Ritel Lakukan Efisiensi Besar-besaran - DAMPAK MELAMBATNYA PERTUMBUHAN SEKTOR KONSUMEN

Jakarta-Melambatnya pertumbuhan sektor konsumen di negeri ini akhirnya memaksa para pelaku usaha ritel melakukan efesiensi besar-besaran. Penghematan terbesar dilakukan di sisi energi listrik. Sementara pengusaha ritel asing kini melakukan ekspansi ke Indonesia yang masih memiliki prospek cerah di masa depan.

NERACA

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey, penghematan listrik paling mendasar, karena biaya listrik 30%. "Makanya pernah dalam FGD, memungkinkan ada subsidi listrik bagi pabrik atau manufaktur yang beroperasi dari jam 24.00 WIB sampai 06 00 WIB. Bahkan sampai saat ini sudah banyak industri yang melakukan produksi saat jam listrik low," ujarnya di Jakarta, pekan lalu. kemarin.

Roy mengakui, yang paling terasa adalah beberapa biaya sewa di mal bisa meningkat double dan triple. Sehingga, mau tidak mau pelaku ritel melakukan penggantian lampu-lampu menjadi hemat eneegi. Kemudian, AC juga menjadi perhatian dalam efesiensi ritel, di mana saat jam-jam sepi dilakukan penghematan.

Selain itu, varian produk juga dibatasi. Pelaku sedang melakukan seleksi produk yakni tidak semua produk yang dilaunching dapat dijual di ritel modern. "Buat apa pasang lama-lama suatu produk yang tidak kompetitif karena cost-nya sangat mahal. Bahkan banyak produk yang juga melakukan efesiensi," ujarnya.

Roy juga menyebut pelaku ritel lebih memilih atau menyeleksi dalam melakukan pembukaan toko. Tidak semua lokasi akan dipilih untuk toko baru. "Indonesia timur masih berpeluang dari pada di Indonesia barat dan tengah. Kalau pun ada toko yang tidak ekonomis direlokasi," ujarnya.

Roy juga mengatakan, pertumbuhan ritel saat ini cenderung ngos-ngosan demi berjuang untuk hidup. Padahal, industri ritel memberi kontribusi besar terhadap produk domestik regional bruto (PDRB). "Ritel itu ibarat kura-kura yang membawa beban. Di tahun 2012-2013, itu puncaknya dan sekarang di 2017, melambat sampai titik nadir," ujarnya.

Dia menjelaskan, pada 2009, paska reformasi, industri ritel hanya tumbuh 4,9%. Saat itu, pertumbuhan ekonomi hanya 4,7% dan ritel hanya 4,9%. Setelah itu, industri ritel naik di 2010, 2011, dan puncaknya 2012. Mulai tahun 2015, industri ini menurun dan 2017 mencapai titik nadir.

Lalu dia membandingkan industri ritel pada edisi 2010-2012 dengan 2015-2017. Kuartal I-2016, industri ritel masih di angka 11,3%. Kemudian anjlok hingga 3,9% pada kuartal II-2016 menjadi 9,2%, terus menurun menjadi 3,9% pada kuartal I-2017 dan puncaknya di kuartal II-2017 hanya 3,7%.

Angka pertumbuhan ritel 3,7% ini, kata Roy, merupakan akumulatif dari semua industri ritel yang terbagi menjadi lima tipe: minimarket, supermarket, hypermarket, department store, dan kulakan. Dan untuk modern trade sebesar 4,8% dan traditional trade 2,9%.

Jadi menurut Roy, saat ini industri ritel di Tanah Air mengalami perlambatan pertumbuhan. "Bisa dibayangkan industri ritel saat ini, yang seharusnya bisa diandalkan terus mengalami penurunan. Sebab kalau positif, seharusnya industri ini tumbuh di atas 10%," ujarnya.

Sentimen Negatif

Selain itu, menurut Roy, melambatnya pertumbuhan ekonomi mikro sampai semester II-2017 dipengaruhi oleh lima poin yang memperlambat industri ritel nasional. Pertama, adalah bonus demografi. Ya, usia produktivitas yang lebih karena meningkatnya populasi penduduk. Bahkan bonus demografi di Indonesia lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu tahun 2020.

Namun sayangnya bonus demografi dan usia produktif itu tidak dibarengi dengan kesempatan kerja. "Usia produktif kita kebanyakan tidak mendapat kesempatan kerja sehingga tidak dapat gaji. Mereka mendapat upah dan komisi yang tidak sebanding dengan kemampuan berkonsumsi. Banyak sarjana kita yang menganggur atau kerja informal," ujarnya.

Kedua, faktor undetection online e-commerce transaction. Yaitu menggunakan transaksi luar negeri seperti PayPal, AliPay, AmazonPay. Memang hal demikian tidak bisa disalahkan, karena masyarakat bisa melakukan transaksi luar negeri dan barang bisa masuk tanpa pajak. Kemudahan inilah, menurut Roy, yang merubah pola belanja di masyarakat. Masyarakat lebih suka berbelanja online dengan provider pembayaran luar negeri.

Ketiga, mengenai sentimen negatif masyarakat terhadap penegakan hukum, isu politik, dan pemilihan kepala daerah. Hal ini membuat masyarakat kelas menengah atas menahan belanja dan melihat situasi politik nasional, apa kondusif atau belum. Ini berdampak pada industri ritel nasional. "Makanya saya tidak menyebut adanya penurunan daya beli tetapi pergeseran daya beli," ujarnya.

Faktor keempat, adalah leisure and lifestyle masyarakat. Tidak jarang gaya hidup ini menjurus ke hedonisme, seperti beberapa orang Indonesia yang suka kuliner ke Singapura, bermain golf di Australia, dan kondisi ini banyak terjadi.

"Mereka belanja bukan ke konsumsi tetapi gaya hidup. Saat ini banyak orang Indonesia lebih suka kuliner ke Singapura dan main golf di Australia. Buktinya, pesawat pribadi di Halim banyak sekarang," katanya.

Dan terakhir, menurut dia, term deposit yang cenderung meningkat. Meski dana pihak ketiga (DPK) masih berkisar 9-10% per tahun, namun term deposit naik luar biasa. "Nah, menghadapi seperti ini maka harus efesiensi dan peningkatan service dan kreatif," tutur dia.

Meski pertumbuhan ritel melambat, Indonesia tetap menjadi pasar potensial ritel asing. Aprindo mengungkapkan tahun ini ada dua pembukaan gerai baru. "Selain pemain lama, ada yang dari Turki, ada yang dari Jepang. Hanya yang dari Eropa belum masuk karena masih melihat kondisi ekonomi Indonesia," ujarnya.

Menurut dia, ritel asing atau lokal di hadapan pemerintah tetap sama. Sebagai wadah, Aprindo melihat ritel asing masuk sebagai keniscayaan dari globalisasi. Bagian dari market globalization, Asia Economic Community, WTO dan lainnya. "Memang secara global semua negara membuka diri untuk adanya investasi asing. Karenanya Aprindo memandang bahwa satu keniscayaan sehingga dapat dijadikan evaluasi bagi ritel lokal," ujarnya.

Selain itu, masuknya ritel asing dapat dijadikan ajang kompetisi atau daya saing yang sehat. Sebab, jika tidak ada kompetitor menganggap ritel lokal yang terbaik. "Kami berharap pelaku ritel asing mematuhi peraturan yang dibuat regulator. Baik daftat negatif investasi BBKM yang mengatur tentang luasan perusahaan asing," tutur dia.

Aprindo berharap ritel asing tersebut mempekerjakan tenaga kerja lokal dan berupaya menjual produk Indonesia. Karena masuknya ritel asing ke Indoensia itu keniscayaan, apalagi jumlah penduduk Indonesia mencapai 255 juta.

Tutup Gerai

Di sisi lain, manajemen PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memastikan akan menutup dua gerainya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai pada akhir September ini.

Sekretaris Perusahaan Matahari Miranti Hadisusilo mengatakan, keputusan ini diambil karena perusahaan menganggap dua gerai tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan signifikan. "Ditutup karena mall yang sepi sehingga mengakibatkan kinerja kedua gerai tersebut tidak sesuai target manajemen," ujarnya, akhir pekan lalu.

Menurut dia, tutupnya dua gerai itu akan menjadi penutupan pertama yang dilakukan perusahaan tahun ini. Saat ini, perusahaan masih mengoperasikan kedua gerai tersebut dan memberikan diskon hingga 75% kepada konsumen guna menghabiskan stok barang.

Meski demikian, Miranti menegaskan, pihaknya masih optimis dengan kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat hingga akhir tahun ini. Terbukti, Matahari Department Store akan menambah tiga gerai baru sampai Desember 2017 nanti. "Kami akan buka satu sampai tiga gerai lagi sampai akhir tahun, satu di Jawa dan dua di luar Jawa. Jadi kami masih optimis," ujarnya.

Dengan demikian, perusahaan akan memiliki delapan gerai baru jika rencana itu terealisasi. Pasalnya, manajemen telah membuka lima gerai yang berada di Jawa dan Sumatera pada awal tahun ini.

Sebelumnya manajemen PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Ramayana Lestari juga menutup beberapa gerai supermarketnya karena merugi. Perusahaan memutuskan untuk merenovasi gerai supermarket tersebut menjadi department store. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Produk Otomotif China Tambah Pilihan Bagi Konsumen

Dua industri otomotif asal Tiongkok yakni PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) dan PT Sokonindo Automobile tahun ini resmi memasuki…

Mengukur Dampak Siklon Cempaka dan Dahlia

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan Siklon Tropis Cempaka dan Dahlia yang melanda sebagian wilayah Jawa belum lama ini merupakan…

Investasi Tempat Persemaian Bagi Pertumbuhan Ekonomi

Pemerhati Ekonomi dan Industri, Fauzi Aziz   Ekonomi suatu bangsa akan tumbuh bilamana kegiatan investasinya juga tumbuh. Pembentukan investasi yang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Presiden Tidak Pernah Intervensi Data BPS

  NERACA Jakarta-Pejabat BPS mengungkapkan, Presiden Jokowi tidak pernah mengintervensi data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik. Pasalnya, kualitas data pertumbuhan…

GLOBAL BOND JAGA ARUS KAS PEMERINTAH - Kemenkeu Kejar Utang 22 Obligor BLBI

Jakarta-Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kemenkeu terus mengejar 22 obligor penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang hingga kini belum…

TERKAIT RENCANA KEBIJAKAN GOLONGAN TARIF - Regulator Minta Pelanggan Listrik Tak Khawatir

NERACA Jakarta – Menteri ESDM Ignasius Jonan menjelaskan program penyederhanaan golongan pelanggan listrik PT PLN (Persero) belum dijalankan dan masih…