Mobnas Bisakah Berjaya?

Sabtu, 21/01/2012

Mobil nasional mulai tren di tanah air. Bermula dari mobil besutan siswa sekolah menengah kejuruan, meskipun belum 100 persen menggunakan bahan baku dalam negeri, ke depan mobil hasil inovasi dan kreativitas para siswa SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah diharapkan menjadi embrio mobil nasional.

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Borobudur Yitno, mengatakan pada peluncuran mobil Esemka Sang Surya ini dipamerkan delapan mobil hasil karya para siswa, antara lain, mobil ambulans, mobil usaha, SUV Esemka, double kabin, dan mini truk.

Ia mengatakan, dari sejumlah mobil tersebut ada yang berupa karya karoseri, mengubah bentuk, tetapi ada yang membuat dari komponen bodi termasuk pembuatan casis. "Pembuatan mini truk 90 persen dari bahan lokal, termasuk untuk casis kami membuat sendiri secara manual dengan pendampingan dari Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Kehadiran mobil yang kemudian diklaim sebagai mobnas (mobil nasional) ini, mendapat antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Bahkan walikota Solo, Joko Widodo menjadikan mobil ini menjadi mobil dinas. Dia menegaskan, investasi mobil ini tidak memerlukan dana hingga triliunan rupiah tapi investasi rakyat.

“Siapa bilang butuh investasi triliunan. Produksi Esemka lebih banyak melibatkan masyarakat umum, terutama home-home industry, bahkan saat ini telah melibatkan 23 Sekolah Menengah Kejuruan,” ujar Jokowi panggilan akrab Walikota Solo.

“Kita tidak akan ikut-ikut standar Eropa atau Jepang. Terserah mereka punya standar sendiri. Tetapi yang jelas, kita punya standar sendiri, yakni SNI. Apalagi kita belum eksport, tapi untuk kebutuhan bangsa kita sendiri terlebih dahulu,” lanjutnya.

Melihat antusiasme dari rakyat, pihak pemerintah mulai bereaksi. Kementerian Keuangan tengah mengkaji pemberian insentif terhadap mobil produksi domestik untuk mendukung realisasi mobil nasional. Sehingga nantinya peraturan yang diperkirakan selesai dalam tiga bulan ini bisa membuat harga mobil jauh lebih murah.

Setelah insentif keluar, mobil lokal bisa jauh lebih murah dari mobil-mobil impor yang ada saat ini. Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, insentif itu antara lain berupa penghapusan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). "Ini salah satu dari beberapa kajian yang tengah dilakukan," katanya di Jakarta, Senin 16 Januari 2012.

Pemerintah punya format lain yang lebih baik untuk mendukung mobil murah dan ramah lingkungan di Indonesia. "Tapi kan ada syaratnya, selain murah dan ramah lingkungan, mobil ini juga harus irit bahan bakar," katanya.

Selain itu, dia menambahkan, mobil-mobil ini tak boleh lagi menggunakan bensin bersubsidi. "Kita saling mendukung, pemerintah dukung mobil nasional, masyarakat juga harus mensukseskan program pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM)," katanya

Tapi tak jarang, mobil Esemka juga mendapatkan cibiran. Terutama bagi mereka yang meragukan kualitas dari mobil tersebut. Namun, PT Solo Manufaktur Kreasi sebagai principal mobil Esemka, tetap pantang mundur untuk memproduksi massal mobil tersebut.

"Kita harus maju terus pantang mundur. SMK harus bisa untuk memproduksi mobil sendiri. Untuk produksi massal, kita masih menunggu hasil uji emisi dan kelaikan jalan," kata Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi, Sulistyo Rabono kepada VIVAnews.com di Solo, Sabtu 14 Januari 2012.

Dengan memproduksi mobil Esemka, ia berharap Indonesia tidak hanya menjadi negara konsumen dari produk otomotif Jepang, Korea maupun Eropa. Namun, bisa menjadi produsen mobil sendiri. "Apa negara kita mau dijajah terus dan menjadi konsumen terus. Sekali-sekali punya mindset produsen lah," katanya.

Menurut Sulistyo, dengan menjadi produsen mobil Esemka, tentunya akan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup banyak. Terlebih produksi mobil ini nantinya akan menggandeng UKM untuk pembuatan berbagai komponen.

"Dalam satu mobil itu terdapat ribuan komponen. Nanti komponen-komponen akan dikerjakan oleh mitra kerja UKM. Pastinya UKM tersebut membutuhkan karyawan. Saya perkirakan tenaga kerja yang tersedot bisa mencapai 6.000 orang. Angka itu cukup besar bagi lapangan kerja," jelasnya.

Lebih lanjut, Sulistyo mengatakan, bercermin dari kegagalan sejumlah produsen mobil nasional seperti Timor, Texmaco dan Perkasa, proses produksi mobil ini akan mulai dari bawah dengan melibatkan UKM. "Kita men-switch bahwa pola produksi mobil ini mulai dari bawah, tidak dari atas. Sehingga pembuatan mobil Esemka melibatkan banyak UKM. Di Cina seperti ini. Meski melibatkan UKM, kita tetap memiliki standarisasi kualitas produk," katanya.

Selain mengajak para UKM, proses produksi mobil Esemka tetap melibatkan siswa SMK. Mereka yang akan menggarap body repair, pengecatan dan perakitan mobil. "Kita melibatkan siswa SMK untuk proses pembelajaran," ujarnya mengakhiri perbicangan.

Tanggapan Pihak Swasta

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi berpendapat, pihaknya sebagai pengusaha swasta tidak serta merta ingin ikut mensponsori pengembangan mobil Kiat Esemka tersebut. Sebab, akan dilihat sejauh mana untung dan ruginya.

"Sebagai pengusaha, tentunya itu penting," kata dia saat dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Jumat 13 Januari 2012. Dia mengungkapkan, Indonesia pernah memiliki trauma besar terhadap keberadaan mobil nasional yang pernah diprogramkan sejak lama. "Jangan sampai, kendaraan ini hanya diminati pembeli satu dua tahun saja. Setelah itu, jadi rongsokan dan tak dilirik lagi," ujar Sofjan.

Hal itu, kata Sofjan, akibat minimnya pengadaan suku cadang dan proses perawatan setelah proses pemasaran produk. "Nah, pemerintah bisa jamin tidak suku cadangnya dan jumlah bengkel untuk perawatan dan perbaikan," tuturnya. Dia mengaku bahwa produk Kiat Esemka karya pelajar SMK tersebut terbilang bagus dan menjual tapi tidak ada salahnya tetap mengajak mitra asing atau masih menyertakan produk mancanegara.

"Sebab, nanti setelah diproduksi besar-besaran, ditakutkan suku cadangnya minim dan perawatannya juga mahal. Jadi, tidak laku," ujar Sofjan. Sofjan menyarankan, sebaiknya tetap menggunakan suku cadang produk impor yang sudah teruji hingga kita mampu memproduksi sendiri secara besar-besaran.

“Kami sama sekali tidak terancam. Justru bagus apabila Indonesia bisa memproduksi mobil nasional dengan kualitas yang baik serta diterima pasar,” kata Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Yohannes Nangoi di Jakarta kemarin. Yohannes menyambut positif jika mobil produksi karya siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) itu akhirnya lulus uji kelayakan dan diproduksi massal. Namun dia mengingatkan bahwa kriteria mobil nasional sebenarnya belum jelas hingga saat ini.

Dia mencontohkan, Daihatsu Xenia diproduksi di dalam negeri dengan tingkat komponen lokal yang cukup tinggi, tetapi tidak bisa disebut mobil nasional karena masih menggunakan merek Daihatsu. Kiat Esemka menjadi salah satu mobil kreasi anak negeri dengan penggunaan bahan baku lokal hingga 80%. Sebelum Esemka, proyek mobil nasional telah digagas dengan penciptaan mobil GEA (Gulirkan Energi Alternatif) dan Kancil buatan PT Inka, Tawon buatan PT Super Gasindo Jaya, Marlip buatan peneliti LIPI, Komodo produksi PT Fin Tetra, juga Arina buatan Universitas Negeri Semarang.

Terbaru, mobil Esemka Sang Surya karya siswa SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, Magelang,diluncurkan. Anggota Komisi VI DPR Sohibul Iman menyatakan,pemerintah harus sepenuhnya mendukung produksi mobil nasional dengan memberikan berbagai kemudahan atau insentif kepada industri tersebut.“Pemerintah harus membantu bagaimana produsen mobil nasional ini memiliki captive market dan harus memelopori sebagai pihak pertama yang menggunakannya. Selanjutnya kepada masyarakat yang mau memakai mobil nasional diberi insentif pula,”katanya di Jakarta kemarin.

Hanya saja, kita harus melihat kelanjutan dari mobnas ini. Menurut Muh. Qudrat Nugraha, Ph.D, MBA, dosen pascasarjana UMJ dan Staf ahli Binus Entrepreneurship Centre, “Maklum saja, bukan kali ini saja kita membuat program mobil nasional, karena sejak era orde baru beberapa produk mobil nasional seperti Timor, Texmaco macan, Kancil selalu saja gagal. Indonesia memang hingga saat ini belum sekalipun berhasil masuk ke dalam industri ini. Sederet mobil nasional mandeg ditengah jalan dan kemudian gaungnya menghilang dengan sendiri. Tentu, hal ini tidak kita harapkan terjadi pada Kiat Esemka.

Lantas apa yang membuat prgram mobil nasional selalu tak tentu arah? Apakah nasib pendahulu-pendahulu mobil nasional yang ada, akan kembali dirasakan oleh Kiat Esemka? Maka dari itu, ada beberapa hal yang harus dibenahi dalam hal ini. Terlebih, akan hal dukungan dari pemerintah, dukungan ini harus diberikan mulai dari hulu hingga hilir. Karena, hingga saat ini cuma ada kata-kata “kami mendukung” terucap dari sebagian pejabat pemerintah tanpa merealisasikan dukungan yang diberikan dan bahkan ada yang mengkomentari jangan itu dan jangan ini, bukannya memberikan semangat untuk membangun nasionalisme ekonomi Indonesia yang sementara ini terabaikan.