Pergeseran Pemuda Pemikir

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta

Peneliti INDEF

Pemuda telah menjadi garda paling utama dalam menggapai misi suci pembangunan bangsa. Sejarah merekam bagaimana semangat mulia mereka telah membawa bangsa ini bahkan tidak hanya merdeka, melainkan juga meletakkan dasar utama negara. Soekarno yang berani menceburkan dirinya pada kolam perjuangan yang didalamnya bermuara berbagai aliran sungai ideologi, sejak ia masih muda. Memang percampuran ideologi tersebut kadang membuat kolam terlihat keruh. Namun itulah yang membuat Soekarno tangguh. Ia menjadi cermat dalam melihat dan menggali kekayaan bangsa. Ia menjadi kuat dalam menyatukan berbagai perbedaan, baginya, didalam negara jajahan tak berguna untuk berseteru satu sama lain. Kolam keruh ideologi itulah yang kemudian membentuk endapan. Kecermatannya dalam menyelami dan menggali endapan-endapan di dasar muara telah melahirkan dasar negara yang bertahan sampai saat ini, Pancasila. Sebuah endapan bernilai emas yang lahir sebagai sintesis berbagai aliran sungai ideologi, menjadi warisan tak ternilai bagi bangsa ini.

Cermat dibaca, Pemuda-pemuda kala itu juga berhimpun, berpikir, dan menyusun gerakan dalam sebuah wadah. Sebut saja, sarekat islam, budi oetomo, jong-jong di daerah, ada pula barisan banteng –perkumpulan pemuda semimiliter kala itu. Bahkan ada perkumpulan sederhana, namanya Studi Klub Indonesia. Kumpulan dari pemuda-pemuda yang mengawali kesadaran organik kaum terpelajar zaman kolonial. Singkat cerita, mereka bahkan membuat perkuliahan sendiri, dimana Hatta dengan ekonominya, Soekarno dengan politiknya, Sjahrir tentang sosialismenya, dan Jamin tentang pendidikan dan kebudayaan. Dari inisiasi kecil yang selanjutnya membentuk hubungan antara pemuda dengan massa. Mereka membentuk perkumpulan demi mencapai sebuah tujuan, saat itu adalah kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, meraka masih tetap bergerak demi cita-cita perbaikan bangsa

Namun, ada kisah yang sangat berbeda masa sekarang. Kemunduran baik dalam hal pergerakan dan pemikiran. Meskipun ada, tentu jauh rasanya apabila dibandingkan antara pemuda sekarang dengan pemuda revolusioner pendahulunya. Sebab, tidak masuk akal rasanya apabila kemunduran pergerakkan pemuda justru terjadi di zaman keemasan teknologi. Pun demikian halnya yang terjadi dalam pemikiran-pemikiran ekonomi. Ada budaya mengkaji yang semakin meluntur di kalangan pemuda. Meskipun tidak dalam hal berhimpun, namun tak sebanding dengan apa yang pendahulunya lakukan. Berhimpun sekadar memuaskan kebutuhan hobi ataupun nafsu eksis semata. Tak banyak dari himpunan tersebut yang melahirkan output pergerakkan diluar zona nyaman. Sepertinya, tak bisa perubahan secara radikal dipaksakan untuk pemuda saat ini. Namun, perubahan gradual yang lebih mengusung konsep pendidikan manusiawi agaknya mampu mengubah kondisi sekarang.

BERITA TERKAIT

Ketua MPR RI - Wawasan Kebangsaan Pemuda Harus Diperkuat

Zulkifli Hasan  Ketua MPR RI Wawasan Kebangsaan Pemuda Harus Diperkuat Palangkaraya - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan wawasan kebangsaan…

Pemuda Tani Bagikan Bibit Jagung - Percepat Swasembada Pangan

NERACA Bone - Peran pemuda memajukan pertanian di Indonesia makin nyata. Salah satunya adalah yang dilakukan Gerakan Pemuda Tani (Gempita) di…

Diduga Bermasalah Moral, Pemuda NTT Tolak Marianus Sae

  NERACA   Jakarta - Sejumlah pemuda Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam "Koalisi untuk Demokrasi Berintegritas di NTT"…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Harbolnas

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro Dosen Pascasarjana Universitas Muhamadiyah Solo   Dunia maya dan dunia nyata nampaknya kini semakin…

Peluang Bisnis Ritel Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Bisnis ritel di Indonesia—dalam beberapa tahun  akhir  ini mengalami kelesuan yang luar  biasa,…

Industri Plastik Dihadang Cukai

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Industri plastik masuk dalam kategori supporting industry terpenting baik dari segi…