Merajut Jejaring Bisnis Saudagar Muslim

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Ada sebuah asa yang menarik dalam perhelatan yang terjadi di silaturahi kerja nasional (Silaknas) Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) yang diselenggarakan pada tanggal 13 – 15 September 2017 di Bandung – Jawa Barat kemarin, yang dihadiri oleh para ratusan saudagar dari berbagai daerah di belahan Nusantara ini. Membicarakan istilah saudagar muslim secara kekinian—bukan sesuatu hal yang sangat baru, karena sebelum kemerdekaan kita miliki, organisasi berwatak saudagar muslim sudah berdiri sebelumnya, yakni Serikat Dagang Islam (SDI), yang merupakan lokomotif gerakan perlawanan dalam dominasi dagang VOC pada saat itu. Kini, munculnya saudagar muslim, seperti JSM, Ikatan Saudagar Musliam Indonesia (ISMI) dll merupakan sebuah replikasi dan reorganisasi dari organisasi saudagar muslim sebelumnya.

Gerakan saudagar muslim, tumbuh dan berkembang—mengikuti perputaran sejarah nasional, era gerakan saudagar saat ini yang dilakukan oleh JSM dan ISMI saat ini tetunya berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh SDI. Keberadaan dari JSM dan ISMI adalah untuk menjawab persoalan dan kondisi umat yang terjadi saat ini. Dimana kondisi dari umat secara ekonomi mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan umat lain, bahkan meskipun umat Islam mayoritas tetapi umat Islam tak berkuasa penuh atas dominasi ekonomi yang terjadi di negeri ini. Bahkan seperti halnya dilansir dalam berbagai media massa, sepuluh besar orang terkaya di Indonesia hanya menempatan 1 hingga 2 orang saja orang pribumi muslim salah satunya. Sementara sisanya adalah non pribumi yang notabene adalah etnis Tionghoa.

Bayangkan, apa jadinya—apabila kondisi umat saat ini tidak mengendalikan ekonomi? Yang terjadi adalah umat akan diposisikan sebagai konsumtif dari produk – produk yang tidak mereka miliki, yang akhirnya akan ketergantungan dari segala aspek ekonomi seperti produksi, distribusi dan konsumsi. Rantai – rantai inilah yang wajib dipikirkan dan harus dicarikan jalan solusinya segera. JSM dan ISMI harus mampu merumuskan sebuah reinterprestasi gerakan saudagar Muslim yang lebih strategis dan bisa menjawab kebutuhan dari umat saat ini.

Kehadiran JSM yang memiliki jaringan bisnis dari ranting (kecamatan), daerah (kabupaten), wilayah (provinsi) dan pusat, sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat strategis dalam membangun gerakan saudagar muslim. Apalagi dengan dilatarbelakangi semangat ideologis dan organisasi di bawah payung Muhammadiyah—tentunya memiliki kemampuan yang sangat signifikan dalam memobilisasi kekuatan saudagar dari ranting hingga pusat dalam menentukan sebuah arah bisnis secara berjamaah. Untuk menjawab semua itu, dibutuhkan kepemimpinan saudagar JSM yang cerdas dan mampu membaca arah mata angin setiap dinamika bisnis yang ada di tanah air. Apalagi bidang bisnis tidak sekedar hanya dianalisa secara metodologis dalam akademik—tapi feeling dalam membaca peluang market atau pasar itu yang paling utama.

Karena itu kekuatan dalam berjamaah berekonomi sebagai ujung tombak dari segalanya. JSM yang merupakan anak kandung dari Muhammadiyah—sebenarnya bisa langsung memulai dengan actionnya tanpa harus menunggu regulasi-regulasi atau kemudahan – kemudahan yang diberikan dari pemerintah. Cukup mengoptimalkan apa yang didepan mata, sudah cukup JSM untuk berkibar sebagai sebuah kekuatan saudagar nasional yang disegani. Bayangkan, Muhammadiyah telah memiliki dua amal usaha yang tak dimiliki oleh ormas lain seperti rumah sakit dan lembaga pendidikan.

Dari jenis usaha tersebut, bisa dibuat berbagai unit bisnis untuk mensuplai kebutuhan rumah sakit dan pendidikan seperti perusahaan kesehatan ( farmasi, alat kesehatan dll), perusahaan sandang, perusahaan logistik pangan, perusahaan pengadaan infrastruktur pembangunan, perusahaan pengadaan hingga perusahaan keuangan (asuransi, pasar modal, perbankan dll). Ini baru 2 amal usaha yang bisa disinergikan dengan JSM, belum lagi sinergi denga warga Muhammadiyah yang memiliki kebutuhan (pangan, sandang dan papan) berapa besar peluang ini bisa manfaatkan secara bisnis internal di Muhammadiyah. Disinilah peran koordinasi sebagai peran vital dalam mengembangkan JSM untuk bersama-sama dalam mendistribusikan peluang yang bisa dikerjakan bersama. Jika ini berhasil merajut jejaring bisnis di saudagar muslim bukan sesuatu mimpi di siang bolong.

BERITA TERKAIT

Bisnis Rokok 2018 Ditaksir Makin "Mengepul" - Kenaikan Cukai Lebih Rendah

NERACA Jakarta – Kepulan asap bisnis rokok di tahun depan, diprediksi masih akan tetap tebal seiring dengan rencana anggaran pendapatan…

Babak Baru Bisnis e-Commerce

Tercatat beberapa layanan tambah saldo uang elektronik "e-commerce" sudah dihentikan karena sedang menyelesaikan perizinan dari BI. Produk uang elektronik itu,…

DBS Incar Pertumbuhan Bisnis Korporasi 10%

      NERACA   Jakarta - PT Bank DBS Indonesia (DBS Indonesia) optimistis pendapatan segmen bisnis perbankan korporasi (institutional…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Belum Seutuhnya Merdeka

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF Sudah 72 tahun Republik ini memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Namun, seiring nafas perubahan…

Optimalisasi LKM/LKMS dalam Pembangunan Daerah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Semenjak diundangkannya Undang – Undang No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro …

Menyoal Kebijakan Umrah

  Oleh: Izzudin Al Farras Adha Peneliti INDEF   Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan mencuatnya kasus PT First Anugerah…