BWPT Optimis Produksi TBS Tumbuh 20%

NERACA

Jakarta – Membaiknya harga komoditas dunia menjadi keyakinan bagi PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif. Ditambah keyakinan perusahaan kelapa sawit ini, bila produksi tandan buah segar (TBS) akan terus meningkat.”Kami perkirakan produksi Agustus akan meningkat lebih dari 20% dibanding awal tahun," kata Satrija Budi Wibawa, Sekretaris Perusahaan BWPT di Jakarta, kemarin.

Per Januari 2017, produksi TBS BWPT tercatat sebesar 100.573 ton. Artinya, produksi BWPT per Agustus lalu minimal bisa mencapai 120.688 ton. Sinyal kenaikan ini sudah terlihat sejak periode Juli 2017. Pada periode tersebut, produksi TBS BWPT sebesar 113.906 ton. Angka ini naik 17% dibanding produksi periode Juni 2017, 96.838 ton. Bahkan, jika dibandingkan dengan Juli 2016, produksi TBS BWPT melesat 82% dari sebelumnya 62.371 ton.

Seiring dengan kenaikan produksi TBS, produksi crude palm oil (CPO) BWPT ikut terkerek. Per Juli 2017, produksi CPO tercatat 24.584 ton, naik sekitar 18% dibanding Juni 2017, 20.892 ton.”Produksi kami membaik setelah banyaknya libur pada Juli lalu," ujar Satria.

Memang, banyak libur sepanjang Juli 2017 mengingat ada momen Lebaran pada bulan tersebut. Hal ini mempengaruhi aktivitas produksi perusahaan. Meski ada kenaikan produksi, namun harga acuan CPO BWPT justru berada dalam tren penurunan. Per Maret 2017, harga acuannya masih berada di level Rp 8.341 per kilogram (kg). Pada April 2017, harga acuannya turun menjadi Rp 8.057 per kg. Sementara, harga acuan pada bulan Mei dan Juni masing-masing berada pada level Rp 7.984 dan Rp 7.870 per kg.

Juli 2017, harga acuannya Rp 7.585 per kg. Artinya, sejak Maret, harga acuan CPO BWPT sudah mengakumulasi penurunan sekitar 9%. Sebagai informasi, perseroan begitu agresif untuk membangun pabrik baru. Belum lama ini, perseroan menyampaikan rencana menambah 7 hingga 8 pabrik kelapa sawit (PKS) baru untuk mengantisipasi periode prima seluruh tanaman sawit perseroan yang mencapai luas 150.000 hektare.

Kata Direktur Keuangan BWPT, Henderi Djunaidi, dari 150.000 hektare areal kebun sawit perseroan, 50% berumur 4 tahun hingga 5 tahun atau masih berusia muda. Dalam 5 tahun sampai 6 tahun ke depan, seluruh tanaman sawit akan masuk usia prima dengan tingkat produktivitas tertinggi. “Untuk mengantisipasi itu, dalam 3 tahun hingga 5 tahun ke depan perseroan akan lebih agresif menambah 7 hingga 8 pabrik baru," ungkapnya.

Menurut, satu PKS dengan kapasitas 45 ton hingga 60 ton tandan buah segar (TBS) per jam membutuhkan investasi sekitar Rp150 miliar sampai dengan Rp160 miliar.”Dengan estimasi tersebut, total kebutuhan dana untuk membangun hingga delapan PKS baru mencapai hingga Rp1,2 triliun. Perseroan baru saja merampungkan pembangunan PKS di Kalimantan Barat dan dalam proses membangun satu unit PKS baru di Papua," papar dia.

Related posts