BI Anggap Nilai Tukar Rupaih Masih Kompetitif - Rupiah Terdepresiasi 0,05%

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini masih kompetitif untuk membantu menjaga keseimbangan kinerja ekspor dan impor. "Untuk rupiah sebenarnya dari sisi fundamental kita, 'competitiveness'-nya itu selalu kita jaga. Kita hitung dari Real Effective Exchange. Rate atau nilai tukar riil kita, dan itu masih dalam nilai yang kita anggap kompetitif," Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia BI Dody Budi Waluyo saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (15/9).

Dody menuturkan meski pada pekan lalu nilai tukar rupiah mengalami penguatan, dari sisi "competitiveness" atau daya saingnya tidak terganggu. "Jadi itu tetap membantu 'trade' kita, membantu ekspor dan juga tidak membatasi impor. Tapi dampak ekspor berdasarkan nilai tukar yang menguat, tidak serta merta begitu," ujar Dody.

Berdasarkan data kurs tengah BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat (8/9) lalu mencapai Rp13.284 per dolar AS, menguat dibandingkan pada awal pekan lalu yang berada di posisi Rp13.345 per dolar AS. Penguatan nilai tukar rupiah saat itu disebut bank sentral karena dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Amerika Serikat yang tidak tumbuh setinggi yang diperkirakan. Namun, nilai tukar rupiah pada Jumat ini mencapai Rp13.154 per dolar AS, melemah dibandingkan awal pekan (11/9) yang mencapai Rp13.261 per dolar AS.

Dody menyebutkan hal tersebut terbentuk sendirinya di pasar dan bank sentral tidak selalu melakukan intervensi apabila rupiah mengalami depresiasi ataupun apresiasi, namun senantisa tetap berada di pasar. "Kita tidak selalu intervensi, pasar yang membentuk seperti itu. Nilai tukar stabil juga karena pasar tahu bahwa Bank Indonesia selalu menjaga kestabilan rupiah," kata Dody.

Rupiah Terdepresiasi

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar kurs tengah eceran rupiah terdepresiasi sebesar 0,05 persen terhadap dolar Amerika Serikat pada Agustus 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp13.322,54 per dolar AS. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa level terendah untuk rata-rata nasional kurs tengah eceran sebesar Rp13.336,68 per dolar AS dan terjadi pada minggu ketiga Agustus 2017.

"Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Kalimantan Utara yang mencapai Rp13.386,00 per dolar AS pada minggu kelima Agustus 2017," kata Suhariyanto. Rupiah juga terdepresiasi terhadap dolar Australia. Tercatat depresiasi mencapai 0,36 persen terhadap dolar Australia pada Agustus 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp10.557,75 per dolar Australia.

Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia yang jatuh pada minggu pertama Agustus 2017 yang mencapai Rp10.575,14 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Sulawesi Barat yang mencapai Rp10.686,25 per dolar Australia pada minggu pertama Agustus 2017. Selain terhadap dolar AS dan Australia, nilai tukar eceran rupiah terhadap Euro juga terdepresiasi sebesar 2,66 persen pada Agustus 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp15.880,54 per euro.

Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro yang jatuh pada minggu kelima Agustus 2017. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Maluku Utara yang mencapai Rp15.993,50 per euro pada minggu kelima Agustus 2017. Rupiah juga terdepresiasi 1,94 persen terhadap yen Jepang pada Agustus 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp121,02 per yen Jepang.

Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu kelima Agustus 2017. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Banten yang mencapai Rp123,00 per yen Jepang pada minggu kelima Agustus 2017.

BERITA TERKAIT

BI : Dolar Tekan Rupiah Hingga Akhir 2018

      NERACA   Jakarta - Keperkasaan dolar AS terus menekan nilai tukar Rupiah dan mata uang negara lain…

Masih Ada Perusahaan Yang Belum Bayar THR

      NERACA   Jakarta – Meski hari raya lebaran idul fitri telah usai, namun masih ada perusahaan yang…

Proyek Tol Bandung-Tasikmalaya Masih Tunggu Pemerintah Pusat

      NERACA   Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunggu aksi pemerintah pusat serta mendorong Kementerian Pekerjaan Umum…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank SulutGo Ajukan Izin Terbitkan Kartu Debit

  NERACA   Manado - PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajukan permohonan izin kepada Bank…

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Sinergi Pesantren dengan Pembiayaan Ultra Mikro

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi pondok pesantren dengan program pembiayaan Ultra Mikro yang diyakini dapat…