Yield Global Bond Indonesia Turun

NERACA

Jakarta---Gara lembaga pemeringkat internasional Moodys memberikan status investment grade membuat kenaikan rating utang Indonesia langsung menunjukkan angka significant. “Dampak investment grade, dalam satu jam, yield Indonesia pada global bond tenor 30 tahun turun lima basis poin (bps). Dari 5,35% ke 5,30%," kata Direktur Jendral Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/1)

Menurut Rahmat, kenaikan rating utang tersebut langsung berpengaruh pada yield obligasi global yang diterbitkan Indonesia. “Demikian pula dengan Credit Default Swap (CDS) lima tahun juga turun 10 bps,” tambahnya.

Lebih jauh kata Rahmat, dengan adanya kenaikan rating ini, maka akan ada keuntungan juga yang diperoleh Indonesia. Selain dampak upgrade obligasi ini berpengaruh pada yield Surat Berharga Negara (SBN) baik nominasi rupiah maupun Valas yang akan semakin rendah (cost of debt berkurang). "Default risk premium turun, demand terhadap bonds pemerintah akan meningkat, pasar keuangan domestik semakin stabil sehingga kepercayaan investor global meningkat dan potensi capital reversal oleh asing jadi sangat kecil," paparnya

Dikatakan Rahmat, hal ini terlihat dari berhasilnya Global Bond bertenor 30 tahun sebagai obligasi dengan volume terbesar namun dengan yield terendah di Asia. "Investor global yang membeli bond tersebut adalah investor institusi yang qualified (layak) dan sophisticated, yang mampu melihat prospek fundamental ekonomi Indonesia yang bagus dalam jangka panjang," tutur dia.

Ditempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menegaskan naiknya peringkat utang Indonesia ke level investment grade oleh Lembaga pemeringkat Moodys, semakin memantapkan pandangan pasar terhadap perekonomian Indonesia. "Kita dipercaya baik investasi, aliran dana jangka panjang, atau penempatan lain di Indonesia makin terbuka," ujarnya

Mantan Dirjen Pajak in mengungkapkan kegembiranya atas prestasi tersebut. Pasalnya, sudah dua lembaga rating tingkat dunia yang menyatakan demikian. Hal ini bisa menghilangkan keraguan apakah Indonesia layak mendapat investment grade. "Berarti kita makin mantap pengakuan dunia sebagai negara yang sudah investment grade," paparnya.

Darmin menjelaskan, faktor Indonesia bisa mendapat penghargaan tersebut, Pertama, ukuran-ukuran yang digunakan dari kebijakan fiskal di Indonesia sudah sejalan dengan negara yang termasuk invesment grade. "Kedua, mereka melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia terbukti tahan terhadap gejolak eksternal. Dan ketiga mereka menilai telah tersedia instrumen kebijakan intervensi untuk meredam gejolak keuangan. Ini bisa memberi kepercayaan, sekalipun ada gejolak keuangan di Indonesia itu bisa diredam," ucap Darwin.

Sedangkan faktor terakhir adalah sistem perbankan Indonesia yang dianggap sehat sehingga mampu menghadapi tekanan. **cahyo

BERITA TERKAIT

Investor Asing Masih Percaya Indonesia - Laris Manis Komodo Bond

NERACA Jakarta- Ludesnya penawaran PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Komodo Bond di Londo Stock Exchange, menunjukkan kepercayaan pelaku pasar…

Aksi Nyata Indonesia Mendukung Palestina

  Oleh: Agung Widjayanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin Konflik Israel – Palestina atau bagian dari konflik Arab -…

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM NERACA Jakarta - Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Hasan Jauhari mengungkapkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Menggenjot Skema KPBU di Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang tumbuh secara masif di tahun ini. Bahkan,…

BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Layanan Digital

      NERACA   Jakarta - Era digital menuntut semua pihak untuk dapat memenuhi tuntutan pelanggan dengan mudah dan…