SBY Tak Puas Penurunan Kemiskinan

Kamis, 19/01/2012

NERACA

Jakarta - Presiden SBY mengaku belum puas atas penurunan jumlah orang miskin di Indonesia. Alasanya jumlah penduduk miskin masih melebihi 10%. Karena itu para menteri diminta bekerja lebih serius. “Angka kemiskinan meskipun turun, tahun ini masih di atas 10%. Kita harus lebih semangat dan bekerja giat agar di tahun-tahun mendatang turun lagi," kata SBY di Jakarta, Rabu (18/1)

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Indonesia sempat diklaim mengalami penurunan sekitar 1 juta orang. Namun sampai September 2011, penduduk miskin masih mencapai 12,36% dari total penduduk atau 29,89 juta penduduk.

Lebih jauh kata Kepala Negara, gejolak perekonomian global pada beberapa tahun terakhir membuat pemerintah makin berat untuk mengurangi penduduk miskin. Karena gejolak ekonomi global selalu mendorong laju inflasi karena harga pangan dan energi selalu meningkat. "Saat krisis terjadi, inflasi bakal tinggi dari kenaikan harga pangan dan energi. Ini yang mengganggu penanggulangan kemiskinan. Atas hal-hal tadi maka kita harus melakukan percepatan perluasan pembangunan ekonomi," tambahnya

Namun Presiden SBY mengingatkan, kabinetnya tidak terpana untuk hanya memikirkan soal investasi saja, namun penanggulangan kemiskinan sangat penting. "Kita harus belajar dari pengalaman krisis di 2008. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, pertumbuhan ekonomi saja belum cukup Tapi urusan kemiskinan menjadi agenda penting. Penanggulangan kemiskinan harus berlanjut, ada atau tidak ada krisis," tukas SBY.

BPS juga menyebutkan selama Maret hingga September 2011, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 90 ribu jiwa atau dari 11,05 juta orang pada Maret 2011 menjadi 10,95 juta orang pada September 2011. Sementara di daerah pedesaan berkurang 40.000 jiwa atau dari 18,97 juta orang pada Maret 2011 menjadi 18,94 juta orang pada September 2011).

Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengakui jumlah penduduk miskin yang masih 30 juta orang itu menjadi pekerjaan rumah (PR) yang berat dan harus cepat dituntaskan ditengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat. "Sebanyak 30 juta orang miskin dan 30 juta orang hampir miskin ini harus dijaga. Ini menjadi PR pemerintah khusus ditengah pertumbuhan ekonomi yang meningkat," ucapnya.

Menurut Chairul, yang mesti dilakukan pemerintah dalam memberantas kemiskinan adalah bagaimana memberantas korupsi. Korupsi masih menjadi penyakit di Indonesia. "Pemberantasan korupsi penting dan menjadi kunci," paparnya

Yang jelas, CT-panggilan akrabnya, selain meningkatkan penyerapan dana APBN dan memastikan realisasi proyek dan pembangunan infrastruktur. "Terakhir bagaimana memperbaiki ikim investasi dan daya saing melalui reformasi birokrasi yang tepat," tegasnya.

Sebelumnya, anggota Komisi XI Arif Budimanta menilai indikator makro ekonomi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi RI hingga 6,5% pada 2011 ternyata belum bisa menyelesaikan persoalan kemiskina. Pemerintah sangat kesulitan hanya mengurangi 1% tingkat kemiskinan saja. "Ada kemiskinan kronis ditengah baiknya angka pertumbuhan ekonomi makro,” katanya

Menurut Arif, kemiskinan di Indonesia disebabkan karena memusatnya pertumbuhan di kota dan tidak berhasilnya program kedaulatan pangan dan pendidikan. Dikatakan Arif, hal ini terihat dari pengeluaran penduduk miskin yang 73% di dominasi oleh bahan makanan dimana rata-rata 30% disumbangkan oleh pengeluaran untuk membeli beras.

Apabila produktivitas pangan dan industrialisasi perdesaan digalakkan, Arif optimistis kemiskinan di perdesaan akan menurun secara signifikan. "Saat ini populasi penduduk miskin dua kali lipat banyak di desa dimana mencapai 18,97 juta dibandingkan di kota yang berjumlah 10,59 juta," pungkasnya. **cahyo