Panen Jagung di Lebak Capai 600 Hektare

Panen Jagung di Lebak Capai 600 Hektare

NERACA

Lebak - Panen jagung di Kabupaten Lebak, Banten hingga awal September 2017 mencapai 600 hektare sehingga dapat menyumbangkan swasembada pangan nasional.

"Panen jagung melalui program upaya khusus yang digulirkan Kementerian Pertanian terus berlanjut hingga Desember mendatang," kata Kepala Seksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Deni Iskandar, di Lebak, Selasa (12/9).

Program Upsus Jagung di Kabupaten Lebak tahun 2017 mencapai seluas 30.000 hektare, namun realisasi angka tanam sampai September seluas 5.000 hektare. Dari 5.000 hektare tanaman jagung yang sudah dipanen seluas 600 hektare dan hingga kini panen terus berlangsung. Pihaknya menargetkan angka tanam September-Oktober mencapai seluas 25.000 hektare bisa direalisasikan."Jika petani tanam September-Oktober, maka bisa dipanen November-Desember 2017," ujar dia.

Menurut dia, program upsus pertanian jagung untuk mendukung swasembada pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Petani mendapat bantuan benih jagung sebanyak 15 kilogram per hektare dengan pupuk urea 50 kilogram per hektare.

Penyaluran bantuan benih jagung hibrida variertas NK 212 sangat cocok ditanam di wilayah Kabupaten Lebak. Program Upsus Jagung dipastikan menyumbangkan produksi pangan nasional dan peningkatan pendapatan ekonomi petani. Apalagi, produksi jagung itu akan ditampung oleh Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Provinsi Banten.”Petani diharapkan tidak khawatir lagi untuk mengembangkan pertanian jagung, karena sudah menjalin kerja sama pemerintah daerah dan GPMT itu,” kata dia lagi.

"Kami optimistis Lebak menjadi daerah lumbung jagung dengan produksi rata-rata tujuh ton per hektare, sehingga secara akumulasi sebanyak 210.000 ton dari luas tanam 30.000 hektare," tambah dia.

Deni menjelaskan, pemerintah kini menutup pasar impor jagung untuk memberi kesempatan bagi petani meningkatkan produksi sehingga mampu meningkatkan ekonomi petani. Selain itu, pengusaha bisa menampung jagung dari petani untuk memenuhi pasar nasional. Penutupan jagung impor itu, mengingat produksi lokal bisa berswasembada jagung melalui penyaluran bantuan benih unggul, sarana produksi dan alat pertanian (alsintan). Ant

Related posts