Boediono : Pengangguran Belum Tertangani

Jumat, 20/01/2012

NERACA

Jakarta—Pemerintah meminta instansi terkait mencermati perkembangan lapangan kerja. Masalahnya, hal ini berkaitan erat dengan pengangguran yang bisa berefek pada social politik. Padahal seharusnya pengangguran usia muda mesti dikurangi. “Kita tahu bahwa mereka ini adalah kelompok yang belum mendapatkan perhatian sekali, dan bisa mendapatkan dampak di luar masalah ekonomi," kata Wakil Presiden Boediono kepada wartawan di Jakarta,19/1

Lebih jauh kata Guru Besar FE UGM ini, di berbagai negara, tingkat pengangguran nasional atau daerah biasanya hanya setengah atau bahkan sepertiga dari tingkat pengangguran usia muda. “Hal ini merupakan kunci dari terciptanya penghasilan. Dari lapangan kerja ini dapat tercipta kegiatan ekonomi dan akan menghasilkan daya beli,” tambahnya.

Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia ini, lapangan kerja perlu dijadikan alat untuk mengambil keputusan di bidang ekonomi. "Mengenai satu aspek dari masalah kerja ini. Yakni lapangan kerja bagi mereka yang usia muda. Karena itu sangat penting, statistik monitoring mengenai perkembagan lapangan kerja diikuti dengan cermat. Bisa positif dan negatif. Kalau ada gejala Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), itu negatif," tuturnya

Karenanya, Boediono menilai pentingnya program khusus bagi para pekerja usia muda ini. "Apakah dalam bentuk magang, atau pendidikan khusus," sambung Boediono.

Boediono lantas meminta masing-masing daerah memaksimalkan Balai Latihan Kerja (BLK). Meskipun, dia sadar tidak semua dapat dioptimalkan. "Saya anjurkan BLK ini dengan dunia usaha karena mereka lah yang tahu kebutuhan kerja. Maka sangat baik kalau BLK ini dikerjasamakan saja dengan industri di daerah. Dengan begitu, hasilnya lebih efektif dan bisa langsung diterima oleh dunia usaha," imbuhnya

Ditempat terpisah, Chief Economist and Director For Investor Relations PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengungkapkan kondisi makro perekonomian Indonesia saat ini relatif kuat. Ditambahn lagi, potensi demografi yang termasuk didalamnya ada sekitar 37% penduduk Indonesia yang berusia di bawah 20 tahun. "Potensi demografi yang didominasi oleh penduduk berusia muda yang berperan sebagai sumber tenaga kerja produktif dapat menggerakkan perekonomian Indonesia lebih agresif lagi," ungkapnya

Budi mengatakan, kelompok usia produktif tersebut disebut sebagai spender group yang menggerakkan perekonomian sebab ditopang oleh kemampuan ekonomi orangtua yang lebih baik. "Rata-rata usia penduduk Indonesia berkisar 28 tahun. Ini adalah usia pembentukan keluarga sehingga sektor properti dan peralatan rumah tangga sangat diuntungkan, apalagi tren bunga deposito yang terjaga rendah," paparnya.

Di sisi lain, potensi demografi ini juga sangat positif bagi industri asuransi. Sebab, kepala keluarga rumah tangga yang saat ini memimpin mencermati dua generasi yang kontras. Generasi sebelumnya adalah orangtua mereka yang kebanyakan lahir setelah Indonesia merdeka. "Hal ini semacam baby boomer di AS. Orang tua mereka umumnya berusia lebih panjang, namun, umumnya tidak didukung oleh dana pensiun dan asuransin kesehatan," kata Budi.

Kondisi di atas, memudahkan tumbuhnya kesadaran berasuransi dan berinvestasi. Terkait investasi, lingkungan sangat mendukung berkat tersedianya lebih banyak underlying asset saham, obligasi negara, dan korporasi yang cenderung menggantikan instrumen konvensional deposito perbankan. Peluang ini telah digarap oleh banyak perusahaan internasional beberapa tahun terakhir. **cahyo