara itu, Direktur Utama Danareksa Investment, Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan bahwa imbal hasil (return) KIK EBA Indonesia Power mencapai 8,25% per tahun. Sementara perseroan dan produk KIK EBA memperoleh peringkat AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Prihatmo menambahkan bahwa EBA DIPP1 itu memiliki peringkat AAA (triple A). Dengan demikian, produk investasi itu cenderung aman karena aset dasarnya adalah piutang Indonesia Power kepada PLN. Dirinya menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mendukung pemerintah untuk membiayai kebutuhan dana infrastruktur mengingat kebutuhan dana pembangunan infrastrutur Indonesia sangat besar.”Kebutuhan dana besar sekali, APBN dan dana BUMN tidak cukup sehingga perlu partisipasi publik," katanya.

Prihatmo Hari Mulyanto juga mengatakan bahwa apabila produk sekuritisasi di dalam negeri sudah cukup kuat, maka potensi pencatatan produk itu bisa dialkukan di luar negeri. Dengan demikian, KIK EBA Indonesia Power tahap selanjutnya dapat dicatatkan di luar negeri. Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution yang turut hadir mengatakan, KIK EBA yang dicatatkan ini merupakan yang kedua, setelah KIK EBA Mandiri JSMR01-Surat Berharga Pendapatan Tol Jakarta Bogor-Ciawi (Jagorawi) senilai Rp2 triliun.”Perlu keberanian, kerelaan untuk berbagi dengan pihak lain, bayangkan ada aset yang sudah menghasilkan tiap bulannya dan kemudian disekuritasi," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Obligasi Moratelindo Oversubscribed 1,4 Kali

NERACA Jakarta – Penerbitan obligasi PT Mora Telekamtika Indonesia (Moratelindo) direspon positif pelaku pasar. Buktinya, Obligasi I Moratelindo yang dicatatkan…

Bukalapak Berikan Kejutan Berkali-Kali - Dongkrak Transaksi di Harbolnas

NERACA Jakarta– Besarnya antusias masyarakat bertransaksi di hari belanja online nasional (Harbolnas), tentunya dimanfaatkan perusahaan e-commerce untuk meningkatkan jumlah pelanggan…

M Cash Integrasi Tawarkan Program Kemitraan - Bantu Daya Saing UMKM

NERACA Jakarta - PT M Cash lntegrasi Tbk (MCAS) meluncurkan program kemitraan M CASH", suatu program yang membuka kesempatan bagi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Buka Kantor Perwakilan di Mataram

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kantor perwakilan di Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk memudahkan penyebarluasan informasi dan edukasi mengenai…

Bank Jateng Terbitkan MTN Rp 1 Triliun

Perkuat likuiditas guna mendanai ekspansi bisnis di tahun depan, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah alias Bank Jateng menerbitkan surat…

LPKR Bidik Dana Rights Issue Rp 600 Miliar

Butuh modal untuk mendanai ekspansi bisnis di 2018, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berencana menerbitkan saham baru (rights issue) pada…