ESDM Lirik Arus Laut jadi Pembangkit Listrik

NERACA

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengembangkan potensi arus laut sebagai pembangkit listrik di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). "Awalnya harga yang ditawarkan perusahaan asing tersebut adalah 16 sen per kwh, lalu saya bilang, kalau harganya tidak di bawah 10 sen maka silakan minum dan lalu langsung pulang saja," kata Menteri ESDM Ignasius Jonan di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (13/9).

Jonan mengatakan yang datang menawarkan tersebut adalah perusahaan Belanda yang ingin membangun pembangkit listrik tenaga arus di NTT. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan pemerintah daerah, sehingga Gubernur memfasilitasi upaya kerja sama tersebut.

Namun, berselang beberapa bulan perusahaan Belanda tersebut datang menawarkan kembali dengan skema berbeda. Pada awalnya kajian di arus laut NTT menghasilkan kecepatan arus di bawah 2,8 meter per detik. Kemudian pada kajian kedua ditemukan arus laut yang menghasilkan kecepatan empat sampai lima meter per detik. Pada kajian kedua tersebut adalah hal yang dapat didiskusikan dengan pemerintah, sebab harganya cukup kompetitif, yaitu 7,18 sen per kwh. "Saya bilang, kalau 7,18 sen per kwh, maka PLN bisa bangun 20 MW di sana. Dan saya tidak perlu tawar lagi," kata Jonan.

Sementara itu, Direktur Pengadaan Strategis I PLN Nicke Widyawati mengaku belum didatangi oleh perusahaan Belanda yang telah mendiskusikan arus laut dengan Kementerian ESDM tersebut. "Belum datang langsung ke PLN dan belum ada pembicaraan hingga ke penawaran," kata Nicke. Namun, ia cukup terkejut dengan harga yang disebutkan oleh Menteri ESDM. Menurutnya dengan harga 7,18 sen per kwh untuk energi baru terbarukan adalah tarif yang kompetitif. Saat ini pemerintah memang sedang mendorong pembangkit listrik dengan sumber daya energi baru terbarukan, untuk mengejar target 35.000 MW.

Potensi Energi Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) atau listrik yang dihasilkan dari perbedaan suhu arus laut dalam dengan permukaan laut di Indonesia memiliki kapasitas potensi sebesar 41 GW. Diharapkan kondisi ini bisa memberi efek positif bagi ketersediaan energi di Tanah Air. "Selain melakukan penelitian Identifikasi Cekungan sedimenter untuk mendukung penyiapan WK Migas, dilakukan juga pengambilan data temperatur air laut sebagai identifikasi data potensi OTEC," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) ESDM Ediar Usman.

Ediar mengatakan, potensi OTEC di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, tersebar di pantai barat Sumatera, Selatan Jawa, Sulawesi, Maluku Utara. Bali dan Lembata NTT. PPPGL telah mengkaji dan meneliti potensi OTEC pada 17 lokasi sebesar 41 GW. "OTEC merupakan bagian dari energi baru terbarukan dan bersumber dari perbedaan temperatur air laut yang mudah ditemukan pada perairan laut tropis," tuturnya.

Potensi energi panas laut di perairan Indonesia diprediksi menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Timur Indonesia memiliki nilai T (perbedaan suhu) lebih besar dari Indonesia bagian barat. Pemanfaatan OTEC berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitarnya. "Energi ini bernilai ekonomi lebih tinggi dibanding sumber energi lainnya. Energi ini menghasilkan listrik dan air murni akibat penguapan air laut," pungkasnya.

Related posts