Hambatan Mega Proyek MP3EI Sudah Diantisipasi

Kamis, 19/01/2012

NERACA

Jakarta---Perlambatan ekonomi dunia bisa berimbas pada terhambatnya sejumlah mega proyek di Indonesia. Namun pemerintah sudah mempersiapkan langkah antisioasi terhadap hal itu. Masalahnya ini terkait dengan proyeksi World Bank pada 2012. "Kalau proyek-proyek besar saya kira banyak dibiayai PPP, sebagai infrastruktur lebih banyak dibiayai oleh program program APBN dan BUMN kita, saya kira-kira sudah mengantisipasi," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan di Jakarta,18/1

Hatta menilai proyek infrastruktur dalam program MP3EI masih memberikan yield yang baik, dan dana dari luar juga akan terus mengucur. "Dana yang dikelola oleh dana pensiun, dana-dana itu memerlukan tempat di sana itu masuk yang berkualitas, percayalah Indonesia ini berkualitas. Jadi kita tidak usah khawatir walaupun kita harus tetap waspadai," tambahnya.

Lebih jauh kata Hatta, harus diwaspadai adalah adanya pemangkasan rating negara Eropa yang mengakibatkan cost of money meningkat sehingga beban bunga meningkat dan akan terjadi kekeringan likuiditas. "Dalam hal itu bisa saja beban negara itu melepaskan aset-aset di daerah tertentu, ini harus kita waspadai, tapi waspada bukan berarti khawatir berlebihan. Saya tetap optimistis," imbuhnya

Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengungkapkan pemerintah saat ini berhati-hati dalam menggunakan modal asing yang masuk pascanaiknya rating Indonesia menjadi Investment grade akhir tahun lalu. "Kita berharap capital inflow yang masuk ke Indonesia ke sektor riil. Apalagi ke infrastruktur. Pemerintah harus jeli dan cerdas, jangan semua ke portofolio. Bukan tidak bagus, tapi akan tidak sebaik kalau masuk ke sektor riil dan infrastruktur," ujarnya

Dikatakan CT-panggilan akrabnya, ada cara yang bisa dilakukan agar modal asing tersebut bisa masuk terutama ke sektor riil dan infrastruktur. Diakuinya pula, dana tersebut harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. "Bagaimana menarik? Harus ada insentif khusus. Kalau ada insentif khusus tentu mereka akan mau masuk ke infrastruktur. Ini harus dimanfaatkan kalau tidak nanti lost moment," tandasnya.

CT menambahkan, dengan naiknya rating tersebut maka cepat atau lambat selain modal asing akan masuk, tenaga kerja berkualitas yang baru juga akan banyak masuk ke Indonesia, imbasnya Indonesia bisa semakin maju.

Yang jelas kata CT lagi, perlunya pendirian bank infrastruktur untuk mendorong pembangunan infrastruktur di Indonesia. Karena hal tersebut mutlak dilakukan. Namun manajemen bank infrastruktur akan berbeda dengan perbankan yang sudah umum. "Perlu persiapan untuk bank infrastruktur selain uang, undang-undang, special people. Karena cara manajemen bank infrastruktur berbeda. Dana juga long term jadi beda manajemannya," ungkapnya. **bari