Pharmacon Akuisisi 15% Saham Errita Pharma - Genjot Produksi Obat Generik

NERACA

Jakarta –Meningkatnya permintaan obat generik seiring dengan meningkatnya pengguna layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), memacu PT Millenium Pharmacon International Tbk (SDPC) untuk memperluas bisnis ke ranah obat generik. Untuk itu, perusahaan berencana mengakuisisi 15% saham PT Errita Pharma, produsen obat generik yang beroperasi di Bandung.

Direktur Utama PT Millenium Pharmacon Internasional Tbk, Muhamad Muhazni bin Mukhtar mengatakan, perseroan akan memanfaatkan pasar obat generik dengan mengakuisisi pabrik obat generik.”Saat ini kontribusi penjualan obat generik baru 5% dari total penjualan kami. Oleh karena itu, dengan akuisisi ini diharapkan pertumbuhan penjualan obat generik kami akan tumbuh positif ke depannya," ujar di Jakarta, kemarin.

Perseroan, lanjutnya, menargetkan akuisisi perusahaan manufaktur obat generik tersebut bisa selesai pada November 2017 mendatang. Nantinya, akuisisi ini bisa menambah kontribusi penjualan obat generik perusahaan tersebut. Namun, Muhazni belum bisa menyebutkan besar tambahan kontribusi penjualan obat generik dari akuisisi ini. Pasalnya saat ini perusahaan masih melakukan proses evaluasi sehingga belum bisa menyebutkan dampak pembelian saham PT Errita Pharma ke SDPC. Rencananya, dana untuk membeli sebagian saham PT Errita Pharma tersebut akan diperoleh perusahaan lewat hak memesan efek terlebih dulu (HMETD) alias rights issue.

Rencana ini pun telah mendapat persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan Senin (11/9). Untuk aksi korporasi berupa rights issue, perseroan menargetkan pengajuan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa rampung pada September tahun ini. Sementara saham baru tersebut ditargetkan bisa dicatatkan di bursa pada November mendatang.

Selain melakukan akuisisi, perusahaan juga telah berekspansi lain diantaranya meningkatkan diversifikasi produk yang didistribusikan oleh perusahaan. Selama ini, menurut Muhazni, perusahaan melakukan diversifikasi dengan menambahkan produk alat kesehatan dan produk over the counter (OTC) ke dalam lini bisnis perusahaan. Hal ini nampaknya berjalan sukses, karena hingga Juni 2017, perusahaan berhasil meraup penjualan hingga Rp 1,01 triliun atau naik 1,17% year-on-year (yoy). Meski kontribusi terbesar tetap datang dari penjualan obat resep, namun penjualan alat kesehatan terlihat mengalami peningkatan.

Lini bisnis penjualan alat kesehatan meningkat dari Rp 105,56 miliar di semester 1 2016 menjadi Rp 149,69 miliar di semester pertama tahun ini. "Penjualan alat kesehatan berkontribusi atas 18% dari total penjualan kami, sementara produk OTC memiliki kontribusi sebesar 12% dari total penjualan," papar Muhazni.

Related posts